[FanFic] Kamen Rider Blitzer (Episode 14: Kasus Kematian Yang Aneh)

Episode 14: Kasus Kematian Yang Aneh

Zippon Hospital Kota Zippon - Jepang, Kamis 13 Februari 2020, pukul 10:00.

Jeth yang beberapa bagian tubuhnya terbalut perban terbangun dan melihat Ariel tengah duduk di bangku dekat samping kasur tempat ia terbaring.

"Kau?" Jeth mengernyitkan dahinya. "Dimana aku?" tanyanya sambil mengedarkan pandangan ke sekelilingnya.

"Kau ada di rumah sakit. Aku menemukanmu tergeletak di jalan dan membawamu kesini. Lukamu cukup parah. Syukurlah kata dokter kau masih bisa bertahan," jawab Ariel.

"Kenapa kau menolongku?"

Ariel tersenyum miring. "Jika aku tidak menolongmu, maka kita tidak akan bisa bertarung lagi."

"Begitu ya?" ucap Jeth sambil tersenyum.

"Ngomong-ngomong, kenapa kau bisa luka separah ini?"

"Aku bertarung dengan orang yang sangat kuat hingga jadi seperti ini. Terimakasih kau sudah menolongku."

"Sama-sama."

"Ng ... Jagoan Anti Bully, apa aku boleh bertanya sesuatu?"

Ariel menautkan alisnya. "Sebelumnya, apa aku juga boleh bertanya sesuatu?"

"Boleh. Apa itu?"

"Kenapa ketika pertama kali kita bertemu, kau berniat membunuhku? Dan darimana kau tahu julukanku yaitu Jagoan Anti Bully? Padahal kita tidak saling kenal dan tidak pernah ada masalah sebelumnya."

"Untuk itu, maaf, aku tidak bisa menjawabnya."

Ariel menggeleng pelan. "Baiklah. Lalu apa yang ingin kau tanyakan padaku?"

"Ng ... Pertanyaan ini masih mengganjal di pikiranku. Kalau boleh tahu, siapa nama ayahmu?" tanya Jeth.

"Kenapa kau menanyakan hal itu?" Dahi Ariel mengernyit.

"Aku hanya ingin tahu saja."

"Baik. Nama ayahku Ren Matsuyama."

Jeth tersentak. "Apa??? Lalu, apa ayahmu seorang professor??"

Kali ini giliran Ariel lah yang tersentak. "Darimana kau tahu??"

"Dari ayahku. Katanya alat yang kugunakan untuk berubah menjadi Kamen Rider dan alat penunjang lainnya yang dulunya milik ayahku adalah buatannya."

Ariel mengangguk pelan. "Ngomong-ngomong, apa kau punya foto Professor Ren Matsuyama?"

"Ada," ucap Jeth. "Kebetulan aku menyimpannya di memory handphoneku." Kemudian ia mengeluarkan smartphonenya dari saku belakang sebelah kiri celananya, mencari foto di folder, dan setelah ketemu ia memperlihatkannya pada Ariel."Ini! Maaf agak buram, soalnya foto itu kufoto lagi dengan handphone."

Mata Ariel langsung membelalak begitu ia melihat foto tersebut. Di foto itu, ayahnya berdiri di samping kiri, di samping kanan ayah Jeth, dan di tengah Jeth yang masih kecil. Meski gambarnya agak buram, Ariel sangat mengenali wajah ayahnya. "I-ini benar ayahku."

"Apa???" Jeth terkejut. "Lalu, apa alat yang kau gunakan untuk berubah menjadi Kamen Rider adalah buatan ayahmu?"

Ariel mengangguk.

"Tapi ayahmu tidak pernah memberitahu kalau dia mempunyai alat untuk berubah menjadi Kamen Rider selain alat peninggalan ayahku," ucap Jeth.

"Entahlah." Ariel mengangkat bahunya. "Aku malah dari awal tidak diberitahu apa-apa, tahu-tahu aku diberikan alat untuk berubah menjadi Kamen Rider dan alat penunjang lainnya oleh guru beladiriku sebelum mati karena dibunuh makhluk bernama Mechaster untuk meneruskan perjuangannya sebagai Kamen Rider sekaligus membalas dendam pada Mechaster pembunuh orangtuaku. Aku baru tahu kalau semua alat yang menunjang aksiku sebagai Kamen Rider adalah buatan ayahku dari buku yang diberikan guru beladiriku itu."

"Ayahmu dibunuh Mechaster???" Jeth tersentak. "Sama dengan ayahku. Itulah kenapa aku dendam dengan makhluk itu."

"Kok bisa kebetulan begini ya??" Dahi Ariel mengernyit.

"Mungkin ini semua kehendak Yang Maha Kuasa," kata Jeth. "Tapi, apapun itu, aku berterimakasih pada ayahmu karena telah menciptakan alat bernama Dhroidrive yang kugunakan untuk bersenang-senang dengan membunuh para Mechaster disamping membalas dendam atas kematian ayahku."

"Bersenang-senang katamu?"

"Ya. Bagiku, membunuh Mechaster adalah hal yang menyenangkan. Itu kujadikan sebagai salah satu hobiku."

"Terserah kau saja lah."

Jeth lalu mengulurkan tangannya untuk bersalaman dengan Ariel.

Ariel memandang Jeth sebentar, kemudian berkata, "Apa ini??"

"Mulai hari ini kita akan bekerjasama membasmi Mechaster! " jawab Jeth. "Tapi kita berdua akan tetap berduel. Setuju?"

Ariel mengangguk. Ia langsung menyambut tangan Jeth dan bersalaman dengannya. "Baik. Aku setuju!"

Kota Zippon - Jepang, Selasa 18 Februari 2020, pukul 08:00.

Sebuah cafe terbuka di pinggir jalan dikacaukan oleh Mechaster bertubuh manusia - kuda nil. Makhluk itu membunuh setiap orang yang ditemuinya.

"Aku akan membunuh kalian semua, agar rangkingku dalam Killer Board naik!" ucap makhluk bernama Hippoper tersebut sambil terus menyerang orang-orang yang tengah berlari menyelamatkan diri.

Di saat seperti itu, Godai Yusuke muncul dan menyelamatkan orang-orang yang berlarian dari serangan Hippoper lalu memukul makhluk itu menggunakan potongan besi. Namun, besi tersebut patah begitu membentur tubuh Hippoper. Hippoper yang marah segera menendang perut Godai hingga terpental jauh ke belakang dan jatuh ke tanah.

Dengan menahan rasa sakit di tubuhnya, Godai berusaha bangkit, lalu kedua tapak tangannya ia tempelkan di depan pinggang sebelah kanan dan kiri. Dalam sekejap, di pinggangnya muncul sabuk perak dengan beberapa kotak warna-warni di sebelah kanan dan kiri permukaan depannya yang dekat dengan permata berwarna kehitaman di tengah-tengah depan sabuk tersebut.

Godai kemudian mengangkat telapak tangannya ke arah kiri badannya, sementara tangan kirinya ia kepalkan di pinggang sebelah kiri. Lalu ia memutar tangan kanannya tersebut ke arah kanan badannya dan berteriak, "Henshin!!" Seraya menaruh tangan kanannya di atas tangan kirinya yang mengepal.

Permata kehitaman pada sabuk Godai pun berubah menjadi warna merah. Setelah Godai mengayunkan kedua tangannya ke bawah, tubuhnya langsung dilapisi suit hitam dan armor merah, kepalanya dilapisi helm hitam dengan lensa mata bulat besar berwarna merah serta tanduk emas yang mirip tanduk kumbang capit. Godai telah berubah menjadi Kamen Rider Kuuga.

Hippoper menggeram, ia mengejar seorang ibu-ibu berbaju merah dengan rok hitam yang tengah berlari sambil menggandeng anak laki-lakinya yang masih balita. Tapi, anaknya tiba-tiba tersandung dan jatuh. Si ibu panik, sementara Hippoper jaraknya sudah dekat dengan anak tersebut. Tanpa membuang waktu, Hippoper langsung mengayunkan kaki kanannya yang besar untuk menginjak tubuh anak itu.

"HENTIKAN!!!" teriak si ibu-ibu.

Akan tetapi, Hippoper gagal menginjak anak itu. Kakinya ditahan oleh Kamen Rider Kuuga dengan punggung tangan kirinya.

"Cepat pergi!!!" perintah Kuuga pada si ibu-ibu.

Ibu-ibu itu mengangguk. Ia segera menghampiri lalu menggendong anaknya dan berlari dari sana.

Kuuga langsung menggunakan kaki kirinya untuk menyelengkat kaki Hippoper. Hippoper pun terjatuh. Kuuga langsung berdiri dan menginjak tubuh Hippoper. Tapi, Hippoper berguling ke samping dan serangan Kuuga luput.

"Boleh juga kau," ucap Hippoper sambil berdiri.

Kuuga mengepalkan kedua tangannya dan maju menyerang Hippoper. Hippoper menyambut serangan Kuuga yang berupa pukulan keras, ia mengadu pukulan itu. Setelah beradu pukulan, mereka pun saling bertukar serangan fisik berupa pukulan serta tendangan dan nampak imbang. Namun, hal itu tidak berlangsung terlalu lama, Hippoper yang tak sempat menghindar terkena pukulan Kuuga persis di dagunya, kemudian Kuuga menendang perut Hippoper hingga terlempar beberapa langkah.

Kemudian Kuuga mengambil kuda-kuda, setelah itu meloncat ke atas, bersalto satu kali, dan meluncur ke arah Hippoper dengan posisi menendang menggunakan kaki kanan.

"Woryaaaaa!!!" teriak Kuuga selagi meluncur dengan telapak kaki yang diselimuti api.

Akan tetapi, api di telapak kaki Kuuga tiba-tiba menghilang dan tubuhnya kembali ke wujud manusia lalu terjatuh.

"Ada apa ini??" tanya Godai. Ia lalu berdiri dan menempelkan kedua telapak tangannya di kanan dan kiri depan pinggangnya.

Tapi, tidak terjadi apapun seperti yang terjadi di awal perubahannya menjadi Kuuga.

Godai mencobanya sekali lagi, tapi tetap tidak terjadi apa-apa.

"Kenapa ini???" ucap Godai bingung. Ia mencoba gerakan itu sekali lagi, namun tetap tak terjadi apapun. Tanpa wujud Kuuga-nya ia tak akan mampu melawan Hippoper. Ia pun terpaksa berlari dari tempat itu.

Kira-kira begitulah cerita Godai kemarin. Ia menceritakannya pada Ariel yang sedang santai sambil minum jus alpukat spesial di kedai milik Godai bernama 'Smile Cafe' siang ini.

"Jadi begitu ya?" Ariel pelan-pelan mengaduk-aduk minumannya dengan sedotan berwarna merah. "Kau sendiri saja yang mengalaminya tidak tahu kenapa kekuatan Kuuga-mu menghilang, bagaimana aku."

Godai menghela napas panjang. "Jika tidak memiliki kekuatan Kuuga, aku tidak bisa melindungi orang-orang dari serangan para monster yang masih ada. Bagaimana ini?"

"Kan masih ada aku," kata Ariel dingin. "Monster apapun itu, akan kuhadapi! Karena mereka dan Mechaster itu sama saja."

"Iya sih," ucap Godai. Meski begitu, wajahnya tampak lesu.

Tiba-tiba, berita di televisi layar datar yang menempel di salah satu tembok di kedai tersebut menarik perhatian mereka berdua. Beritanya tentang anak perempuan SMU berusia delapan belas tahun yang mati secara misterius dari tadi pagi dan korban terus bertambah hingga siang ini. Menurut polisi, anak perempuan yang mati semuanya berusia delapan belas tahun dan berulang tahun pada hari yang sama yakni hari Rabu. Polisi masih mengusut kasus ini hingga menemukan motif kematian tersebut.

"Motif kematian yang aneh," ucap Godai. "Hampir sama seperti motif kematian orang-orang yang dibunuh para Grongi yang dulu pernah kuhadapi? Jangan-jangan ..."

"Apa?" sergah Ariel.

"Para gadis itu mati dibunuh, dan Pembunuhnya bukan manusia biasa, tapi orang yang sedang menuntut ilmu hitam. Atau bisa jadi monster," kata Godai.

"Lalu jika itu ulah monster apa yang akan kau lakukan? Kekuatan Kuuga-mu saja hilang," ucap Ariel.

"Bukan aku, tapi kau!"

Ariel mengernyitkan dahinya. "Maksudmu??"

"Jika itu ulah monster, kau yang akan melawannya!"

"Lalu kau sendiri??"

"Aku akan melakukan apa yang bisa aku lakukan. Nanti kita akan coba memecahkan kasus itu!"

"Baiklah," balas Ariel dengan nada malas. "Semoga saja memang benar ulah monster."

Sementara itu, di lain pihak, tepatnya di sebuah jalanan sepi, seorang pria paruh baya berbaju kaos biru bergambar lumba-lumba dan bercelana jeans tiga perempat sedang mengejar-ngejar seorang gadis berambut bondol, berbaju kaos biru yang dibalut rompi hitam dan memakai rok mini warna hitam pula. Pria yang mengejar itu berkulit cokelat, beralis tipis, bermata bulat, berhidung pipih, berbibir tebal, dan berdaun telinga besar. Wajahnya yang bulat dihiasi rambut panjang lurus serta bibirnya dihiasi kumis tebal. Pria itu kemudian mengangkat telapak tangannya ke depan begitu jaraknya dan si gadis sudah cukup dekat, setelah itu menyentakkannya. Telapak tangan itu langsung dilapisi cahaya hitam yang memanjang dan menempel pada ubun-ubun si gadis.

Si gadis pun berteriak kesakitan. Cahaya hitam itu seolah menyedot sesuatu dari ubun-ubun si gadis. Tak lama, cahaya hitam di telapak tangan pria itu menghilang, digantikan dengan cahaya putih bundar di telapak tangannya. Bersamaan dengan itu, tubuh si gadis langsung ambruk ke tanah.

Pria itu langsung menggenggam cahaya putih bundar tersebut dan memasukkannya ke dalam botol yang ada di tangan kirinya. Lalu, pria itu pergi dari sana.

Pria itu pergi ke sebuah rumah kecil yang terletak di pinggiran Kota Zippon. Setelah masuk ke dalam rumah, ia pergi ke salah satu ruangan yang mana di dalam ruangan itu terlihat seorang gadis berpakaian 'Seifuku' atau seragam sekolah Jepang yang tertidur di atas kasur ber-sprei putih. Gadis itu berkulit putih, berwajah bundar, beralis tipis, bermata sipit, berhidung serta berbibir kecil, dan kepalanya dihiasi rambut berponi yang panjang sebahu yang bagian sampingnya menutupi kedua telinganya.

"Aoi...," ucap pria itu dengan berlinang air mata. Ia lalu membuka tutup botol yang dibawanya kemudian menempelkan kepala botol itu ke ubun-ubun gadis yang terbaring di kasur tersebut.

Satu persatu, cahaya bundar putih yang ada di dalam botol masuk ke dalam ubun-ubun si gadis bernama Aoi itu. Setelah semuanya masuk ke dalam ubun-ubun Aoi, gadis itu pun perlahan membuka kelopak matanya.

"Aoi?" kata pria tadi sambil tersenyum dengan ekspresi sangat senang. Nama pria itu Ryusuke.

"Ayah ... Aku ..." ucap Aoi. Ia melihat sekelilingnya. "Ternyata di rumah."

Ryusuke berjongkok. Sambil menangis ia berkata, "Aoi... Aku bersumpah akan selalu melindungi dan menjagamu. Maafkan aku karena telah lalai menjagamu."

"Tidak apa-apa, ayah...." Aoi mengangguk, kemudian tersenyum. "Bagiku kau tetap ayah yang terbaik."

Ryusuke tersenyum dan langsung memeluk Aoi. "Terimakasih, anakku."

SMU Kagami, Kota Zippon - Jepang, Rabu 26 Februari 2020, pukul 12:00.

Sekolah itu digegerkan dengan kematian misterius salah satu murid perempuan yang baru menginjak umur delapan belas tahun tadi pagi. Motif kematiannya sama seperti yang ada di berita televisi minggu lalu dan langsung diberitakan di televisi. Pagi dan siang para guru dan kepala sekolah menghimbau agar para murid terutama yang hari ini menginjak usia delapan belas tahun supaya berhati-hati, dan setelah pulang sekolah langsung pulang ke rumah agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.

"Kalian dengar berita di kelas tadi? Bagiku itu hanya bualan," kata seorang gadis berambut pirang kuncir dua yang duduk di bangku cokelat di kantin sekolah pada dua orang teman perempuannya yang juga duduk di bangku yang ada di situ.

Seorang temannya yang berkuncir satu menimpali, "Bagaimana jika itu benar? Selanjutnya adalah giliranmu Kaname, karena hari ini usiamu sudah menginjak delapan belas tahun."

"Itu tidak mungkin!" Kaname tertawa terbahak-bahak. "Kau pikir aku ini anak kecil, Ayumi? Kematian yang dialami gadis-gadis itu hanya kebetulan saja."

"Jangan begitu, Kaname! Kau harus tetap waspada," kata teman Kaname satu lagi yang berambut panjang sepunggung.

"Kau sama saja dengan Ayumi, Mitchy. Sudahlah... Jangan dianggap serius. Lagipula jika itu benar, yang mati aku bukan kalian," ucap Kaname.

"Jika itu benar, aku tidak mau kehilanganmu, sahabatku!" kata Ayumi.

"Aku juga!" timpal Mitchy.

Kaname tersenyum. "Tenang saja, kalian tidak akan kehilangan aku kok."

Sementara itu, di tempat yang sama, Ariel dan Godai menyamar menjadi murid di SMU tersebut untuk menyelidiki kasus kematian ganjil yang mereka tonton di televisi minggu lalu dan juga hari ini.

"Kau yakin ada anak yang akan mati lagi di sekolah ini? Apakah ada gadis lagi yang umur dan hari ulang tahunnya sama seperti korban di berita tv tadi pagi?" kata Ariel yang berjalan di samping Godai sambil memangku kedua tangannya di dada.

"Bisa saja kan?" ucap Godai. "Tidak ada salahnya kita selidiki di sini dulu. Kalau tidak ketemu kita cari di tempat lain."

"Baiklah. Ngomong-ngomong, kau terlihat terlalu tua sebagai anak SMU," kata Ariel.

Godai tertawa kecil. "Anak SMU juga ada yang tampangnya tua, jadi tak masalah."

Setelah agak lama berjalan, mereka berdua bertanya pada setiap murid yang mereka temui siapa gadis yang berulang tahun yang ke delapan belas hari ini? Akhirnya, mereka mendapat petunjuk bahwa Kaname anak kelas 3C lah yang berulang tahun kedelepan belas hari ini.

Tak terasa waktu berlalu begitu cepat. Jam istirahat pun tiba. Di belakang sekolah, Kaname tengah merayakan ulang tahun bersama kedua temannya. Tapi, perayaan ulang tahun itu tidak biasa karena ia merayakannya dengan cara membully gadis. Ia memecahkan beberapa telur di kepala gadis berkacamata kuda dan berambut kepang satu itu serta menaburi tepung hingga tubuh dan pakaiannya kotor semua serta bau tubuhnya tak karuan. Salah seorang teman Kaname yakni Ayumi memegangi lilin di atas kepala gadis itu.

"Happy birthday to you!" Mitchy bernyanyi sambil tepuk tangan. "Happy birthday, happy birthday, happy birthday Kaname!!!"

"Semoga aku punya pacar yang tampan!" kata Kaname yang kemudian meniup lilin yang dipegangi Ayumi.

Mitchy pun bertepuk tangan setelahnya.

"Ehm!" tiba-tiba terdengar suara seorang pria di belakang Kaname yang membuat Kaname dan dua orang temannya melihat ke sumber suara itu.

Ternyata orang itu adalah Ryusuke.

"Siapa kau? Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Kaname.

"Hari ini adalah hari kematianmu. Apa permintaan terakhirmu?" kata Ryusuke.

Kaname, Ayumi, dan Mitchy saling pandang, kemudian tertawa terbahak-bahak.

Tiba-tiba, di ubun-ubun Kaname menempel cahaya hitam yang memanjang hingga ke telapak tangan Ryusuke.

Kaname berteriak-teriak kesakitan begitu cahaya hitam tersebut menyedot sesuatu dari tubuhnya.

Melihat hal itu, Ayumi, Mitchy, dan gadis yang mereka bully langsung berlari dari tempat tersebut sambil berteriak ketakutan.

Akan tetapi, pada saat seperti itu, tiba-tiba tubuh Ryusuke mendapat tendangan terbang dari samping yang membuat cahaya hitam yang menempel di ubun-ubun Kaname dan di telapak tangannya menghilang serta ia terguling-guling di tanah.

Kaname yang selamat pun segera berlari dari sana. Di waktu yang hampir bersamaan, Ryusuke kembali bangkit dan melihat siapa yang telah menendangnya. Rupanya yang menendangnya adalah Ariel. Saat itu, Godai datang menghampiri Ariel.

"Kau ... Berani-beraninya kau!" gertak Ryusuke.

"Apa kau Mechaster?" tanya Ariel pada Ryusuke.

"Ah, berisik kau! Aku akan membunuhmu hari ini juga karena telah menghalangiku!" ucap Ryusuke. Ia kemudian mengepalkan kedua tangannya kemudian menghempaskannya ke bawah.

Tubuh Ryusuke pun langsung berubah menjadi sosok yang mirip dengan Kamen Rider Kuuga, hanya saja armor yang melapisi tubuhnya berwarna hitam legam dan lensa mata bulat besarnya berwarna ungu gelap, serta permata di sabuknya juga berwarna hitam legam.

"YAMI KUUGA!" Sabuk Ryusuke mengeluarkan suara berat yang menunjukkan nama sosoknya saat ini. Hal itu membuat Godai dan Ariel terkejut secara bersamaan.

"Ya-yami Kuuga??" Godai mengerutkan dahinya.

"Cepatlah memohon ampun padaku sebelum aku berubah pikiran!" perintah Yami Kuuga.

"Sayangnya, aku adalah orang yang tidak akan mundur setelah mengibarkan bendera pertarungan!" ujar Ariel dengan nada dingin. Ia mengambil Blitzdrive yang ia simpan di balik seragam sekolah yang dikenakannya, menempelkan benda tersebut di depan pinggangnya, dan menekan permata merah bundarnya.

Dari bagian kanan dan kiri Blitzdrive keluar tali sabuk perak bergaris tebal hitam yang melilit pinggang Ariel dan merekat di belakang pinggangnya.

Setelah itu, Ariel mengambil kartu dari dalam Blitzcase kemudian menekuk lengan kanannya yang memegang kartu ke arah kiri badannya sembari berteriak, "Henshin!!" Dan memasukkan kartu itu ke lubang tipis yang ada di permukaan atas Blitzdrive yang melilit pinggangnya.

Permata merah Blitzdrive langsung menyala terang, memancar sejauh 1,5 meter dan membawa hologram berbentuk manusia bertanduk yang secara keseluruhan berwarna merah serta memiliki tonjolan dan lekukan yang membentuk 'sesuatu'. Cahaya tersebut beberapa kali memukuli Yami Kuuga yang berlari ke arah Ariel lalu menendang keras perutnya hingga Yami Kuuga terpental sejauh dua meter ke belakang. Setelah itu, hologram tersebut mundur ke arah Ariel dan melapisi serta terserap ke dalam tubuhnya, lalu mengubahnya menjadi Kamen Rider Blitzer.

Yami Kuuga kembali bangun, kemudian berlari menuju Blitzer. Blitzer yang melihat hal itu pun menyongsongnya. Dengan gerakan bagai kilat Yami Kuuga melesatkan pukulannya ke arah kepala Blitzer. Tapi, Blitzer dengan gesit berkelit memiringkan kepalanya ke samping, namun serangan Yami Kuuga selanjutnya harus membuatnya melompat ke atas untuk menghindar. Tiba-tiba, Yami Kuuga melompat ke atas pula dan menyerang ke arah ke depan dengan sangat cepat. Tentu saja ini mengejutkan Blitzer. Namun dengan gerakan cepat, Blitzer mau tidak mau harus menangkis serangan Yami Kuuga yang berupa tinjuan lurus dan mengirimkan pukulan balasan.

DIEGH!!

Dua kepalan tangan bertenaga beradu di udara. Mereka sama-sama terpental kebelakang akibat beradu tenaga tersebut.

Blitzer dengan mulus menjejakkan kaki di tanah tanpa terpengaruh benturan tenaga tadi. Sedangkan Yami Kuuga agak limbung begitu menjejakan kaki di tanah. ini menunjukkan bahwa tenaga Blitzer sedikit lebih unggul di atas Yami Kuuga.

''Hieeaaaa!!!''

''Hiiaaaaahh!!!''

Dengan teriakan nyaring, mereka berdua melesat dan saling mengirimkan serangan fisik berupa pukulan serta tendangan. Selain itu, mereka juga berusaha menangkis dan mengelak dari setiap serangan yang datang. Jika dilihat, pertarungan mereka seimbang karna belum ada yang terdesak sejauh ini. Sampai akhirnya, Yami Kuuga lengah dan terkena hantaman cepat dan keras dari tinju kanan Blitzer persis di dagunya yang membuat ia terpelanting ke atas. Blitzer yang belum puas lalu menendang keras perut Yami Kuuga hingga ia terlempar jauh dan jatuh serta terguling-guling di tanah.

Yami Kuuga yang terjatuh berusaha bangun dengan susah payah. Saat itu, Blitzer sudah mengenakan Strike Shoes di kaki kanannya.

"POWER!!" Sabuk Blizer bergema begitu permata merahnya di tekan.

Permata merah pada Blitzdrive langsung bersinar terang. Baling-baling di mata kaki Strike Shoes berputar kencang. Blitz Crest serta tiga kotak merah pada Strike Shoes menyala terang. Blitzer berlari beberapa langkah dan langsung melompat tinggi ke atas. Ia lalu bersalto satu kali di udara dan meluncur ke arah Yami Kuuga dengan telapak Strike Shoes yang diselimuti api.

Melihat hal demikian, Yami Kuuga langsung mengeluarkan sebuah granat berwarna biru dan melemparkannya ke depan bawah. Asap putih tebal langsung mengepul di area itu.

Blitzer yang meluncur ke area tersebut tendangannya hanya mengenai asap saja. Tubuh Yami Kuuga menghilang entah kemana. Blitzer yang berlutut di tanah berdiri dan menoleh kesana kemari mencari keberadaan Yami Kuuga. Tapi, Blitzer tidak menemukan apapun, Yami Kuuga bagai hilang ditelan bumi.

To Be Continued

[FanFic] Kamen Rider Blitzer (Episode 13: Kapsul Penyelesai Masalah)

Episode 13: Kapsul Penyelesai Masalah
Kota Zippon - Jepang, Rabu 12 Februari 2020, pukul 14:00.

Di sebuah kedai pinggir jalan, Jito tengah mengobrol dengan Jeth perihal Ariel. Jito lah yang menyuruh Jeth untuk menghajar Ariel dengan bayaran yang mahal. Jeth masih penasaran dengan Ariel, tapi akhir-akhir ini ia sangat sibuk hingga hampir tak ada waktu untuk menghajar Ariel, kalaupun ada dia pakai untuk liburan, itu juga waktunya sangat sedikit. Jito pun memakluminya dan berharap Ariel segera mati, atau minimal pindah kuliah.

"Tenang saja, aku pasti akan menghabisi Ariel! Hanya aku yang boleh membunuhnya!" ucap Jeth.

"Aku senang mendengarnya," balas Jito sambil tersenyum. "Masalah uang itu perihal gampang. Nanti kubayar lebih jika kau berhasil membawa kepala Ariel ke hadapanku."

"Baik, tunggu saja tanggal mainnya!"
=***=
Sementara itu, di salah satu ruangan Mecha Castle, Darker dan Quesier tengah mengobrol perihal senjata pemusnah massal yang gagal didapatkan Darker. Darker bilang kartu itu berhasil direbut oleh Kamen Rider Blitzer ketika mereka tengah bertarung. Quesier tidak setuju Darker menghancurkan seluruh manusia tanpa seijin pemimpin mereka. Akhirnya darker mengerti, bahwa manusia sangat dibutuhkan untuk menyediakan bensin. Mereka boleh membunuh manusia asalkan tidak menghancurkan semua manusia yang ada di bumi. Jika ingin memusnahkan semuanya, harus ada aba-aba dari pemimpin mereka si Mechaster dengan peringkat pertama.

Darker yang menyender di tembok menghela napas, mengangkat kepalanya, lalu memejamkan mata sambil berkata, "Kamen Rider yang ku lawan itu cukup kuat. Aku penasaran ingin melawannya lagi."

"Siapapun dia, kita harus menyingkirkannya!" kata Quesier. "Karena sudah banyak bangsa kita yang dibunuh oleh mereka, para Kamen Rider!"

"Tenang, lain kali aku pasti akan menghancurkannya!"

"Memang seharusnya begitu," ucap Quesier sambil melenggang pergi.

"Mau kemana kau?" tanya Darker, membuat Quesier berhenti.

"Bermain-main dengan manusia," jawab Quesier.

"Bermain-main??"

"Ya."

"Permainan macam apa yang akan kau buat?"

"Ada pokoknya. Yang jelas aku tidak sepertimu." Quesier kemudian melanjutkan langkahnya dan keluar dari ruangan itu meninggalkan Darker yang kesal dengan kata-kata terakhirnya.

Komplek Hanabi, Kota Zippon - Jepang, pukul 15:00.

Fumiko main ke rumah Izumi, tepatnya di kamar Izumi, dan mencicipi brownies buatan Izumi yang bagi Fumiko sangat enak dan membuatnya merem melek. Apalagi sekarang brownies-nya ditambah parutan keju.

"Enaknya...," ucap Fumiko setelah mengunyah brownies buatan Izumi.

Izumi pun tersenyum. "Terimakasih," ucapnya.

"Ng ... Brownies ini boleh kuhabiskan tidak?" tanya Fumiko.

Izumi mengangguk. "Silahkan! Malah aku sangat senang!"

"Asyiiik!!!" kata Fumiko yang kemudian melahap lagi beberapa potong brownies yang ada di piring sekaligus.

Izumi yang melihatnya tertawa kecil. "Hati-hati tersedak."

"Tidak, tenang saja," balas Fumiko dengan mulut penuh.

Setelah Fumiko menghabiskan brownies di mulutnya, Izumi bertanya, "Ng ... Fumiko, Ariel itu bukan asli orang Jepang ya?"

Fumiko menautkan alisnya. "Kau tahu darimana?"

"Namanya tidak seperti orang Jepang kebanyakan."

"Sebetulnya dia itu half. Ibunya orang Yunani yang menetap di Jepang, sementara ayahnya orang Jepang asli. Makanya namanya seperti itu."

"Ooh...." Izumi mengangguk pelan. "Oh iya, ngomong-ngomong, waktu itu katanya kau ingin menceritakan kenapa Ariel menolak pemberian gadis-gadis yang menyukainya, apa kau tidak keberatan menceritakannya sekarang?"

"Oh iya ya! Baik baik, akan aku ceritakan sekarang!"

Fumiko pun mulai bercerita. Fumiko adalah teman Ariel sejak masih TK, tapi ketika SD Fumiko tidak satu sekolah dengan Ariel, dia pindah keluar kota. Barulah setelah menduduki bangku SMA Fumiko kembali ke Zippon dan bersekolah di sekolah yg sama dengan Ariel. Fumiko sangat terkejut melihat perubahan yang terjadi pada diri Ariel, dia sangat pintar, mahir beladiri, dan multitalenta, padahal dulu dia sangat payah dalam segala hal, lemah, dan cengeng. Dia juga disukai banyak gadis karena hal itu dan jadi agak angkuh. Tapi, Ariel bingung memilih siapa gadis yang harus ia jadikan pendamping hidupnya. Akhirnya, ia curhat pada Fumiko. Fumiko bilang pilihlah sesuai kata hati. Akhirnya, Ariel pun memilih Amami.

Sudah satu minggu Ariel berpacaran dengan Amami dan semuanya baik-baik saja. Hingga suatu ketika, Ariel menelepon Amami dan yang mengangkat adalah laki-laki yang mengaku pacar Amami. Ariel pun kaget dan langsung menutup telepon itu. Keesokan harinya, Ariel mengajak jalan Amami dan bertanya apakah Amami punya pacar selain dia? Amami jawab 'tidak'. Lalu Ariel menjelaskan kalau dia menelpon Amami tapi yg mengangkat laki-laki yang mengaku pacar Amami. Tapi Amami menjawab kalau itu adalah saudaranya untuk mengeteas rasa cemburu Ariel. Dan ternyata Ariel sangat cemburu. Amami bilang berarti Ariel sangat sayang padanya. Ariel pun merasa lega.

Satu bulan berlalu, hubungan Ariel dan Amami semakin harmonis. Hingga suatu ketika, Ariel yang sedang berjalan-jalan melihat Amami bersama laki-laki lain tengah bermesraan di sebuah bangku taman. Ariel yang sudah terbakar api cemburu langsung menghampiri mereka. Amami yang hampir dicium oleh laki-laki itu langsung terperanjat oleh kedatangan Ariel. Ariel pun bertanya pada laki-laki itu siapa dia dan kenapa berduaan dengan Amami dan ingin menciumnya? Laki-laki itu menjawab bahwa dia adalah pacar Amami. Ariel pun bilang bahwa Amami adalah pacarnya. Si laki-laki kaget dan bertanya pada Amami apakah itu benar? Amami menjawab 'tidak' dan langsung merangkul laki-laki itu. Ariel yang kecewa dan sangat marah segera pergi dari tempat itu. Dia tak menyangka Amami sosok yang ia kenal sangat baik, sopan, dan jujur, bisa mengkhianatinya.

Esoknya, Ariel langsung pindah sekolah untuk mengobati luka hatinya dan tidak ingin melihat Amami lagi. Begitulah cerita Ariel pada Fumiko. Padahal Ariel sudah membuka hati untuk cinta, tapi pengkhiantan dan kekecewaan lah yang didapatkannya. Sejak saat itu, Ariel tidak ingin mengenal lagi yang namanya cinta. Baginya, semua gadis sama saja. Semua hadiah yang diberikan gadis-gadis yang suka padanya ia buang atau ia berikan pada Fumiko. Tapi, dalam hatinya, Fumiko masih bingung kenapa waktu di rumah sakit tempo hari Ariel menciumnya?

"Ooh... Jadi begitu ya." Izumi manggut-manggut mendengar cerita Fumiko. "Tidak semua wanita seperti itu. Mungkin Amami bukan jodoh Ariel dan Tuhan sedang mempersiapkan yang terbaik untuk Ariel. Mungkin saja orang itu aku!" Ia lalu tersenyum.

Fumiko tersenyum lembut. "Mungkin saja."
=***=
Di tepi danau yang tidak jauh dari Komplek Hanabi, terlihat seorang pria botak berjaket merah tengah duduk sambil memegangi kepalanya dan menangis. Pria itu memiliki wajah bulat, mata kecil, alis tipis, bibir tipis, dan daun telinga kecil.

"Istriku ... Kenapa kau begitu cepat meninggalkan aku padahal anak kita sedang sakit parah? Hari ini aku dipecat dari pekerjaanku. Jika kau masih ada mungkin masalah keuanganku bisa terbantu," keluh pria itu. Ia lalu menatap langit dan berteriak, "TUHAN!!! TUNJUKKANLAH KEADILAN-MU! TUNJUKKANLAH KUASA-MU, TUHAN!!!"

"Apakah kau butuh bantuan?" ucap seorang wanita dari belakang pria itu.

Si pria pun menoleh ke belakang. "Siapa kau?"

"Aku Quesier," jawab wanita yang ternyata adalah Quesier. "Jika kau butuh bantuan, aku akan membantumu."

Dahi pria itu mengernyit. "Apa yang kau bisa?" tanyanya.

Quesier kemudian berjalan menghampiri si pria. "Sebelumnya, siapa namamu?"

"Kaizu Hanaya. Panggil saja Kaizu," jawab pria itu.

Quesier kemudian mengeluarkan plastik kecil berisi sebuah 'kapsul' warna merah dari dalam sakunya dan menunjukkannya pada Kaizu. "Aku ingin menawarkan ini, Kaizu!"

"Untuk apa ini??" Dahi Kaizu berkerut bingung. "Jangan mempermainkanku, ya?!" gertaknya kemudian.

Quesier menggeleng. "Siapa yang mempermainkanmu?! Ini kapsul penyelesai semua masalah. Jika diminum akan memberikan efek tenang, dan apapun yang kau inginkan akan terwujud."

Kaizu tersentak. "A-apa???"

"Jika kau berminat, kau bisa membelinya dariku seharga satu juta Yen," ucap Quesier sambil tersenyum.

Kaizu terkejut. "Mahal sekali. Aku saja tidak punya uang sepeser pun."

Quesier berpikir sebentar, sebelum akhirnya menyerahkan plastik berisi kapsul tersebut pada Kaizu. "Baiklah. Untukmu aku berikan gratis!"

Kaizu mengambil plastik itu dan berkata, "Tapi kau tidak berbohong, kan?"

"Jika aku berbohong, aku akan memberikanmu uang seharga kapsul itu."

"Baiklah kalau begitu, akan kucoba dulu!"

Quesier lalu memberikan kartu nama berisi nomor ponselnya pada Kaizu. "Jika tidak berhasil, kau bisa menghubungiku."

"Baik!" ucap Kaizu sambil menerima kartu nama tersebut.

Setelah itu, Quesier pergi dari sana.

Usai menatap kepergian Quesier, Kaizu pun langsung mengambil kapsul yang telah diterimanya dari dalam plastik dan menelannya.

Beberapa detik kemudian, Kaizu merasa tubuhnya sangat enteng dan pikirannya 'plong'. Semua hal yang membuatnya depresi langsung lenyap dari kepalanya.

Tak lama setelah itu, muncul suara berat yang berkata, "Katakan apa keinginanmu?"

Kaizu terkejut. "Siapa kau?" Ia menoleh kesana kemari mencari sumber suara tersebut.

"Kau tak usah bingung!" ucap suara berat itu. "Sebutkan saja apa keinginanmu!"

Kaizu berpikir sejenak. 'Jangan-jangan apa yang dibilang wanita tadi benar,' batinnya. "Apa ya ... Hmm ... Baiklah, jika kau memang bisa mengabulkannya, aku ingin isi ATM-ku memiliki nominal uang yang tak terbatas!" ucapnya.

"Permintaan dikabulkan!" kata suara itu.

Dari dalam saku belakang sebelah kanan celana Kaizu langsung melompat sebuah dompet hijau. Dompet tersebut melayang dan langsung diselimuti cahaya hitam yang membuat Kaizu terheran-heran.

Ketika cahaya itu menghilang, suara berat tadi berkata, "Sekarang, cek lah ATM-mu di bank!"

"Baik!" Angguk Kaizu yang segera mengambil dompetnya yang melayang dan berlari dari situ menuju bank terdekat.

Begitu sampai di bank, Kaizu segera mengecek saldo ATM-nya. Matanya langsung terbelalak ketika melihat angka 'sembilan' berderet dengan jumlah banyak pada saldo ATM-nya. Kaizu kemudian mengambil uang pada ATM-nya sebesar seratus juta Yen. Namun, nominal uang pada saldo ATM-nya tidak berkurang. Tentu saja Kaizu terkejut dan terheran-heran. Tapi dia sangat senang karena Quesier tidak berbohong. Dengan uang yang dimilikinya, Kaizu membawa anaknya ke rumah sakit untuk dirawat. Selain itu, Kaizu juga membeli apapun yang dibutuhkannya.

"Akhirnya, aku bisa mendapatkan apapun yang aku inginkan!" ucap Kaizu yang sedang santai di depan rumahnya.

Tiba-tiba, tubuh Kaizu serasa panas seperti terbakar.

"Ke-kenapa ini???" ucap Kaizu kebingungan. Kemudian ia terjatuh lalu mengerang-ngerang di lantai. Makin lama tubuhnya makin panas hingga akhirnya api muncul dari tubuhnya dan membakarnya hingga hangus. Di saat seperti itu, suara misterius dengan nada berat muncul.

"Itu adalah konsekuensi yang harus kau terima telah karena meminta bantuanku," ucap suara tersebut ketika tubuh Kaizu perlahan menjadi abu.

Bersamaan dengan itu, di lain pihak, jumlah orang yang dibunuh dalam Killer Board milik Quesier bertambah. Ia yang duduk di bangku taman tersenyum dan berkata, "Cara membunuh yang mengasyikkan."
=***=
Malam menjemput. Dua orang pria berdandan parlente memberhentikan motor mereka di lahan parkir sebuah Night Club. Yang satu berwajah oval dengan tindikan di kedua telinga dan hidungnya, serta berkumis tebal. Lalu yang satu lagi berambut 'punk' dan berwajah bulat. Mereka berdua masuk ke dalam Night Club itu. Di dalam, mereka melihat seorang pria gendut paruh baya tengah duduk di sofa putih sambil minum minuman keras dengan ditemani gadis-gadis cantik berpakaian seksi.

Seorang wanita berpakaian minim nan seksi berjalan ke arah dua orang pria itu lalu berkata, "Maaf, tuan. Seluruh tempat sudah dipesan oleh pria itu." Tunjuknya pada si pria gendut.

"Apa??" kata si pria bertindik dan berkumis tebal.

"Ah! Padahal hari ini kita ingin bersenang-senang," keluh si pria berambut punk. Setelah itu, dia dan temannya pergi dari sana dengan wajah lesu sekaligus kesal.

Mereka berdua lalu duduk di bangku dekat pinggiran jalan sepi yang tidak jauh dari Night Club tadi.

"Benar-benar sial orang itu!" kata si pria berkumis tebal. "Mana Night Club yang dekat cuma di situ! Sial!"

Si pria berambut punk mengangguk. "Kalau seandainya kita mengacak-acak tempat itu, kita bisa berakhir di jeruji besi."

Pria berkumis mengangkat kedua bahunya. "Entahlah." Setelah itu ia menghela napas.

Tiba-tiba, Quesier keluar dari semak-semak dan berkata, "Apa kalian butuh bantuanku?"

Si pria berkumis dan berambut punk itu langsung menengok ke belakang.

"Siapa kau? Bantuan apa?" tanya si pria berambut punk.

"Aku Quesier," jawab Quesier. Ia lalu mengeluarkan dua buah plastik kecil yang masing-masing berisi sebuah kapsul merah.

Si kumis dan si rambut punk mengernyitkan dahinya.

"Jangan coba-coba mempermainkan kami ya!" gertak si kumis.

"Mempermainkan kalian?" kata Quesier. "Kapsul itu jika ditelan bisa menyelesaikan masalah apapun. Dari awal aku memperhatikan kalian yang sedang mengeluh dan berniat ingin membantu kalian."

"Mana bisa kapsul menyelesaikan masalah?!" ucap si kumis.

"Tunggu dulu, Takao," sergah si rambut punk. "Kita coba dulu saja. Jika dia berbohong, kita habisi dia!"

"Baik, Kai," kata si kumis yang diketahui bernama Takao.

"Baiklah, berikan kapsulnya!" perintah Kai sambil mengadahkan tangan pada Quesier.

"Ini tidak gratis!" kata Quesier. "Kau harus membelinya seharga satu juta Yen."

Kai dan Takao terkejut, melongo, dan saling pandang.

"Satu juta Yen hanya untuk kapsul yang kita belum tahu betul atau tidak tahu bisa benar-benar menyelesaikan masalah atau tidak?" kata Takao.

Quesier lalu mengeluarkan kartu namanya dan memberikannya pada Takao. "Jika kapsulnya tidak berefek, kau bisa menghubungiku. Di sana ada nomor rekeningku jika kalian ingin membayarnya lewat ATM. Garansi uang kembali!"

"Baiklah, aku bayar lewat cek saja, kebetulan aku membawanya," ucap Kai yang kemudian merogoh saku belakang celana serta mengambil cek serta pena warna hitam. Ia lalu menulis jumlah nominal yang diinginkan Quesier dan memberikan cek itu pada Quesier.

"Kau hanya membeli satu?" tanya Quesier setelah menerima cek yang hanya berisi satu juta Yen itu.

Kai mengangguk. "Aku cuma punya uang segitu hari ini, dan temanku tidak memiliki uang sama sekali. Sisa uangku juga tidak cukup untuk membeli dua kapsul."

"Baiklah kalau begitu," ucap Quesier. "Aku pergi dulu. Sampai jumpa!" Ia pun berlalu dari tempat tersebut.

Kai memandang kapsul itu sebentar, sebelum akhirnya menelan kapsul tersebut.

Beberapa detik setelah kapsul ditelan, tubuh Kai langsung terasa enteng seperti melayang dan pikirannya plong.

"Apa kapsulnya sudah bereaksi?" tanya Takao ketika melihat Kai senyum-senyum sendiri.

"Sepertinya begitu," balas Kai.

Tiba-tiba, suara berat dan bergema muncul. "Hai anak muda, sebutkan permintaanmu!"

Kai dan Takao langsung menengok kesana kemari mencari asal suara itu.

"Jangan bingung, anak muda," kata suara tersebut.

"Siapa kau?" tanya Kai.

"Aku adalah sang pengabul keinginan yang berasal dari kapsul yang kau telan," jawab suara itu.

"Pengabul keinginan? Rupanya apa yang dibilang wanita tadi benar," kata Kai.

"Betul, anak muda," balas suara itu. "Sekarang, mintalah apapun yang kau inginkan padaku! Hanya yang menelan kapsul yang boleh memintanya."

Kai mengetuk-ngetuk dagu dengan jari telunjuk kanannya dan berpikir.

"Mintalah dengan bijak, Kai!" ujar Takao.

"Baiklah wahai suara misterius, aku ingin memiliki Night Club super mewah dan aku bebas berpesta pora di sana!" kata Kai.

"Permintaan dikabulkan," ucap suara berat tersebut.

Tak lama, di hadapan Kai dan Takao muncul cahaya hitam besar. Cahaya tersebut langsung berubah menjadi sebuah bangunan yang sangat besar menyerupai rumah dengan lampu kelap-kelip di beberapa bagian dindingnya. Kai dan Takao terkejut melihatnya.

"A-apa itu??" ujar Takao.

Kai mengerutkan keningnya. "Sepertinya Night Club. Ayo coba kita kesana!"

Takao mengangguk dan mengikuti Kai yang berjalan menghampiri bangunan itu.

"Kai Night Club?" Mata Kai membelalak begitu melihat plang bertuliskan 'Kai Night Club' menempel di atas pintu masuk bangunan tersebut.

"Apa maksudnya ini? Apa keinginanmu sudah terkabul, Kai?" tanya Takao yang tak kalah kagetnya dengan Kai.

"Terkabul atau tidaknya akan lebih baik jika kita mengeceknya ke dalam!" ucap Kai yang kemudian berjalan lagi, diikuti oleh Takao.

Begitu sampai di depan pintu, dua orang berpakaian serba hitam yang berdiri di depan pintu langsung membungkuk memberi hormat, membuat Kai dan Takao terheran. Dan, ketika sampai di dalam, seorang gadis berpakaian minim serba hitam dengan hiasan telinga kelinci di kepalanya membungkuk memberi hormat pada Kai.

"Selamat malam, Tuan Kai... Apa anda hari ini ingin memakai Night Club ini untuk berpesta?" kata gadis itu setelah selesai membungkuk.

Kai dan Takao terkejut dan saling pandang.

"Kenapa, Tuan Kai? Night Club ini kan milik anda," kata gadis tadi.

Kai membelalak. "Mi-milikku???"

"Ya!" Si gadis mengangguk. "Kau bebas berpesta pora di sini kapanpun kau mau. Gratis!"

Takao tersenyum dan memandang Kai. "Sepertinya keinginanmu benar-benar terkabul."

"Kalau begitu kapsul itu benar-benar bisa menyelesaikan masalah!" ujar Kai. Ia lalu memandang gadis tadi. "Baiklah, aku ingin memesan semua tempat untuk pesta pribadiku dan temanku!"

Si gadis mengangguk. "Baik, Tuan!"

Setelah itu si gadis berbicara sepatah dua patah kata dengan seorang pria berpakaian parlente serba hitam. Kemudian, dengan bahasa isyarat si gadis menyuruh Kai dan Takao duduk di sofa merah nan besar yang ada di sana. Semua orang yang tengah menikmati makanan serta minuman, berjoget, dan lain sebagainya di tempat itu disuruh pergi karena semua tempat akan dipakai untuk pesta pribadi Kai. Semua orang kecuali para pelayan, DJ, bartender, dan wanita penghibur pun pergi dari Night Club tersebut. Setelah itu, pesta dimulai. Kai dan Takao merokok sambil minum minuman keras dengan ditemani gadis-gadis cantik dan seksi yang merupakan wanita penghibur di sana. Mereka juga berjoget ria ditemani musik DJ nan apik. Mereka benar-benar menggunakan tempat itu untuk bersenang-senang.

Di saat seperti itu, Takao mendadak ingin buang air kecil. Setelah izin pada Kai, ia pun pergi ke kamar mandi, meninggalkan Kai yang tengah mabuk dan ditemani para gadis.

Begitu Takao keluar dari kamar mandi, hal yang mengejutkan terjadi. Night Club tersebut menghilang, digantikan oleh hutan rimbun. Tentu saja hal itu membuat Takao terheran-heran. Dan, yang tak kalah mengejutkan lagi, Takao melihat Kai berguling-guling dan mengerang-erang kesakitan di tanah dengan tubuh diselimuti api. Dengan panik, Takao pun menghampiri Kai dan berusaha memadamkan api yang menyelimuti tubuh Kai dengan jas-nya. Tapi, api itu tak kunjung padam. Api tersebut terus membakar tubuh Kai hingga menjadi abu.

"Itu adalah konsekuensi yang harus kau terima karena telah meminta bantuan dariku!" ucap suara berat misterius yang tiba-tiba muncul. Suara tersebut sangat dikenali Takao.

"Hey, apa maksudmu, hah?" teriak Takao. Tapi, suara itu tidak muncul lagi. Akhirnya, Takao pun berteriak keras memanggil nama Kai. Teriakannya memenuhi seisi hutan.
=***=
Keesokan harinya, di Mecha Castle, tepatnya di sebuah kamar, Quesier tengah menerima telepon dari seseorang. Orang itu berkata kalau ia ingin memesan kapsul yang dibeli oleh anak buahnya yang waktu itu Quesier temui di pinggir jalan dekat hutan. Quesier pun bertanya darimana ia tahu nomor handphonenya, orang itu menjawab dari anak buahnya sebelum kapsul itu dipakai oleh anak buahnya itu sebelum si anak buah hilang entah kemana. Quesier pun menyanggupi permintaan si penelepon, dan hari ini juga ia akan berangkat ke alamat yang diberikan si penelepon. Setelah itu, telepon ditutup.

Quesier pergi ke sebuah taman, tempat dimana ia akan bertransaksi dengan orang yang meneleponnya. Begitu sampai di tempat tujuan, Quesier bertemu dengan seorang pemuda yang tak lain adalah 'Jeth Higashi'. Mereka berdua pun langsung melakukan transaksi.

"Jadi, ingin beli berapa butir?" tanya Quesier.

"Aku ..." kata Jeth. Ia langsung menendang perut Quesier dengan cepat hingga terlempar beberapa langkah ke belakang. "Ingin nyawamu!" sambungnya.

"Apa maksudmu??" tanya Quesier sambil berusaha bangkit.

"Kau telah membunuh salah satu anak buahku dengan kapsulmu. Untungnya satu lagi masih hidup dan menceritakan semuanya padaku, termasuk memberikan kartu namamu." Jeth menerangkan.

Quesier tersenyum miring. "Khu. Khu. Khuhahahahaha... Khahahahaha... Kalau kau ingin nyawaku, ambillah kalau bisa!"

Jeth memasang kuda-kuda sebentar, kemudian berlari dan meloncat ke arah Quesier dengan posisi menendang menggunakan telapak kaki kanan.

Namun, tendangan Jeth berhasil dihindari oleh Quesier dengan menggeser tubuhnya ke samping.

Jeth kemudian merangsek ke arah Quesier. Begitu jaraknya sudah dekat, ia melancarkan pukulan ke arah wajah Quesier.

Akan tetapi, Quesier berhasil menangkis pukulan tersebut dengan punggung tangan kirinya. Lalu tangan kanannya meninju dada Jeth beberapa kali, sebelum akhirnya menendang dada Jeth dengan tendangan lurus kaki kanannya hingga membuat Jeth terlempar ke belakang dan jatuh ke tanah.

Quesier lalu mengangkat telapak tangan kanannya. Tak lama kemudian, muncul dua buah rantai di telapak tangannya. Kedua rantai itu langsung Quesier lemparkan ke tanah.

Kedua rantai tersebut kemudian menjelma menjadi dua sosok 'rider'. Yang satu berpakaian ketat hitam yang dilapisi lempengan baja putih pada bagian-bagian tangan serta kakinya, sementara dadanya dilapisi baja berwarna abu-abu, pundaknya dilapisi baja berwarna abu-abu pula dengan ujung sedikit lancip, punggungnya dilapisi baja berwarna hitam, helmnya juga berwarna hitam dengan lensa mata keunguan dan ada baja berpola seperti tanda silang di permukaan depan helmnya, di depan sabuknya menempel sebuah ponsel flip dengan lambang bulat yang ditiban tanda silang, tidak ketinggalan garis-garis kuning keemasan menghiasi sekujur tubuhnya, tangan kanannya memegang sebuah pedang laser yang bilahnya berwarna kuning keemasan dengan gagang berbentuk tanda silang, pedang itu ia genggam dengan posisi bilah menghadap ke bawah, dia adalah 'Kamen Rider Kaixa'. Sedangkan yang satu lagi tangannya terselimuti sarung tangan biru, sekujur tubuhnya dilapisi pakaian ketat berwarna biru navy, di bagian dada dan bahunya terpasang armor baja warna putih metalik, punggung
tangan serta lutut lalu betis dan sepatunya juga ditutupi beberapa lembar lempengan baja putih metalik pula, di pinggangnya melingkar sebuah sabuk dengan kepala berbentuk kotak dan berlambang waru yang sebelah kirinya menggantung sebilah
pedang berwarna
dominan biru-perak yang dihiasi beberapa garis berwarna merah dan emas, helm bermotif kumbang atlas menutupi kepalanya, dia adalah 'Kamen Rider Blade'.

"Apa??" Jeth terkejut. "Ternyata dia bukan orang biasa."

"Habisi dia!!!" perintah Quesier pada dua rider tersebut.

Dua rider itu, Kaixa dan Blade langsung berlari ke arah Jeth.

Jeth mengambil Dhroidrive dari balik jaket sebelah kirinya yang menempel pada magnet di balik jaket tersebut. Setelah itu ia menempelkan benda tersebut di depan pinggangnya. Ketika permata birunya ditekan, dari kanan dan kiri benda itu keluar tali sabuk bewarna perak yang langsung menyatu di belakang pinggang Jeth.

Jeth lalu mengambil selembar kartu Dhroid Crest dari dalam Dhroidcase, kemudian berteriak, "Henshin!!" Sembari memasukkan kartu itu di permukaan atas kepala sabuknya.

Permata biru yang ada di permukaan depan sabuknya langsung menyala terang, memancar sejauh 1,5 meter dan membawa hologram berbentuk manusia bertanduk yang secara keseluruhan berwarna biru dengan berbagai lekukan yang membentuk sesuatu. Hologram tersebut memukuli dan menendang Kaixa dan Blade yang jaraknya hampir dekat dengan Jeth beberapa kali lalu menendang keras perut keduanya hingga terpental ke belakang. Setelah itu, hologram tersebut mundur ke arah Jeth dan menempel lalu terserap di tubuhnya, merubahnya menjadh Kamen Rider Dhroider.

"Hoh. Kamen Rider!?" ucap Quesier.

Kaixa dan Blade kembali bangun dan berlari ke arah Jeth. Blade mencabut pedangnya yang menempel di pinggang sebelah kirinya. Mereka berdua lalu menyerang Dhroider dengan sabetan pedang dan beberapa kali tendangan. Melawan mereka berdua sekaligus membuat Dhroider cukup kerepotan. Daritada ia hanya sibuk menghindari serangan mereka berdua tanpa mampu membalas.

Quesier memangku kedua tangannya di dada, menonton Dhroider yang sibuk menghindari tebasan demi tebasan pedang dari dua rider yang ia panggil. Tapi kali ini, Dhroider mampu melakukan serangan balasan dengan menggunakan Techno Blade miliknya meski tidak terlalu efektif.

Tidak lama kemudian, Dhroider melihat pertahanan Blade terbuka. Hal itu jelas tidak ia sia-siakan, ditebasnya dada Blade dengan Techno Blade kemudian ditendangnya rider itu dengan kaki kanannya dengan keras sampai terlempar cukup jauh dari posisi awalnya. Dengan terlemparnya Blade, Dhroider memiliki cukup ruang untuk melakukan serangan balasan. Kini pertarungan Dhroider melawan Kaixa terlihat imbang dengan saling tebas dan saling tendang.

Sementara itu, Blade yang terjatuh kembali bangun. Ia menarik lembaran
kaca pada pedangnya yang kemudian membentuk kipas kaca yang terdiri dari sekitar lima belas lembaran kaca. Blade mengambil dua lembar kartu dari sana kemudian menggesekkan kartu-kartu itu ke alat gesek kartu di tengah
pedangnya.

"KICK! THUNDER!" Pedang Blade mengeluarkan suara begitu kedua kartu tersebut digesekkan di sana.

Kedua kartu itu berubah menjadi tiga buah layar biru kecil bergambar belalang dan rusa kemudian terserap ke dada Blade.

"LIGHTNING BLAST!!" Pedang milik Blade kembali mengeluarkan suara.

Blade mengambil kuda-kuda sebentar, mengangkat pedangnya ke atas, dan berteriak, "HEEAAAAEEE!!!"

JRAKKK!!!

Blade menusukkan pedangnya
ke tanah, melompat ke udara, berputar dua kali di
udara, lalu melancarkan tendangan persis ke arah Dhroider.

"WAAAYYY!!!" teriak Blade yang melakukan tendangan itu.

Dhroider yang tengah bertarung dengan Kaixa melihat hal itu. Ia pun langsung berbalik ke belakang Kaixa dan mendorongnya sedikit, lalu ia menyingkir dari sana.

Kaixa menoleh ke arah Blade dan terkejut. Tendangan Blade langsung mengenai tubuhnya dan membuatnya meledak hancur.

Dhroider mengambil ancang-ancang. Ia mengangkat tangannya yang memegang pedang, sementara tangan yang satunya lagi menekan permata biru pada kepala sabuknya.

"POWER!!" Kepala sabuk itu, Dhroidrive mengeluarkan suara. Permata biru Dhroidrive langsung menyala terang.

Di waktu yang hampir bersamaan, mata pedang Dhroider langsung diselimuti oleh putaran angin.

Tanpa membuang waktu lagi, Dhroider langsung mengayunkan pedangnya ke depan, membuat angin yang melapisi pedang tersebut melesat ke arah Blade yang tengah berlari ke arahnya.

Tubuh Blade langsung meledak hancur begitu terkena angin tersebut.

PROK PROK PROK PROK!!

Quesier tepuk tangan melihat aksi Dhroider yang telah keluar sebagai pemenang. "Boleh juga kau!" ucapnya.

"Kau ... Selanjutnya giliranmu!!" ujar Dhroider yang kemudian berlari ke arah Quesier.

Quesier lalu meninju telapak tangan kirinya yang ia tempelkan di depan dada dengan tangan kanannya seraya berteriak, "Mecha!!"

Bagan baja kotak keperakan langsung muncul di sisi kanan dan kiri Quesier yang langsung menempel dan membungkus tubuh Quesier. Tak butuh waktu lama, bagan itu kembali memisah kemudian menghilang. Kini, tubuh Quesier telah berubah menjadi manusia robot berarmor perak dan hitam yang memiliki ekor besar berujung runcing, kepala bagian atasnya memiliki beberapa ujung runcing pula serta menyerupai kepala seekor 'naga' dengan gigi-gigi yang runcing di tepi bagian dalamnya, kedua kuku kakinya juga berujung runcing juga.


Perubahan Quesier


Quesier yang sudah berubah bentuk itu langsung menangkis pedang Dhroider yang terayun padanya hanya dengan tangan kosong yang membuat Dhroider tersentak. Kemudian, ia meninju keras perut Dhroider, membuatnya terpental ke belakang dan menabrak ayunan hingga besinya patah dan jatuh mencium tanah.

Dhroider mendecih, kemudian kembali bangun dan berlari ke arah Quesier dan menebasnya menggunakan Techno Blade.

Akan tetapi, serangan Dhroider kembali ditepis oleh Quesier. Dhroider yang tidak mau menyerah kembali menebas Quesier di berbagai titik. Namun, Quesier terus menerus menepis setiap tebasan yang dilancarkan Dhroider. Setelah itu ia menendang dada Dhroider hingga Dhroider terpelanting ke belakang dan terguling-guling di tanah.

Dengan menahan rasa sakit, Dhroider kembali bangkit. Ditekannya permata biru pada Dhroidrive hingga Dhroidrive mengeluarkan suara, "POWER!!"

Permata biru Dhroidrive langsung menyala terang. Bilah Techno Blade milik Dhroider langsung diselimuti putaran angin.

Dhroider mengambil ancang-ancang sebentar, sebelum akhirnya mengayunkan Techno Blade ke depan, membuat putaran angin yang menyelimuti Techno Blade melesat ke arah Quesier.

Dengan tenang, Quesier mengangkat telapak tangannya ke depan. Angin yang meluncur ke arahnya langsung berhenti persis di hadapannya.

Dhroider tersentak. Lalu sekali lagi ia menekan permata biru pada Dhroidrive.

"POWER!!" Dhroidrive kembali mengeluarkan suara. Dan bilah pedang Dhroider kembali diselimuti putaran angin.

Dhroider mengangkat pedangnya, Techno Blade, ke atas setelah itu ia ayunkan ke bawah. Putaran angin yang melapisi bilah pedang itu meluncur menuju Quesier.

Quesier mengangkat telapak tangannya yang sebelah lagi. Lagi-lagi, putaran angin itu berhenti di depan Quesier, membuat Dhroider terkejut dan putus asa. Quesier lalu menghentakkan kedua telapak tangannya ke depan. Kedua putaran angin di hadapannya pun melesat sangat cepat ke arah Dhroider.

Dhroider yang tidak punya waktu untuk mengelak terkena dua putaran angin itu dan meledak hebat. Begitu ledakan mengecil, Dhroider kembali ke wujud Jeth. Ia tersimpuh di tanah dengan tubuh penuh luka, kemudian jatuh tak sadarkan diri.

To Be Continued

[FanFic] Kamen Rider Blitzer (Episode 12: Darker)

Episode 12: Darker
Mecha Castle, hutan Kota Zippon - Jepang, Selasa 11 Februari 2020, pukul 13:00

Darker melihat ke sebuah papan yang memiliki bingkai kotak berwarna perak dan beberapa tombol yang menempel di dinding. Di sana tertera banyak sekali nama yang masing-masing memiliki nomor urut di samping kanannya yang merupakan posisi dari nama-nama itu. Di samping kirinya ada angka yang menunjukkan jumlah orang yang mereka bunuh.

"Namanya sudah hilang dari posisi sepuluh," ucap Darker sambil melihat urutan ke sepuluh di papan tersebut. Di sana tertera nama 'Civer'. Nama yang seharusnya Eagler telah menghilang dari sana. "Dia pasti sudah mati."

Tiba-tiba, Quesier datang. "Ada apa, Darker?" tanyanya.

"Nama Eagler menghilang dari Killer Board," jawab Darker.

"Menghilang?" kata Quesier.

Darker mengangguk. "Padahal aku sudah memberinya Gaia Memory yang memiliki kekuatan cukup besar."

"Aku turut berduka." ucap Quesier. "Mungkin yang membunuhnya bukan orang sembarangan.

Tak lama setelah itu, nama Darker yang ada di posisi ketiga pada papan bernama Killer Board tersebut tergeser ke posisi keempat oleh sebuah nama yakni Cavaler. Nama Cavaler bisa menggeser posisi Darker karena jumlah poin membunuhnya sudah lebih banyak dari Darker yaitu 5.828.141.985, sementara Darker 5.828.141.984, beda tipis.

Melihat hal itu, Darker terkejut. "Ah?"

"Kenapa, Darker?" tanya Quesier.

"Ada yang menggeser posisiku Killer Board," jawab Darker sambil menunjuk Killer Board.

Quesier tersentak. "Siapa?"

"Cavaler."

"Berarti kau harus duel dengannya untuk mempertahankan posisimu. Kapan kau siap?"

"Hari ini pun aku siap! Kau sudah tahu kekuatanku kan? Tidak mungkin aku kalah!"

"Semoga begitu."
=***=
Komplek Akajima, Kota Zippon - Jepang, pukul 13:20.

Di sebuah rumah, Ariel bersama seorang pria bernama 'Godai Yusuke' tengah bermain Playstation 4, mereka bermain Moto GP. Godai yang berkulit putih memiliki ciri fisik mata agak bulat dengan kantung mata yang tidak hitam, alis panjang tipis, hidung mancung, bibir sedang, dan daun telinga kecil yang tertutup rambutnya yang sedikit panjang. Wajahnya yang oval dihiasi kumis dan janggut serta tahi lalat di sebelah kanan dagunya.

Berkali-kali Godai menyalip pembalap merah yang dimainkan Ariel meski Ariel juga tidak mau kalah, hingga akhirnya pembalap Godai yang berwarna biru memasuki garis Finish, mengalahkan pembalap merah Ariel.

"Yiihaa!!!" teriak Godai. "Akhirnya aku bisa mengalahkan Ariel!"

"Jangan senang dulu!" ucap Ariel. "Kita bertanding satu pertandingan lagi!" tantangnya.

"Baik! Aku pasti akan mengalahkanmu lagi!" balas Godai. "Tapi aku mau membuat minuman dulu. Daritadi di sini tidak ada minuman." Kemudian ia berdiri dan keluar dari kamar itu.

Ketika berjalan menuju dapur, Godai ingat pertemuan pertamanya dengan Ariel. Godai adalah seorang petualang. Setelah mengalahkan N Daguva Zeba, Godai pun melanjutkan petualangannya dan akhirnya membuka sebuah kedai minuman di Zippon. Ia pertama kali bertemu dengan Ariel di tempat itu. Ariel yang pada saat itu membeli minuman buatan Godai di sana memuji minuman buatan Godai yang baginya sangat enak dan segar dan ingin tahu apa saja resep minuman itu. Dengan senang hati Godai pun memberitahunya. Tapi, di saat seperti itu tiba-tiba muncul Mechaster dan menyerang orang-orang yang ada di sana. Godai yang melihatnya langsung meninggalkan kedai minuman dan pergi ke tempat sepi lalu berubah menjadi Kamen Rider Kuuga dan melawan Mechaster itu. Sayangnya, Godai berhasil didesak oleh si Mechaster. Untunglah di saat seperti itu, Ariel yang sudah berubah menjadi Kamen Rider Blitzer datang menolong. Akhirnya mereka berdua melawan Mechaster itu sampai si Mechaster meledak hancur oleh tendangan super mereka berdua. Setelah mengalahkan Mechaster, Blitzer tidak sengaja kembali ke wujud semula dan membuat Kuuga terkejut. Tapi Kuuga senang telah dibantu oleh Ariel. Saat itu, Ariel berkata pada Kuuga bahwa Ariel tahu siapa dia. Kuuga terkejut dan bertanya darimana Ariel mengetahuinya? Ariel pun menjawab bahwa ia tadi mengintip Godai yang henshin menjadi Kuuga di tempat sepi. Akhirnya, karena hal itu, Kuuga pun kembali ke wujud Godai di hadapan Ariel. Sejak kejadian itu, mereka berdua pun bersahabat. Bagi Godai, Ariel adalah sosok laki-laki hebat yang sangat baik, begitu pun sebaliknya. Ariel yang tidak mau menerima sembarang orang menjadi sahabatnya jadi sangat terbuka pada Godai, karena bagi Ariel dia tidak sama dengan orang-orang yang memiliki sifat yang dibenci Ariel seperti kebanyakan orang yang Ariel temui di sepanjang perjalanan hidupnya.

Kembali ke Mecha Castle. Di sebuah stadion khusus di tempat itu, terlihat banyak sekali orang tengah duduk di bangku stadion. Di lapangan yang ada di tengah-tengah staidon, berdirilah Darker dan orang berkaos kuning dengan celana tiga perempat berwarna hitam. Orang itu berkulit hitam, berwajah bulat, bermata sipit, beralis tebal, berhidung sedikit mancung, berbibir tebal, dan berdaun telinga kecil yang ditutupi rambut keriting. Ia berdiri berhadapan dengan Darker.

Seorang wanita berbaju merah dan rok kuning mengembang serta sepasang sarung tangan putih mengambil sebuah mic dari meja yang ada di pinggir lapangan. Setelah mengetuk-ngetuk mic itu dan mendekatkannya ke mulutnya, ia berkata, "Para hadirin Mechaster sekalian, hari ini kita akan melihat duel maut antara petinggi kita Darker, melawan penantang baru Cavaler! Pertandingan ini akan menentukan siapa yang pantas menduduki posisi petinggi, apakah Cavaler? Atau Darker berhasil mempertahankan posisinya? Yak, mari kita saksikan duelnya!"

Para penonton yang duduk di bangku staidon pun bertepuk tangan, beberapa dari mereka ada yang bersorak sorai. Setelah gong dipukul oleh seorang pria berpakaian serba hitam, Cavaler pun memasang kuda-kuda, sementara Darker hanya berdiri tegak menatap Cavaler.

Cavaler berteriak lalu maju ke arah Darker dan langsung menggunakan kaki
kanan untuk menendang keras dan bertenaga ke arah kepala Darker.

Darker hanya memiringkan kepala sedikit hingga kaki lawan yang
menendang itu menjadi
salah arahnya. Ia lalu
mengubah kedudukannya dan membongkok
sambil merangkapkan
kedua kepalan di dada
menanti serangan lebih lanjut. Semua orang heran melihat gerakan Darker yang
tampaknya sangat tenang namun gesit ketika menghindari tendangan bertenaga Cavaler.

Cavaler menyerang lagi dengan kepalan tangan kearah dada Darker yang merupakan pancingan saja, karena ketika Darker menggunakan tangan kiri untuk menangkis, ia buru-buru menarik kembali
kepalannya dan kepalan kirilah yang maju cepat mengarah lambung Darker. Darker sebenarnya sudah dapat menduga bahwa pukulan pertama itu hanya umpan saja, maka sengaja ia miringkan badan dan mengangkat lutut yang lebih besar dan keras.

Cavaler panas dan
marah, lalu maju dengan kedua pukulan tangan diseling tendangan-tendangan ke arah perut dan tempat-tempat berbahaya. Tetapi Darker memperlihatkan kegesitannya, sambil melenggak-lenggok ke kanan dan kiri ia nampak bagaikan seorang yang sedang menari-nari dengan indahnya. Memang tubunya lemas sekali saat itu, maka tentu saja duel ini menarik
hati para penontonnya, bahkan Quesier yang sedang menonton mengagumi dan menganggukkan kepala memuji.

Karena lelah dan pening menghadapi lawan yang licin bagai belut ini, Cavaler berlaku nekat dan curang. Ia maju dan menggunakan tangan kanan menghamtam ulu hati Darker dan tangan kirinya bergerak ke bawah mencengkeram kemaluan Darker. Semua orang terkejut melihat serangan maut ini, sedangkan Quesier merasa cemas.

Darker melihat datangnya serangan tenang-tenang saja, dengan tersenyum miring ia menggunakan tangan kiri memegang cengkeraman lawan dengan sangat cepat dan tangan kanan menangkis serangan lawan. Setelah itu ia mendorong tubuh Cavaler ke belakang. Setelah Cavaler terdorong agak jauh, Darker melompat dan melancarkan tendangan bertubi-tubi ke dada Cavaler dengan kedua kakinya seperti sedang mengayuh sepeda.

Tubuh Cavaler terus terseret mundur ke belakang oleh tendangan Darker. Terakhir, Darker menendang keras dadanya dengan dua kaki hingga Cavaler terlontar jauh dan terguling-guling. Begitu ia berusaha bangun, darah segar muncrat dari mulutnya, darahnya sama seperti darah manusia. Ia yang masih dalam posisi setengah bangun kembali jatuh dan terkapar tak sadarkan diri.

Wanita yang tadi berbicara dengan mic menghampiri Cavaler dan mengecek pernapasan serta denyut nadinya. Si wanita terkejut, karena keduanya telah berhenti. Dengan mic yang dipegangnya, si wanita kemudian berkata, "Pemenangnya adalah Darker!!!"

Gong pun berbunyi beberapa kali. Sorak sorai dan tepuk tangan penonton terdengar memenuhi stadion.

"Tcih! Membosankan sekali," ucap Darker sambil berlalu pergi dari lapangan stadion.

Usai bertarung dan mengalahkan Cavaler, Darker berjalan-jalan untuk mencari angin. Ia berjalan-jalan di atas gedung pencakar langit dan sesekali melompati gedung untuk menyebrang. Ketika ia berhasil melompati satu gedung, ia melihat sesuatu yang menarik perhatiannya di seberang gedung yang ia injak. Gedung tersebut adalah gedung 'Techno Corporation', tepat di lantai dua puluh. Sedangkan sesuatunya yakni sebuah pameran yang tengah memamerkan sebuah kartu yang jika diputar 'switch'-nya bisa berubah menjadi senjata pemusnah massal berbentuk peluncur roket yang diperlukan oleh kemiliteran Jepang untuk jaga-jaga ketika suatu saat nanti Jepang diserang oleh pihak luar. Meski ukurannya kecil, senjata itu memiliki daya hancur dan radiasi yang sangat besar. Darker lalu duduk di pinggiran atap gedung sambil menajamkan indera pendengarannya. Gedung yang ia duduki tingginya sama dengan gedung Techno Corporation. Darker terus memperhatikan pameran itu dan mendengar setiap kata yang diucapkan oleh seseorang yang sedang memamerkan alat canggih tersebut. Akhirnya, alat yang dipamerkan tersebut diserahkan kepada seorang jendral. Setelah itu, pameran pun berakhir dan mobil-mobil tentara keluar dari gedung itu lalu si jendral naik di salah satu mobil. Kira-kira mobil tersebut jumlahnya ada enam dan semuanya adalah minibus. Namun, baru beberapa meter saja mobil-mobil itu berjalan, Darker mencegatnya dengan berdiri di depan mobil-mobil itu.

"Siapa dia? Apa yang dia lakukan?" ucap seseorang yang menyupir minibus yang ditumpangi si jendral.

"Entahlah," balas si jendral yang duduk di samping si supir. "Baiklah, coba hentikan mobilnya di sini, aku mau bertanya apa mau orang itu!"

Tentara yang menyupir itu mengangguk dan langsung menghentikan mobilnya. Di waktu yang hampir bersamaan, semua mobil yang ada di belakang mobil yang ditumpangi si jendral berhenti. Si jendral lalu keluar dari mobil yang ditumpanginya.

"Siapa kau? Kenapa kau mencegat kami?" tanya si jendral berambut cepak serta berpakaian kantoran serba hitam itu pada Darker.

"Bisa kau serahkan kartu yang kau dapatkan dari gedung pameran yang kau hadiri tadi!" perintah Darker.

Si jendral tersentak. 'Darimana dia tahu?' batinnya. Tapi kemudian ia berkata, "Aku tidak membawa apapun. Jadi kau tidak akan mendapatkan apapun dariku."

"Jangan berbohong!" balas Darker. "Jika kau tidak menyerahkannya, aku habisi kalian semua di tempat ini!"

"Berani sekali kau!" ucap si jendral. Ia lalu memberikan isyarat pada tentara yang menyupir di sampingnya tadi untuk keluar dari mobil. Si tentara pun langsung keluar. "Kiriya, hentikan dan usir dia!" perintahnya kemudian.

Tentara bernama Kiriya itu mengangguk, kemudian berjalan menghampiri Darker. "Cepat pergi dari sini atau kau akan kami tahan!"

Darker tak menjawab. Ia langsung menendang perut Kiriya dengan keras hingga Kiriya terpental lalu jatuh dan muntah darah. Setelah itu Kiriya langsung terkapar tak sadarkan diri.

Si jendral pun terkejut melihatnya. Kemudian dengan bahasa isyarat, ia menyuruh semua tentara yang ada turun dari mobil sambil membawa senjata mereka yang berupa laras panjang. Setelah itu ia memberikan komando agar para tentara yang turun dari mobil bersiap untuk melepaskan tembakan.

"Jika kau tidak pergi dari sini, kau akan kami tembak!" kata si jendral pada Darker.

Akan tetapi, Darker malah maju berjalan ke hadapan mereka. "Silahkan tembak saja!" ucapnya.

"Keras kepala!" kata si jendral. "Tembak!!!" perintahnya pada para tentara.

Para tentara pun langsung melepaskan tembakan ke arah Darker dan langsung mengenai tubuhnya. Namun, Darker tetap berdiri tegak. Meski tubuhnya dipenuhi asap, semua peluru yang ditembakkan itu tidak berpengaruh baginya, semua itu diserap oleh tubuhnya. Tentu saja hal itu membuat semua yang ada di sana terkejut.

"Ti-tidak mungkin," ucap si jendral.

Darker yang bagian dalam tubuhnya dipenuhi oleh peluru yang ditembakkan padanya tadi langsung mengalirkan peluru-peluru itu ke arah jarinya. Tak lama, ia pun menembakkan peluru-peluru yang ada di dalam tubuhnya lewat ke sepuluh jarinya ke arah para tentara itu. Para tentara pun satu persatu jatuh terkapar terkena tembakkan Darker. Yang tersisa hanya si jendral.

"Jadi, bisa kau serahkan kartu itu!?" pinta Darker sambil berjalan menghampiri si jendral yang bergidik ketakutan.

"Sudah kubilang, aku tidak punya apa yang kau minta!" bantah si jendral.

"Kalau begitu, aku akan mengambilnya secara paksa!" ucap Darker yang kemudian mencekik leher jendral itu ketika jaraknya sudah dekat dengan si jendral.

Jendral itu berusaha melepaskan cekikan Darker dengan segala upaya. Tapi, itu semua percuma. Lalu Darker merogoh satu persatu saku si jendral dan akhirnya menemukan apa yang ia cari. Setelah itu ia melemparkan tubuh jendral itu ke kaca salah satu mobil hingga kepala si jendral membentur kaca mobil sampai kaca mobil itu pecah dan si jendral jatuh ke tanah.

Darker lalu mengeluarkan sebuah lubang hitam dari tangan kanannya dan mengarahkannya ke samping. Lubang tersebut mengeluarkan cahaya hitam dan sebuah sepeda motor trial yang keseluruhan body-nya berwarna hitam. Setelah memasukkan kartu yang ia dapatkan tadi di balik jubahnya, ia pun segera menaiki motor tersebut dan pergi meninggalkan tempat itu.

Tidak lama kemudian, Agriel dengan motor sport merahnya tiba di tempat itu. Ia yang kebetulan lewat kaget melihat banyak sekali tentara yang terkapar dan bersimbah darah. Ia pun langsung melepas helmnya dan turun dari motor lalu menghampiri salah satu orang yang terkapar di sana yaitu si jendral.

Rupanya si jendral masih sadar, meski ia tak mampu menggerakkan tubuhnya secara bebas. "Tuan Ariel?" ucapnya.

"Ada apa sebenarnya ini?" tanya Ariel.

"Ka-kartu yang kudapat dari perusahaan tuan dicuri orang. Dia membuat kami menjadi seperti ini," jawab jendral itu.

"Apa??? Siapa orang itu??"

"Di-dia pria bertopeng dan berjubah hi-hitam. Dia baru saja pergi dari sini dengan motor trail hitamnya ke arah sana!" Si jendral menunjuk ke depan.

Ariel pun langsung berdiri dan berkata, "Aku akan mengambil kembali kartu itu! Tuan tunggu saja di sini!"

Si jendral mengangguk dan akhirnya jatuh pingsan.

Ariel segera menaiki motornya. Setelah memakai helm, ia pun langsung tancap gas.

Sementara itu, Darker yang terlihat sangat senang tengah memacu motornya di jalanan sepi. "Dengan begini aku bisa menghancurkan manusia dengan mudah menggunakan kartu itu. Khahaha...," ucapnya.

Tidak lama kemudian, dari kaca spion sebelah kirinya ia melihat seseorang dengan motor sport merah tengah membuntutinya yang tak lain adalah Ariel.

"Siapa dia?" ucap Darker bingung. "Sepertinya dia ingin bermain-main denganku. Baiklah, akan kuturuti." Setelah itu ia menghentikan motornya di sebuah gedung kosong yang sepertinya tengah dalam proses renovasi beberapa meter di hadapannya.

Ariel yang melihat hal itu pun segera menghentikan motornya di tempat yang sama. Setelah melepas helmnya dan turun dari motor, ia melihat Darker melompat ke salah satu lantai atas gedung hanya dengan sekali lompatan. Ariel segera masuk ke dalam gedung dan naik ke lantai gedung yang dipijaki Darker menggunakan tangga yang tersedia karena lift di sana mati.

Setelah letih karena terus naik tangga, Ariel pun akhirnya menemukan Darker.

"Apa yang membuatmu mengikutiku, anak muda?" tanya Darker.

"Serahkan kartu yang kau curi dari jendral yang kau habisi di jalanan!" gertak Ariel dengan nada dingin seperti biasanya.

"Kartu? Aku tidak memilikinya," balas Darker.

"Jangan bohong kau!" gertak Ariel lagi dengan nada dingin.

"Khahahahaha ... Oke, baiklah. Jika kau menginginkannya, langkahi dulu mayatku!" tantang Darker.

"Baik! Aku terima tantanganmu," balas Ariel. Ia lalu menyentakkan kaki kanannya ke belakang, membuat tubuhnya terbang kearah Darker. Begitu terbang, ia langsung mengepalkan tinjunya.

Begitu jaraknya sudah dekat dengan Darker, Ariel segera melesakkan tinjunya ke wajah Darker. Tapi, Darker mengelak tipis ke samping kanan, tinjuan itu pun luput.

Tak mau menyerah, tangan Ariel kembali terayun, kali ini menyamping ke arah kepala Darker. Namun, Darker merunduk, lalu punggung tangan kanannya menghantam rusuk kiri Ariel.

Ariel pun terhuyung ke samping. Saat itu, Darker langsung maju mendekati Ariel, melompat sambil memutar tubuhnya, dan menendang telak kepala Ariel hingga tubuh Ariel berputar di udara lalu jatuh ke lantai.

Ariel yang jatuh pun kembali bangun dan melompat sedikit menuju Darker, kemudian ia hantamkan kepalan tinjunya ke dada Darker. Tapi, Darker mundur beberapa depa ke belakang, membuat serangan itu hanya mengenai ruang kosong.

Melihat hal demikian, Ariel pun maju dan melayangkan tendangan ke arah wajah Darker. Namun, Darker mengayunkan kaki kanannya dan mengadu tendangan Ariel. Dan akhirnya, mereka berdua saling beradu tendangan dengan kaki kanan dan kiri secara bergantian.

Akan tetapi, itu tak berlangsung lama, Ariel yang melihat pertahanan bagian atas Darker terbuka, segera melepaskan tendangan dengan ujung sepatunya tepat di dagu Darker, tak pelak tubuh Darker pun terlenting ke atas, lalu jatuh berdebam ke bawah.

Darker mengangkat kepalanya dan tersenyum. "Boleh juga kau, anak muda."

Ariel melompat dan berhasil mencekik dagu Darker. Darker menahan cekikan itu dan beradu tenaga dengan Ariel. Kemudian Darker memukul lantai dengan tangan kirinya. Lantai yang dipukul Darker langsung mencair, tubuh mereka berdua jatuh di ruangan kosong gedung itu dan terus meluncur ke bawah karna yang ada di sana hanya pilar saja.

Ariel yang tubuhnya terus meluncur akhirnya berhasil berdiri di salah satu pilar. Ia melihat Darker yang juga berdiri di pilar seberang atasnya.

Darker lalu meluncur ke bawah. Lingkaran hitam muncul dari kedua tangannya. Lingkaran itu mengeluarkan bola cahaya hitam yang langsung Darker tembakkan pada pilar-pilar yang dilihatnya sambil terus meluncur ke bawah.

Salah satu ruang di gedung itu hancur, membawa banyak sekali pilar dan juga Ariel yang berusaha menyeimbangkan tubuhnya yang meluncur ke bawah dan akhirnya ia berhasil memegang kartu hasil rampasan Darker dan bergelayut di salah satu pilar lalu dengan susah payah naik serta berdiri di sana. Sementara Darker, dengan mudahnya berdiri di salah satu pilar beberapa meter di dekat Ariel.

"Itu kartuku! Aku akan mengambilnya kembali!" ucap Darker.

"Sayangnya, aku akan mengakhirimu di sini! " balas Ariel dengan nada dingin. Setelah mengantongi kartu itu di saku belakang celananya, ia mengambil Blitzdrive dari balik saku jaketnya dan menempelkan benda itu di depan pinggangnya lalu menekan permata merah bundarnya.

Kedua sisi Blitzdrive langsung mengeluarkan tali sabuk berwarna perak yang kemudian merekat di belakang pinggang Ariel, membentuk sebuah ikat pinggang dengan Blitzdrive sebagai kepalanya.

Kemudian Ariel mengambil kartu bergambar Blitz Crest dan memasukkan kartu itu ke dalam lubang kotak tipis di permukaan atas Blitzdrive seraya berseru, "Henshin!!"

Permata merah pada bagian depan Blitzdrive mengeluarkan cahaya merah terang yang memancar sejauh 1,5 meter dan membawa hologram merah seperti manusia bertanduk bagai belalang dengan beragam lekukan di sekitar tubuhnya. Lalu bayangan tersebut melayang mundur menuju Ariel dan melapisi tubuh pemuda itu, kemudian terserap ke dalam tubuhnya. Begitu sudah terserap sepenuhnya, tubuh Ariel pun berubah menjadi Kamen Rider Blitzer.

"Hoo... Seorang Kamen Rider ya?" ucap Darker yang kemudian mengangkat telapak tangannya ke arah Blitzer yang melompat terbang ke arahnya. Di telapak tangan itu muncul lubang hitam yang menyerap sesuatu.

Tiba-tiba, tubuh Darker diselimuti kabut hitam. Sesaat setelah kabut menipis, tubuh Darker berubah menjadi sosok yang mirip dengan Blitzer, hanya saja keseluruhan tubuhnya berwarna hitam, cuma armor di bagian dadanya yang berwarna abu-abu gelap, lensa mata helmnya berwarna ungu kehitaman, dan Blitz Crest di dada sebelah kiri dan di kotak sebelah kanan sabuknya berwarna ungu kehitaman pula.

Blitzer yang tinjunya beradu dengan Darker terkejut.

"DARK BLITZER, YAMI!" Suara berat muncul dari sabuk Darker.

Kemudian Darker yang sekarang sosoknya bernama Yami menendang Blitzer hingga melayang di udara dan jatuh ke beberapa pilar yang melayang di sana.

Blitzer kembali bangun. Ia berlari menuju Yami. Namun, Yami menggunakan kedua tangannya untuk menerbangkan pilar-pilar di sekelilingnya dengan cara mengkontaknya dari jarak agak jauh. Setelah pilar-pilar itu meruncing otomatis, Yami menggerakkan pilar-pilar itu dengan gerakan tangannya untuk menyerang Blitzer. Pilar pun satu persatu menusuk tubuh Blitzer dan membuatnya terlempar-lempar di udara. Tapi, Blitzer masih bisa bertahan. Ia yang terjatuh ke bawah berhasil memegang salah satu pilar yang dalam posisi tidur kemudian berdiri di sana.

Melihatnya, Yami kembali mengkontak pilar-pilar di sekelilingnya dan meruncingkannya guna menyerang Blitzer. Tapi, kali ini, Blitzer berhasil menghindari pilar-pilar itu sambil berlari ke arah Yami dan terakhir menendang bagian samping salah satu pilar hingga terlempar entah kemana. Begitu mencapai jarak yang dapat dijangkaunya, Blitzer segera menyerang Yami dengan tinjunya. Yami pun mengadu tinjuan itu, hingga akhirnya mereka saling pukul dan juga saling tendang di salah satu pilar yang dalam posisi tidur dan dikelilingi banyak pilar yang berputar kencang dan terus melayang maju.

Yami yang melihat pertahanan Blitzer terbuka, segera menendang Blitzer persis di dadanya, membuat Blitzer terpental ke belakang dan terombang-ambing di udara akibat menempel di pilar-pilar yang terbawa angin yg sangat kencang.

Ketika tubuh Blitzer yang terombang-ambing menuju ke arahnya, Yami menghentikannya dan mencekiknya, seraya berkata, "Tempat ini akan jadi kuburanmu, Kamen Rider!"

Dengan sekuat tenaga Blitzer melepaskan cekikan Yami hingga tangan rider berkekuatan gelap itu terlepas dari lehernya. Di waktu yang hampir bersamaan, Blitzer menendang perut Yami sampai terpelanting ke belakang. Tapi, Yami berhasil bertahan dan berdiri di salah satu pilar yang posisinya berdiri.

Blitzer mengambil kartu Strike Machine dari dalam kotak sebelah kanan sabuknya lalu memasukkannya ke dalam lubang kotak tipir di atas permukaan sabuknya.

Kepala sabuk pun mengeluarkan suara, "STRIKE MACHINE!!"

Pada saat yang hampir berbarengan, Yami mengambil kartu yang sama dengan kartu milik Blitzer, hanya saja warna sepatunya hitam dan gambar Blitz Crest dan tulisan 'STRIKE MACHINE' pada sepatu itu berwarna ungu kehitaman. Kartu tersebut segera dimasukkannya ke dalam lubang kotak tipis di atas permukaan kepala sabuknya.

"STRIKE MACHINE!!" Suara berat yang berasal dari kepala sabuk Yami. Hal itu membuat Blitzer terkejut.

Hologram Strike Shoes seperti yang tertera pada kartu milik mereka langsung muncul melapisi kaki mereka masing-masing dan kemudian menjadi nyata. Setelahnya, mereka berdua melompat tinggi dan bersalto satu kali di udara, kemudian meluncur ke arah lawan masing-masing. Saat meluncur, baling-baling di Strike Shoes mereka berputar kencang. Akhirnya, mereka mengadu tendangan Strike Shoes di udara.

Pilar-pilar yang mengelilingi mereka terhambur kemana-mana akibat tekanan kekuatan besar tendangan Blitzer dan Yami yang mengadu di udara. Setelah itu, Blitzer dan Yami terpental ke belakang.

Tubuh Blitzer terus meluncur ke bawah secara perlahan serta akhirnya kembali ke wujud Ariel dan mendarat dengan mulus di tanah. Napas Ariel terengah-engah dan cukup memburu pada saat itu.

Di waktu bersamaan, Yami yang sudah kembali ke wujud Darker meluncur ke bawah, ke tempat yang sama dengan Ariel. Napasnya juga terdengar memburu dan tersenggal-senggal. Setelah menatap Ariel sekilas, ia pun melompat terbang ke atas menginggalkan Ariel.

Ariel mengambil kartu yang dikantonginya. Kartu yang bisa berubah menjadi senjata pemusnah massal itu patah menjadi dua. Melihatnya, Ariel pun langsung tertunduk lemas.

To Be Continued

[FanFic] Kamen Rider Blitzer (Episode 11: Inilah diriku!)

Episode 11: Inilah diriku!
Aizawa University, Kota Zippon - Jepang, Senin 10 Februari 2020, pukul 07:00.

Di aula kampus, Jito dan Bakugou mencegat Tokichi yang sedang berjalan.

"Hey, beri aku uang dong! Kebetulan aku sedang tidak punya uang banyak," kata Jito sambil mengadahkan tangan pada Tokichi.

Dengan perasaan takut Tokichi berkata, "Uangku juga pas-pasan. Besok kalau ada uang lebih aku berikan."

"Hey!" Jito menarik kerah baju Tokichi dan mencengkramnya dengan keras. "Aku butuh sekarang!"

Bakugou yang ada di samping Jito langsung merogoh setiap saku di baju dan celana Tokichi, dan akhirnya Bakugou menemukan dompet berwarna cokelat di saku belakang sebelah kanan celana Tokichi.

"Hey, kembalikan!" ucap Tokichi. "Aku nanti tidak ada uang untuk ongkos pulang."

"Itu deritamu," kata Jito yang kemudian melepas cengkramannya dari kerah baju Tokichi dan melihat Bakugou yang sedang menghitung uang di dompet Tokichi.

"Lumayan juga," ucap Bakugou sambil menghitung uang itu.

"Kembalikan... Kumohon kembalikan...," pinta Tokichi memelas dan kemudian mencoba meraih dompetnya dari tangan Bakugou.

Tapi dengan gesit tangan Bakugou berkelit, hingga Tokichi tidak mendapatkan apapun.

"Hahaha. Dengan uang ini, kami bisa puas jajan!" ujar Bakugou.

Di saat seperti itu, tiba-tiba tangan Bakugou yang memegang dompet Tokichi dipegang oleh seseorang.

"Kembalikan dompet itu!" perintah orang tersebut.

"A-A-Ariel?" ucap Bakugou sambil melirik orang itu.

"Ariel...." Tokichi yang melihatnya langsung tersenyum lega.

"Kembalikan kubilang!" perintah Ariel lagi.

Dengan tangan bergetar dan perasaan takut, Bakugou mengembalikan dompet yang dipegangnya pada Tokichi. Setelah itu, ia dan Jito lari pontang-panting.

"Terimakasih, Ariel...," ucap Tokichi. "Bagaimana caranya agar kuat sepertimu? Aku ingin menjadi sepertimu agar tidak diinjak-injak oleh orang lain."

Ariel hanya diam.

"Kumohon Ariel... Beritahu padaku." Tokichi lalu membungkuk. "Kumohon..."

Ariel memejamkan matanya sebentar, kemudian menjawab, "Satu-satunya cara adalah berusaha keras. Latih tubuhmu sampai kau kuat menghadapi orang-orang macam mereka tadi."

"Hanya itu saja?" tanya Tokichi yang sudah tidak membungkuk lagi.

"Dulu aku juga sepertimu, bahkan lebih parah lagi. Tapi aku berusaha keras hingga bisa seperti sekarang." Ariel kemudian berjalan meninggalkan Tokichi.

ketika berjalan, pikiran Ariel melayang ke masa dia masih duduk di bangku SD.

-Flashback-

Saat masih SD, Ariel adalah orang yang dikucilkan oleh teman-temannya karena lemah dan tak bisa apa-apa. Di sekolah bernama SD Zippon, begitu masuk melewati gerbang, Ariel melihat dua orang siswi tengah mengobrol di bangku panjang sambil membaca buku pelajaran. Ariel menghampiri mereka.

Dengan senyum di wajahnya, ia menyapa dua murid perempuan tersebut, "Halo... Aku boleh ikut gabung tidak?"

Dua orang murid perempuan itu menatap Ariel dengan tatapan sinis kemudian berbisik-bisik.

Salah seorang dari mereka lalu berkata, "Enak saja ikut gabung! Kamu itu kan 'Si Pecundang', yang paling hina disini. Nanti yang ada kita juga diejek plus dijauhi oleh orang lagi kalau berteman denganmu. Pergi sana!"

Dengan menahan sedih di hatinya, Ariel pun melanjutkan langkahnya. Namun, cobaan tidak sampai disitu saja. Begitu ia berjalan di aula sekolah, ia diselengkat oleh seseorang hingga jatuh. Orang-orang yang ada disekitar aula menertawakannya. Itu adalah perbuatan seorang anak bertubuh jangkung dan bermata belo bernama 'Akab' yang merupakan algojo di sekolah tersebut. Ia ditemani oleh temannya, `Dungo`, yang berbadan gendut dan matanya sangat sipit serta berambut botak. Meski baru kelas 4, tapi semua siswa takut padanya, termasuk siswa kelas 5 dan 6. Tidak cukup sampai disitu, Akab merampas semua uang jajan milik Ariel dan kemudian melemparkan tasnya ke atas genteng. Air mata Ariel menetes dan ia tumpahkan semua kesedihannya. Setelah Akab dan Dungo pergi, tiba-tiba seseorang muncul dan berkata, "Butuh bantuan?"

Ketika masuk kelas, Akab dan Dungo yang kebetulan sekelas dengan Ariel kaget melihat Ariel yg sedang membaca komik di mejanya. Ia pun berpikir ingin membully Ariel lagi, tapi tiba-tiba guru datang. Akab dan Dungo langsung pergi ke tempat duduk mereka dan pelajaran pun dimulai.

Pada jam istirahat, Ariel menyapa ramah orang-orang yang sedang mengobrol di dekat aula, malah ia ingin bergabung. Namun, ia malah ditolak dan diejek. Berkali-kali ia menyapa dan ingin bergabung dengan teman-teman sekolahnya yang sedang bermain, mengobrol, dan lain-lain, tapi yg ada mereka selalu mengejek serta menolak Ariel untuk bergabung. Di saat seperti itu, tiba-tiba Akab dan Dungo datang.

"Hey, Si Pecundang. Bukumu sepertinya bagus. Bisa kau berikan padaku?" ucap Akab yang melirik buku komik berjudul 'Strong Knight' yang dipegang Ariel.

"A-aku b-belum selesai membacanya. Nanti saja ya...," jawab Ariel.

Mendengarnya, Akab jadi emosi dan langsung menarik kerah baju Ariel. "Kubilang sekarang, Pecundang!"

Tiba-tiba, tanpa disadari Akab, lengannya dipelintir oleh seseorang lalu perutnya ditendang hingga terpental dan jatuh terduduk.

Dungo yang melihatnya terkejut. "Kau!"

"Kazuya?" ucap Akab, menyebut nama orang yang membuatnya terpental itu.

"Pergi kalian dari sini, atau kuhabisi!" gertak Kazuya. Matanya tajam seperti elang dihiasi oleh kacamata kotak. Ia memiliki hidung mancung, bibir tipis, daun telinga kecil, dan rambut pendek belah pinggir.

Akab berdiri dan berlari dari sana, diikuti oleh Dungo di belakangnya.

"Terimakasih, Kazuya," ucap Ariel sambil tersenyum.

Kazuya membalas senyuman Ariel. "Sama-sama. Kita ke kantin yuk!"

"Um!" Angguk Ariel sembari tersenyum.

Mereka berdua pun akhirnya pergi ke kantin. Disana, Ariel yang sudah tidak punya uang lagi dibelikan makanan serta minuman oleh Kazuya dan sekalian mengobrol. Sekali lagi, Ariel berterimakasih pada Kazuya atas semuanya, termasuk sudah repot-repot meminjam tangga untuk mengambilkan tas Ariel yg disangkutkan oleh Akab diatas genteng. Ariel merasa sedih, ia tak mau terus merepotkan Kazuya yang selalu menolongnya. Apalagi, dari sekian banyak siswa yang menjauhinya, cuma Kazuya lah yang mau berteman dengannya. Meski bagi Kazuya hal itu bukanlah suatu masalah. Ia akan tetap membantu Ariel kapanpun dibutuhkan. Karena baginya, berteman itu tidak boleh pilih-pilih. Kazuya adalah anak yang baik, ramah, sopan, kuat, pintar, dan pemberani. Di sekolah, cuma dia yang mampu menumbangkan Akab dan Dungo. Sementara Ariel, mulai dari ia beranjak naik kelas 2, ia sering dikerjai Akab dan Dungo karena satu kelas. Sampai akhirnya, Ariel jadi langganan bully kedua anak bandel itu karena Ariel tidak mampu melawan serta tidak pernah melaporkannya ke guru. Dan dari sekian banyak anak, dialah yg paling lemah dan tak bisa apa-apa. Dari sanalah, Akab menjulikinya 'Si Pecundang'. Sejak saat itu, tidak ada yg mau berteman bahkan dekat dgn anak seperti Ariel biarpun Ariel terus mencoba untuk berteman dengan teman-teman sekitarnya tersebut. Mengenal Kazuya adalah suatu keberuntungan bagi Ariel. Berawal dari dia dikerjai di kantin dan ditolong Kazuya. Setelah kejadian itu, mereka berteman dan sering bertukar pikiran, meski sampai sekarang mereka selalu beda kelas.

Tak terasa bel masuk berbunyi. Mendengarnya, Ariel dan Kazuya pun kembali ke kelas masing-masing. Ariel di kelas 4A, sementara Kazuya kelas 4B.

Tak lama kemudian, guru masuk ke kelas Ariel dan pelajaran pun dimulai.

Ketika sang guru memberikan pertanyaan pada murid-muridnya, Ariel selalu menjawab pertanyaan tersebut dengan jawaban salah, semua siswa langsung menertawakannya, terutama Akab dan Dungo mereka paling keras tertawanya.

Waktu berlalu begitu cepat, semua pelajaran di sekolah usai sudah. Semua siswa pulang ke rumahnya masing-masing.

Ariel dijemput oleh sopirnya, ia pulang naik mobil. Begitu sudah sampai di depan pintu rumah, Ariel mengetuk pintu dan berkata, "Aku pulang!"

Tak lama, pintu dibuka oleh seorang wanita berambut panjang lurus dan berponi, berwajah oval, serta berhidung mancung. Matanya yang sayu terlihat teduh. "Selamat datang!" ucap bibir sensualnya sambil tersenyum.

Setelah itu, Ariel langsung masuk ke dalam rumah besar dan mewah tersebut.

"Ayo Ariel makan dulu! Ibu masak makanan kesukaanmu lho!" ucap wanita bernama Hammy Matsuyama itu.

"Benarkah?" Mata Ariel berbinar. "Terimakasih, ibu."

Tiba-tiba seorang pria tinggi tegap dan berkumis tebal datang. Pria itu memiliki wajah lonjong, mata sipit, hidung pipih, bibir kecil, daun telinga sedang, dan rahang yang kokoh. Rambutnya yang ikal terlihat disir rapih ke samping.

"Ariel, perlihatkan nilai sekolahmu hari ini padaku!" pinta laki-laki itu. Ia bernama Ren Matsuyama.

Dengan perasaan takut dan tangan gemetaran, Ariel mengambil beberapa buku dari tas hitamnya kemudian ia berikan pada Ren.

Ren mengambil lalu memeriksa buku-buku itu. Sesekali, ia menggeleng melihat halaman demi halaman buku tersebut. "Apa tidak ada nilai yang lebih bagus lagi selain 2?" tanya Ren dengan nada keras.

Ariel tertunduk.

"KENAPA KAU DIAM SAJA, HAH?!" bentak Ren. "Nilaimu semuanya 0, paling tinggi hanya 2."

"Cukup ayah!" kata Hammy sambil memandang Ren. "Ariel... Ayo sekarang kau istirahat dulu! Setelah itu jangan lupa makan yaa...," lanjutnya sambil melirik Ariel dan tersenyum.

Ariel mengangguk, dengan wajah lesu ia pun pergi dari sana. Begitu sampai di kamarnya yang terletak di lantai atas, Ariel langsung merebahkan dirinya di kasur. Ia sangat sedih dengan kehidupannya yang sangat menderita. Ia berpikir kenapa ia harus lahir ke dunia jika harus mengalami berbagai macam hal buruk yang membuatnya tidak ingin hidup lagi? Di saat seperti itu, tiba-tiba Ariel mendengar suara ribut-ribut dari lantai bawah. Suara itu milik ibu dan ayahnya yang berdebat mengenai dirinya. Ibunya terus membela Ariel, sedangkan ayahnya terus memojokkan Ariel dan mengatakan Ariel anak yang tidak berguna dan lebih baik ditaruh di panti asuhan saja. Ariel memang kaya raya, tapi hidupnya tidaklah bahagia, karena hampir setiap hari ia mendengar pertengkaran ayah dan ibunya yang berbeda pendapat mengenai dirinya, ayahnya selalu memojokkannya sementara ibunya selalu membelanya. Ariel hanya bisa berharap agar hal itu cepat berlalu.

Esoknya di SD Zippon, Akab dan Dungo terlihat sedang memalak seorang anak berkulit hitam dengan rambut yang keriting. Ariel yang kebetulan melihat hal itu segera berlari ke tempat kejadian.

"Hey kalian! Hentikan!" teriak Ariel.

Akab dan Dungo pun menoleh ke arah Ariel.

"Apa kau bilang?" Dungo langsung menarik kerah baju Ariel.

"Apa kalian tidak kasihan pada orang-orang yang selalu kalian palak?" tanya Ariel. "Mereka kan juga butuh uang untuk jajan. Di mana hati kalian?!"

"Berisik!!" teriak Dungo yang langsung meninju Ariel hingga jatuh terjerembab dan berdarah di bibirnya.

"Tolong kembalikan uang dia! Sebagai gantinya, kalian boleh mengambil semua uangku!" ucap Ariel.

"Hmm ..." Akab berpikir sebentar, sebelum akhirnya berkata, "Baiklah."

Ariel pun mengeluarkan semua uang yang dia punya dan langsung diambil oleh Dungo.

Setelah mengembalikan uang si bocah keriting bernama Kizama itu, Akab dan Dungo pergi dengan hati riang sambil tertawa terbahak-bahak karena ternyata uang Ariel jauh lebih banyak dibanding uang Kizama.
.
.
.
Ketika jam istirahat tiba, di kantin, Kizama akhirnya bisa gembira. Ia jajan bersama teman-temannya, bercanda, dan bercengkrama. Tak lama kemudian, Ariel datang. Ia ikut senang melihat Kizama senang.

"Hai, Kizama...," sapa Ariel. "Akhirnya kau bisa jajan juga ya." Ia pun tersenyum.

Dahi Kizama mengernyit. Dengan tatapan sinis ia berkata, "Dasar Pecundang! Untuk apa kau ke sini, hah?! Ingin meminta jajan padaku kah?"

"Ti-tidak kok," jawab Ariel. "Aku hanya senang saja melihat temanku senang. Apakah aku boleh bergabung dengan kalian?"

"Teman?? Bergabung?? Lebih baik kau berkaca sana!" balas Kizama. "Orang sepertimu tidak pantas bergabung di sini! PERGI!"

Ariel langsung tertunduk lesu. Dengan perasaan sedih, ia pergi dari tempat itu.

Setelah bel masuk berbunyi dan semua murid masuk ke kelas masing-masing, di kelas 4A wali kelas mengumumkan kalau besok libur caturwulan selama satu bulan. Dan selama satu bulan itu mereka harus menulis pengalaman paling berharga mereka selama satu bulan penuh. Setelah itu, sekolah dibubarkan. Hari ini pulang cepat. Di depan gerbang sekolah, setelah agak sepi, Akab mendorong Ariel yg baru saja keluar hingga jatuh. Seperti biasa, ia berdua dgn Dungo. Akab bilang, "Maaf, sengaja." sambil tertawa terbahak-bahak. Setelah itu Ariel ditendangi habis-habisan oleh mereka berdua. Setelah puas, mereka berdua pun pergi meninggalkan Ariel yang menangis dan meringis kesakitan di tepi jalan. Seragam sekolah bocah itu kotor semua.

Karena hari ini sopir Ariel tidak menjemput Ariel karena sakit, akhirnya Ariel pulang sendirian. Ayahnya sedang di kantor dan tidak bisa diganggu. Lagipula jarak antara rumah Ariel dan sekolahnya lumayan dekat. Ketika melewati sebuah lapangan, Ariel melihat orang-orang tengah latihan beladiri. Ariel terkejut kala melihat yang salah satu orang yang melatih beladiri itu adalah teman ayahnya bernama Hiro Souji yang sering berkunjung ke rumahnya. Ariel pun langsung berjalan ke arah lapangan itu dan duduk di bangku yg ada dekat sana. Ariel berpikir, jika dia bisa beladiri, dia pasti bisa melawan Akab dan Dungo serta tidak merepotkan Kazuya lagi. Setelah latihan beladiri itu selesai, Ariel menghampiri Hiro.

Hiro yang melihat Ariel menghampirinya pun tersentak. "Ariel?"

"Apa kabar, Paman Hiro...," ucap Ariel sambil tersenyum.

"Aku baik-baik saja. Kenapa kau bisa ada di sini?" ucap Hiro. Rambutnya ikal agak panjang dan belah pinggir, wajahnya lonjong, matanya kecil, hidungnya mancung, bibirnya kecil, dan daun telinganya kecil. Ia mengenakan seragam 'beladiri' serba putih dan sabuk hitam strip tiga. Di dada sebelah kirinya ada lambang kepalan tinju yang ditiban tulisan 'Zippon Karate-Do' berwarna merah

"Kebetulan jalan pulang ke rumahku lewat sini. Aku tadi tak sengaja melihat paman melatih orang-orang beladiri, makanya aku mampir."

"Ooh... Kau sendiri, bagaimana kabarmu?" kata Hiro. Dahinya kemudian mengernyit. "Lalu kenapa pakaianmu kotor begitu?"

"Aku tadi terpeleset, makanya pakaianku kotor. Kabarku yaa seperti biasa, paman. Aku tak menyangka ternyata paman pelatih beladiri."

"Hahaha...." Hiro menggaruk kepalanya. "Begitulah. Kau baru tahu?"

Ariel mengangguk, kemudian berkata, "Paman, kalau latihan beladiri di sini bayar berapa ya?"

"Memangnya kenapa?"

"Aku ... Ingin belajar beladiri di sini."

"Benarkah?"

"Um!" Angguk Ariel.

Hiro menepuk bahu Ariel dan berkata, "Khusus untukmu, tidak usah bayar, gratis!"

"Sungguh??" Mata Ariel berbinar.

Hiro pun mengangguk dan tersenyum.

"Terimakasih, paman," ucap Ariel sambil tersenyum lebar.

Keesokan harinya, pagi-pagi sekali, Ariel di-sms oleh Hiro agar langsung datang ke tempat latihan di lapangan yang kemarin hari ini juga. Dengan penuh semangat, Ariel pun langsung siap-siap. Ia segera mandi dan berganti pakaian dengan pakaian beladiri yang sama seperti Hiro, hanya saja sabuknya putih. Ketika tiba di ruang makan dan sarapan, Hammy, ibu Ariel, kaget melihat anaknya mengenakan pakaian beladiri. Ariel pun menjelaskan bahwa ia ingin latihan beladiri bersama Hiro, teman ayahnya. Hammy pun senang dan memberikan semangat pada putranya. Setelah sarapan, Ariel langsung bergegas pergi ke tempat latihan ditemani supirnya.

Begitu sampai di tempat latihan dan bertemu dengan Hiro, pria itu menyuruhnya latihan dari awal dengan teman Hiro sesama guru beladiri bernama Manabu. Setelah agak jauh materi latihannya, baru ia latihan dengan Hiro. Ariel pun dengan senang hati menerimanya dan langsung berkumpul dengan barisan ketiga yang ada di sana. Di sana, Ariel ditempa fisik dan mentalnya dengan latihan-latihan fisik seperti push up, sit up, squad jump, dan berlari mengitari lapangan. Setelah itu latihan beladiri dari tingkat dasar dan mempelajari filosofi dan berbagai literatur beladiri.

Usai latihan, Ariel meminta Hiro mengajarinya melakukan banyak hal secara sempurna seperti Hiro yang dikenal multitalenta, termasuk pintar dalam pelajaran sekolah agar bisa membuat orangtuanya bangga. Hiro pun dengan senang hati mengajari Ariel dari nol.

Berhari-hari Ariel latihan beladiri bersama Manabu. Awalnya, Ariel tidak kuat. Tapi, ia memaksakan diri hingga akhirnya terbiasa. Setelah Ariel dibilang cukup mahir dan naik tingkat dari sabuk putih menjadi sabuk merah, barulah ia dilatih oleh Hiro. Hiro dibuat terkejut karena Ariel begitu cepat naik tingkat. Lalu selain beladiri, Ariel juga belajar berbagai hal bersama Hiro hingga masa liburannya habis dan Ariel kembali ke sekolah. Di sekolah, sebelum guru masuk, Ariel terlihat sedang membaca buku pelajaran, hal yang biasanya tidak akan dilakukan oleh Ariel.

Tidak lama kemudian, Akab dan Dungo masuk kelas. Akab menyeringai licik tatkala melihat langganan bully-nya. Ia pun segera menghampiri Ariel bersama Dungo. Akab menyapa Ariel dgn ejekan seperti biasanya. Sekarang, sebagai penghilang rasa suntuk, Akab mau bermain-main dengan bahan bully'annya itu. Mula-mula, Akab menggulung buku dan mengayukannya ke kepala Ariel.

Akan tetapi... Ariel berhasil menangkap pergelangan tangan Akab kemudian memelintirnya serta mengayunkannya ke samping, membuat tubuh Akab terlempar menabrak meja seberang.

Dungo yg melihatnya melongo. Ia segera menghampiri bossnya untuk memastikan kalau bossnya tidak apa-apa.

Ariel keluar dari tempat ia duduk dan memandang Akab.

Akab kembali bangun, dan berkata, “Sudah mulai jago kau sekarang. Tapi sepertinya kau cuma beruntung, Pecundang. Dungo, habisi dia!”

Dungo pun langsung maju untuk menghajar Ariel. Namun, serangan Dungo semuanya mampu ditepis serta dihindari oleh Ariel. Sampai akhirnya, Dungo terpelanting ke belakang dan terguling, karena mendapat tendangan keras di perutnya. Saat itu, anak-anak yang ada di kelas serta yang baru datang langsung menjadi penonton.

Akab menggeleng-gelengkan kepala dan mengucek-ngucek matanya, memastikan bahwa ia tidak mimpi. "I-ini sungguhan? Tapi, aku masih penasaran!" Ia pun segera maju menghajar Ariel. Hasilnya? Semua serangan Akab tidak ada apa-apanya. Dan nasibnya sama seperti Dungo. Keduanya sama-sama babak belur. Tapi Akab tidak menyerah, ia mengambil sapu untuk menyerang Ariel. Namun, begitu sapu dipukulkan, sapu tersebut patah ketika berbenturan dengan tangan kiri Ariel yang menangkisnya.

Akab kaget bukan kepalang. Kazuya saja tidak bisa melakukan itu. Berarti, sekarang Ariel lebih kuat dibanding Kazuya dan Akab bukanlah tandingannya.

Ketika Ariel hendak menghajar Akab lagi, bocah nakal itu langsung minta-minta ampun.

Ariel menatap Akab dan Dungo dengan tatapan tajam. "Mulai hari ini, berhenti memanggilku Si Pecundang dan berhenti memalak dan membully orang lagi. Jika tidak, aku tidak segan-segan menghajar kalian lagi tanpa ampun!"

"B-baik!" ucap Akab dengan bibir bergetar. Sementara Dungo mengangguk dengan tubuh gemetaran.

Tepuk tangan dan sorak sorai dari para murid langsung terdengar. Kemudian mereka menghampiri Ariel, mengangkat tangannya serta meneriaki namanya seolah seperti seorang pemenang tinju. Orang-orang yang dulu meremehkan serta menjauhinya, sekarang salut dan saling berebut ingin menjadi temannya karena berhasil mengalahkan Akab dan juga Dungo yang merupakan algojo sekolah. Namun, Ariel menyuruh mereka semua minggir. Ia bilang, kenapa setelah ia berhasil mengalahkan pentolan sekolah itu, baru mereka ingin berteman dengannya? Kenapa baru sekarang? Lalu kemana saja mereka dulu-dulu ketika ia masih berada dibawah? Ketika ia masih terpuruk hingga mendapat gelar nama yang jelek? Mereka malah menjauh. Menghindar. Bahkan menolak. Memandang Ariel seperti sampah. Bagaimana jika ia sampai sekarang tidak bisa mengalahkan Akab dan Dungo? Ariel yakin, mereka semua masih seperti dulu, tidak mau berteman dengan anak lemah, payah, dan selalu menjadi bahan bully'an setiap hari seperti dirinya. Ariel benci pada orang-orang seperti mereka, terutama Kizama yang paling semangat ingin menjadi teman Ariel sekarang. Ia ingat betul bagaimana perlakuan Kizama padanya.

“Seharusnya kalian malu pada diri kalian!!!” teriak Ariel penuh kemarahan.

Seisi kelas tertunduk. Saat itu, Kazuya datang untuk mengembalikan komik milik Ariel. Ia yang menghampiri Ariel kaget melihat Akab dan Dungo babak belur.

"Ariel, ada apa ini? Kenapa mereka babak belur seperti itu?" tanya Kazuya.

"Mereka ingin membullyku seperti biasa, tapi akhirnya mereka kalah berkelahi denganku," jawab Ariel.

Kazuya terkejut dan matanya membelalak. "Apa?? Bagaimana bisa??"

"Simpelnya, aku yang sekarang bukanlah aku yang dulu."

"Haah???" Kazuya melongo dan masih tak menyangka dengan apa yang dilihatnya.

"Dengar kalian semua wahai orang-orang yang tidak punya hati," ucap Ariel pada seisi kelas. " Bagiku, hanya Kazuya lah yg bisa disebut 'teman sejati'. Selain ramah, baik hati, sopan, rendah hati, berbudi luhur, pintar, kuat, pemberani, Kazuya juga tidak pilih-pilih teman dan bisa menerima orang apa adanya. Ketika tidak ada seorangpun yang mau menerimaku, cuma Kazuya lah satu-satunya yang setia menemaniku. Kazuya tidak pernah merasa malu berteman denganku, bahkan menerima segala kekurangan yang kumiliki saat itu."

Kazuya terharu. Air mata menetes dari pelupuk matanya. "Terimakasih, Ariel."

Ariel mengangguk. Seisi kelas kembali tertunduk, seraya berpikir atas apa yang mereka lakukan selama ini.

Setelah itu, wali kelas masuk. Murid-murid pun segera kembali ke tempat duduk masing-masing, dan Kazuya keluar dari kelas itu dan kembali ke kelasnya di kelas 4B. Wali kelas menyuruh murid-murid mengumpulkan tugas mereka yang sudah diberi waktu selama satu bulan. Setelah sang wali kelas membaca semua tugas, ia mengumumkan bahwa yg paling bagus adalah milik Ariel dan ia dapat nilai tertinggi. Tepuk tangan langsung riuh dari murid-murid. Ini adalah yang pertama kalinya terjadi dalam hidup Ariel. Meski Ariel diam saja menanggapinya karena masih kesal dengan mereka.

Ariel pulang sekolah dgn tatapan dingin. Semenjak kejadian di sekolah, Ariel berubah menjadi orang yang dingin. Ia bersumpah ingin mengubur dirinya yang lama, karena percuma saja bersikap ramah dan hangat pada orang. Baginya, hampir semua orang itu sama saja. Dan Mulai hari ini, ia tidak ingin sembarangan bergaul.

Begitu sampai ke rumah, mata Ariel membelalak. Ia melihat ayah dan ibunya ditusuk oleh seorang wanita di depan rumahnya, wanita berpakaian kantoran serba hitam. Wajahnya oval, matanya bulat dengan alis yang tebal, hidungnya pipih, dan bibirnya tebal. Daun telinganya yang lumayan besar tertutup oleh bagian samping rambutnya yang panjang sepunggung.

Ariel pun segera turun dari mobil, membuka pagar yang kebetulan tidak digembok, dan berlari menghampiri orang tersebut lalu menyerangnya dengan tendangan terbang. Tapi, kaki Ariel ditangkap dan tubuhnya dilempar begitu saja. Orang tersebut bilang jangan mengganggunya karena dia harus pergi dan punya urusan penting.

Setelah orang itu pergi, Ariel menghampiri ayah dan ibunya yang tergeletak bersimbah darah. Ibunya sudah tidak bergerak dan tidak bernapas lagi, sementara ayahnya masih bisa bergerak sedikit-sedikit.

"Ariel...," panggil Ren.

Dengan berlinang air mata Ariel berkata, "Ayah... Kenapa orang itu menusuk ayah dan ibu? Siapa dia?"

"Orang itu adalah teman bisnis ayah," jawab Ren. "Setelah keluar dari pekerjaannya, orang itu meminta ayah membuatkan senjata pemusnah massal. Ayah bingung dan tidak menuruti keinginannya, hingga akhirnya ayah ditusuk, dan ibu yang berusaha menolong ayah ditusuk juga. Ariel ... Kuharap mulai saat ini kau jadi orang yang hebat, agar bisa meneruskan ayah sebagai pemilik perusahaan Techno Corporation. Maafkan sikap ayah yang selama ini keras padamu. Ayah melakukan itu semua agar kau jadi orang yang berguna. Ayah sayang kamu." Setelah itu ia menghembuskan napas terakhirnya.

"Ayah ayah!" Ariel menggoncang-goncangkan tubuh ayahnya. Ia mengecek aliran napas dan denyut nadi ayahnya, kedua bagian itu tidak menunjukkan tanda kehidupan. Ariel pun berteriak keras, "Ayah!!! Ibu!!!"

Keesokan harinya di tempat latihan, Ariel menceritakan kematian orangtuanya pada gurunya, Hiro. Ariel bersumpah akan menuntut balas atas perbuatan orang yang membunuh orangtuanya. Hiro turut berduka cita atas apa yg menimpa Ariel, setelah itu ariel latihan seperti biasa. Latihan hari ini sore hari, karena paginya Ariel harus sekolah.

Malam harinya, Hiro dan Ariel pergi jalan-jalan ke mall. Mereka membeli banyak sekali belanjaan dan bersuka ria, melepas kesedihan Ariel atas kematian orangtuanya sejenak. Hari itu Ariel hanya bersikap hangat pada orang terdekatnya.

Namun, tiba-tiba, Ariel dan Hiro tersentak ketika mendengar teriakan minta tolong dari seorang bocah laki-laki. Hiro pun menghetikan motor sport merahnya. Tak lama, bocah laki-laki berbaju hijau muncul ke hadapan Hiro dan Ariel dan tengah di kejar oleh seseorang sambil terus berteriak minta tolong. Seseorang itu sangat dikenali oleh Ariel.

"Orang itu ... Dia yang telah membunuh ayah dan ibu," ucap Ariel kaget.

Hiro pun tak kalah kagetnya dengan Ariel. "Kalau begitu, kebetulan sekali, akan kubalaskan dendam ayah dan ibumu hari ini juga!"

Setelah turun dari motor, Hiro menghadang wanita yang tengah mengejar si bocah laki-laki sembari berkata, "Hari ini adalah ajalmu! Bersiap-siaplah!"

"Hooh. Begitu ya?" ucap wanita itu. "Kau lah yang akan jadi korbanku berikutnya. Aku adalah Elzoner, Mechaster terhebat dan terkuat, dan tidak akan memberi ampun kepada siapapun yang menghalangiku!"

"Mechaster?" kata Hiro. "Bagus sekali! Aku akan menghabisimu hari ini juga!" Kemudian ia memasang kuda-kuda lalu menatap Ariel sebentar. "Ariel, cepat pergi dan carilah tempat sembunyi!"

Ariel mengangguk dan beranjak pergi dari sana menuju semak-semak yang ada di jalan itu.

Elzoner meninju telapak tangan kirinya yang ia angkat setinggi dada sembari berteriak, "Mecha!!"

Tiba-tiba saja di samping kanan dan kiri Elzoner muncul bagan baja kotak keperakan yang langsung menyatu dan membungkus tubuh Elzoner. Tak lama, bagan itu kembali memisah dan tubuh Elzoner pun berubah menjadi manusia robot berkepala seperti 'uvo'.

Hiro mengambil sebuah benda bernama Blitzdrive dari balik jaketnya, lalu menempelkan benda itu di depan pinggangnya dan menekan permata merah yang ada di permukaan depan Blitzdrive, membuat sebuah tali sabuk perak bergaris tebal hitam keluar dari sisi kanan dan kiri Blitzdrive dan menyatu di belakang pinggang Hiro, membentuk sebuah sabuk dengan Blitzdrive sebagai kepalanya. Setelah itu, Hiro mengambil selembar kartu berlambang Blitz Crest pada permukaannya dari dalam kotak yang menempel di sebelah kanan sabuknya.

"Henshin!!" teriak Hiro seraya memasukkan kartu yang dipegangnya ke dalam lubang tipis yang di permukaan atas kepala sabuknya.

Permata merah pada Blitzdrive milik Hiro menyala terang dan memancar sejauh 1,5 meter, membawa hologram berbentuk manusia bertanduk pipih dengan berbagai macam lekukan di tubuhnya. Hologram itu mundur ke arah Hiro yang berjalan ke arahnya, hingga akhirnya hologram itu membungkus tubuh Hiro. Begitu hologram tersebut terserap sepenuhnya di tubuh Hiro, ia pun beralih rupa menjadi Kamen Rider Blitzer. Cahaya pada permata Blitzdrive meredup, lensa mata biru besar helm Blitzer mengedipkan cahaya biru terang.

"Hooh seorang Kamen Rider? Sudah kuduga kau bukanlah orang biasa," ucap Elzoner.

"Hreeaaa!!!" Blitzer berlari ke arah Elzoner sambil menyiapkan kepalan tinju.

Tapi, Elzoner hanya diam dan menatap Blitzer tanpa beranjak dari tempatnya berpijak.

Begitu Blitzer mencapai jarak yang dapat dijangkaunya, ia segera mengayunkan tinju ke wajah Elzoner. Namun, Elzoner mampu menghindari serangan itu dengan tenang.

Melihat hal demikian, Blitzer mengayunkan tangan yang satunya untuk menapak dada Elzoner. Tapi, Elzoner berhasil menangkap tangan Blitzer dan memelintirnya. Blitzer yang dipelintir tangannya memutar tubuhnya ke samping, hingga ia terlepas dari pelintiran Elzoner dan langsung menendang Elzoner tepat ke arah perutnya. Elzoner dengan cepat menepis tendangan tersebut dan melakukan serangan balasan dengan tendangan ke arah kepala Blitzer yang ternyata berhasil dihindari oleh rider itu. Kemudian Blitzer kembali menyerang Elzoner dengan beberapa 'jurus' pukulan dan tendangan. Akan tetapi, itu semua tidak ada artinya bagi Elzoner, ia terus menghindari dan menangkis serangan-serangan Blitzer dengan tenang. Tak lama, Elzoner menemukan daerah pertahanan Blitzer yang terbuka, ia pun segera melesakkan tinju ke perut Blitzer hingga tembus ke belakang. Begitu Elzoner menarik kembalu tinjunya, tubuh Blitzer pun langsung roboh ke tanah dengan perut yang bersimbah darah dan kembali ke wujud Hiro.

Elzoner menatap Hiro beberapa detik, sebelum akhirnya berkata, "Sekarang kau lihat, siapa yang dijemput oleh ajal." Sebelum akhirnya berubah menjadi hologram dan menghilang.

Ariel yang bersembunyi di balik semak-semak pun langsung keluar dan menghampiri Hiro. "Paman Hiro, kau tidak apa-apa?" tanyanya.

"Aku... Ahakh!" Hiro muntah darah. "Sudah tidak kuat lagi. Ahakh!"

"Paman Hiro, bertahanlah... Aku akan memanggil ambulans," ucap Ariel panik.

"Ti-tidak perlu!" balas Hiro. "Ajalku sudah menjemput. Tidak perlu kau memanggil ambulans."

"Tidak! Tidak, paman! Jangan berkata seperti itu!" Air mata pun keluar membasahi pipi Ariel.

Hiro melepas Blitzdrive dari pinggangnya dan memberikannya pada Ariel. "Ini! Balaskanlah dendam orangtuamu dengan ini dan berlatihlah Karate-Do lebih keras lagi!"

Ariel pun menerima Blitzdrive tersebut. "Apa ini, paman?"

"Itu Blitzdrive. Dengan itu kau bisa berubah menjadi sepertiku tadi, menjadi Kamen Rider bernama Blitzer. Gantikanlah posisiku sebagai pembasmi Mechaster. Itu adalah permintaan terakhirku padamu," ucap Hiro. Ia kembali muntah darah.

"Apa itu Mechaster?" tanya Ariel.

Hiro langsung melepas tas kecil yang tersampir di bahunya lalu memberikannya pada Ariel. "Ini! Di dalamnya ada beberapa alat untuk menunjang aksimu. Di dalamnya juga ada beberapa buku yang berguna untukmu sebagai penggantiku. Dan di salah satu buku ada yang menjelaskan tentang Mechaster dan siapa mereka sebenarnya. Lalu yang tadi melawanku adalah salah satu bangsa Mechaster. Terakhir, ambillah motorku sebagai penunjang aksimu juga."

"Tidak, Paman Hiro kau harus bertahan!" ucap Ariel.

"Tolong, Ariel. Itu permintaan terakhirku. Se-selamat ti-tinggal." Akhirnya Hiro pun menghembuskan napas terakhirnya.

"Paman Hiro! Paman Hiro, bangun! Bangun Paman Hiro! Bangun!!!" kata Ariel sambil mengguncang-guncankan tubuh Hiro. Setelah itu ia memerika napas dan denyut nadi Hiro. Keduanya sudah berhenti. Ariel pun berteriak keras, "Paman Hiro!!!"

Hujan turun membasahi bumi, seolah turut menangisi kepergian Hiro. Di tengah rintik hujan, Ariel hanya bisa menangis sambil memeluk jasad Hiro. Orang-orang yang ia sayangi kini telah tiada, meninggalkannya menuju alam baka. Ariel pun jadi makin dendam terhadap Mechaster dan bersumpah ingin menghabisi mereka semua, terutama Mechaster yang membunuh orangtuanya dan Hiro. Ia akan membalas semuanya tanpa kurang sedikit pun.

Hari-hari Ariel lalui dengan berbagai macam latihan yang telah diajari Hiro sebelumnya, kecuali latihan beladiri, dia diajari oleh guru lain dan terkadang mempelajarinya lagi di rumah. Ariel jadi tambah bersemangat untuk membasmi Mechaster setelah tahu bahwa semua alat dan buku-buku yang Hiro berikan padanya adalah buatan ayahnya, kecuali buku 'Jurus Rahasia Karate-Do', buku itu adalah milik Hiro. Ia ingin membuat ayahnya bangga di akhirat sana. Tapi, tujuan Ariel membasmi Mechaster bukanlah melindungi manusia, melainkan balas dendam, terutama pada Mechaster yang telah membunuh kedua orangtuanya dan Hiro serta menunaikan permintaan terakhir Hiro. Sungguh disayangkan memang. Itu semua karena Ariel tidak mau melindungi orang-orang yang bukan siapa-siapanya dan tak bisa dipercaya seperti orang-orang yang Ariel temui di sepanjang perjalanan hidupnya, mereka teramat licik, egois, dan berpotensi menjadi tukang bully yang sangat Ariel benci seumur hidup. Itulah yang membuat pola pikir Ariel menjadi seperti itu. Selain itu, semenjak kejadian menumbangkan Akab dan Dungo di sekolah, sifatnya menjadi sangat dingin dan tidak ingin bergaul dengan sembarang orang apalagi orang yg berpotensi menjadi tukang bully. Ariel memiliki kemampuan bisa mengetahui siapa saja orang yg berpotensi menjadi tukang bully.

Waktu terus bergulir, Ariel pun tumbuh menjadi orang yang kuat dan multitalenta serta dikagumi oleh banyak orang berkat latihan-latihan yang diberikan Hiro dan tekadnya untuk belajar dengan sungguh-sungguh sejak Hiro tiada. Tak lupa, ia juga mempelajari tentang Mechaster dari buku yg ada di dalam tas kecil yg diberikan Hiro. Di buku itu disebutkan bahwa Mechaster adalah bangsa monster berbentuk robot yang berasal dari luar angkasa. Setelah planet mereka hancur, Mechaster yang masih tersisa menggunakan pesawat mereka untuk memilih tempat hidup baru, hingga akhirnya terpilihlah planet bumi. Di bumi, mereka mencari segala yang bisa mereka makan serta mencari tempat tinggal. Makanan mereka sama seperti manusia bumi pada umumnya, hanya saja minuman mereka adalah 'bensin' dan minuman lebih pokok dibandingkan makanan. Wujud awal mereka sama seperti manusia bumi dengan warna darah yang sama, namun wujud keduanya adalah 'monster robot' seukuran manusia pula walau ada sebagian yang lebih tinggi dari manusia.

Di bumi, Mechaster membunuh setiap manusia yang mereka temui secara membabi buta dan merampas makanan serta bensin mereka. Hal itu terus berlangsung selama beberapa tahun hingga membuat 'pihak keamanan' sangat kerepotan. Sampai akhirnya, setelah para Mechaster berdiskusi untuk menentukan siapa pemimpin baru bangsa mereka, barulah sistem 'bunuh membunuh' yang dilakukan bangsa Mechster menjadi lebih tertata. Pemimpin baru ini memiliki prinsip 'membudaki manusia untuk hidup'. Para Mechaster diajari bagaimana membudaki manusia secara 'cerdas', untuk menguras segala apa yang manusia punya (terutama bensin) menjadi milik Mechaster. Meski demikian, para Mechaster tetap membunuh manusia walau mereka melakukannya cuma untuk berlomba-lomba menjadi pemimpin bangsa, petinggi mereka atau karena alasan lain yang mengharuskan mereka membunuh manusia tersebut. Mechaster menciptakan sebuah alat yang dapat mendeteksi berapa banyak orang yang sudah dibunuh oleh satu Mechaster. Alat tersebut berupa papan bernama 'Killer Board' yang memuat nama 100 Mechaster dengan rekor membunuh terbanyak. Dan posisi rangking mereka dapat berubah kapanpun secara otomatis. Jika Mechaster rangking 100 mati, maka posisinya akan digantikan otomatis oleh Mechaster yang memiliki rekor membunuh dibawahnya. Bila yang mati Mechaster rangking 2, maka posisinya digantikan oleh Mechaster rangking 3, Mechster rangking 3 digantikan oleh Mechster rangking 4 dan seterusnya sampai 100, dan yang 100 digantikan oleh Mechster dengan rekor membunuh yang hampir mendekati Mechster ke-100. Barangsiapa yang bisa menggeser posisi pemimpin Mechaster yaitu posisi 1, maka ia berhak menjadi pemimpin, dengan catatan harus duel dengan pemimpin Mechaster sampai mati. Jika gagal, maka kepemimpinan tidak berpindah. Killer Board juga ada dalam bentuk kecil seukuran 'smartphone' dan dimiliki oleh semua Mechaster selain Killer Board di markas rahasia Mechaster yaitu Mecha Castle. Killer Board kecil tersebut memiliki kelebihan yakni setiap Mechaster bisa melihat jumlah manusia yang sudah mereka bunuh lewat menu khusus, jadi memudahkan Mechaster yang belum masuk 100 besar.

Di bawah pemimpin, ada dua petinggi. Syarat untuk menjadi petinggi sama seperti syarat untuk menjadi pemimpin. Jika sewaktu-waktu pemimpin mati, maka posisinya akan digantikan oleh Mechaster yang telah masuk rangking pertama, tapi dia harus melawan petinggi pertama dan kedua, bertarung sampai mati. Kalau menang maka ia akan jadi pemimpin, sementara petinggi pertama posisinya digantikan dengan Mechaster yang berhasil masuk ke rangking 2 dan petinggi kedua dengan Mechaster yang berhasil masuk rangking 3. Kalau yang naik ke rangking 1 adalah petinggi pertama, maka ia langsung jadi pemimpin menggantikan pemimpin yang sudah mati tersebut, dan petinggi kedua menjadi petinggi pertama, lalu yang jadi petinggi keduanya adalah Mechaster rangking 3. Jika petinggi pertama mati, posisinya akan digantikan oleh petinggi kedua, sementara yang mengisi kekosongan posisi petinggi kedua adalah Mechaster rangking 3. Kalau pada saat itu ada yang merangkak naik ke rangking 2, maka ia harus duel dengan petinggi kedua sampai mati, jika menang maka ia akan jadi petinggi pertama dan posisi petinggi kedua diisi oleh Mechaster dengan rangking 3, namun jika kalah yang jadi petinggi pertama adalah petinggi kedua dan yang jadi petinggi kedua adalah Mechaster ber-rangking 3. Bila petinggi kedua yang mati, maka posisinya digantikan oleh Mechaster yang sudah masuk rangking 3. Jika pemimpin, petinggi pertama, dan kedua mati secara bersamaan, maka akan digantikan oleh Mechaster yang sudah masuk rangking 1, 2 dan 3 dalam Killer Board. Kalau yang mati cuma petinggi pertama dan kedua, maka posisinya digantikan dengan Mechaster yang berhasil masuk rangking 2 dan 3. Petinggi pertama Mechaster harus memiliki posisi 2 dalam Killer Board, sedangkan petinggi kedua posisi 3. Apabila suatu saat posisi petinggi pertama digeser oleh petinggi kedua, maka diadakan duel sampai mati. Bila petinggi kedua menang, maka ia berhak berganti posisi menjadi petinggi pertama, dan posisi petinggi kedua diisi oleh Mechaster rangking 3. Jika kalah, maka posisi tidak berpindah dan posisi petinggi kedua yang telah mati digantikan oleh Mechaster yang sudah masuk rangking 3. Jika kedua rangking petinggi tersebut dibalap oleh Mechaster yang bukan petinggi maka akan diadakan duel sampai mati juga. Kalau menang maka bisa menjadi petinggi, kalau kalah tentu saja mati, dan Killer Board terus berjalan sebagaimana mestinya. Semua keputusan adalah mutlak dan tidak dapat diganggu gugat.

Pemimpin para Mechaster memiliki wewenang memerintah seluruh Mechaster sekehendaknya. Petinggi pertama memiliki wewenang memerintah seluruh Mechaster termasuk petinggi kedua. Sementara petinggi kedua wewenangnya cuma memerintah seluruh Mechaster biasa. Sebutan rangking pemimpin dalam bangsa Mechsater adalah 'Emperor', sedangkan petinggi pertama dan petinggi kedua 'Elder Knight', lalu Mechaster dengan rangking 4 sampai 10 adalah 'Elite'

Jika suatu saat ada yang melanggar hukum yang diciptakan pemimpin Mechaster, maka dia akan dihukum mati. Salah satu pelanggaran hukum di dunia Mechaster yaitu membunuh pemimpin atau petinggi Mechaster padahal rekor membunuh manusianya belum mencukupi untuk menjadi pemimpin atau petinggi.

Para Mechaster hidup berpencar dan tersebar di seluruh dunia. Mereka berkembang biak dengan cara kawin seperti manusia. Namun, Mechaster 'sangat dilarang' menikah dengan manusia. Jika ada yang ketahuan melakukannya, maka akan dihukum mati. Itulah kira-kira penjelasan tentang Mechaster yang dikutip dari salah satu Mechaster yang pernah ditawan oleh Hiro sebelum akhirnya dibunuh. Selain membaca buku tentang Mechaster, Ariel juga membaca buku lain, salah satu contohnya adalah 'Kamen Rider Blitzer Manual Book'. Di salah satu halaman buku tersebut dijelaskan bahwa asal nama Kamen Rider Blitzer terinspirasi dari para pahlawan super yang melindungi Jepang bernama 'Kamen Rider'. Sedangkan kata Blitzer diambil dari nama lambang data yang muncul ketika ayah Ariel menciptakan rider sistem tersebut, nama lambang datanya adalah 'Blitz Crest' dan hanya diambil kata 'Blitz' nya saja yang digabung dengan kata 'Er' yang berasal dari akhiran kata 'User'. Jadi Blitzer adalah Blitz User. 'Blitzer Rider System' yang alatnya dinamai 'Blitzdrive' yang mampu memberikan penggunanya kekuatan super sendiri diciptakan tahun 2001, 3 tahun setelah Mechaster datang ke bumi pada tahun 1998. Armor Kamen Rider Blitzer sendiri dibuat dari baja terkuat, dan suit-nya dibuat dari baja sintetis terkuat pula. Untuk menanggulangi kejahatan makhluk itu, dipilihlah Hiro sebagai pengguna Blitzdrive karena kemahirannya dalam beladiri. Selain Blitzdrive, ayah Ariel, Professor Ren Matsuyama, juga menciptakan 'memory' yang bisa digunakan di berbagai jenis ponsel, gunanya untuk melacak Mechaster. Ketika Mechaster terlacak, ponsel yang sudah ditaruh memory itu secara otomatis akan menampilkan titik merah dan nama dari Mechaster yang terlacak, pengeculian untuk pemimpin dan petinggi Mechaster, mereka tidak bisa terlacak. Selain itu, ada juga motor yang bisa berubah wujud yang sebelumnya dipakai oleh Hiro sebagai penunjang aksi seorang pengguna Blitzer Rider System. Kesemua alat peninggalan Hiro yang diciptakan oleh Professor Ren Matsuyama itu baru Ariel gunakan ketika ia berumur dua puluh tahun.

-Flashback selesai-

Jadi begitulah kehidupan seorang Ariel Matsuyama. Hingga kini, Ariel masih menjadi orang hebat dan multitalenta lagi sempurna. Walau ia masih suka membolos kuliah, tapi itu tetap tidak mengurangi kualitas diri dan kemampuannya. Ariel juga ingin menunjukkan pada dunia bahwa ia bukanlah Si Pecundang yang tidak bisa apa-apa seperti dulu. Memang, kalau kita bersungguh-sungguh, apapun bisa diraih, contohnya adalah apa yang terjadi pada diri Ariel.

Setelah membayangkan masa lalunya sambil berjalan, Ariel pun pergi ke perpustakaan dan membaca beberapa buku di sana. Baginya, membaca adalah salah satu sarana untuk mengenal dunia.

To Be Continued

[FanFic] Kamen Rider Blitzer (Episode10: NEGA)

Episode 10: NEGA
Di sebuah gua yang terletak di perbukitan ujung kota Zippon yang sama sekali tak menarik perhatian orang-orang untuk memasukinya, apalagi sering terdengar kabar mengenai setan yang memangsa siapa saja yang masuk ke gua itu. Di dalam gua terdapat banyak sekali lorong yang menyerupai sebuah labirin yang membingungkan. Jika melalui jalur yang benar, maka akan menemui sebuah pintu besi raksasa yang memiliki rantai besi pada permukaannya. Tempat tersebut bernama Mecha Castle, sebuah tempat yang memiliki segala jenis kecanggihan tekhnologi. Di salah satu ruangan tempat itu, terlihat tubuh Hidari Shotaro yang saat ini sedang digunakan oleh Eagler tengah menjalani perawatan karena terluka sangat parah. Seluruh tubuhnya dipasangi selang infus yang menyalurkan cairan tubuh Hidari Shotaro yang telanjang bulat.

Shotaro perlahan membuka matanya. Ia melihat Quesier tengah berdiri di samping ranjangnya dengan kedua tangan berpangku di dada

"Sudah sadar kau rupanya," ucap Quesier.

"Aku ... Dimana?" kata Shotaro sambil menatap sekitarnya.

"Di Mecha Castle," jawab Quesier. "Mungkin karena kau pertama kali dirawat di ruangan ini jadi kau merasa asing."

"Di rawat??" Shotaro mengernyitkan dahinya.

"Ya. Aku melihat di stasiun kota kau terlibas oleh ledakan yang sangat hebat hingga kau terluka parah dan tak sadarkan diri. Aku yang melihatnya segera membawamu ke sini," ucap Quesier.

Shotaro mengingat-ingat apa yang terjadi, dan akhirnya ia ingat bahwa ia ditindih oleh bola yang melapisi tubuh Blitzer hingga meledak hebat. "Iya, aku ingat sekarang. Kamen Rider itulah yang membuatku seperti ini."

"Siapa Kamen Rider-nya?"

"Aku tidak tahu siapa namanya, yang jelas dia cukup kuat hingga membuatku seperti ini."

"Apa kau lengah sehingga bisa dikalahkannya?"

"Tidak. Aku menahan serangannya namun kalah."

Quesier menggeleng. Ia lalu mengangkat telapak tangan kanannya dan seketika itu juga muncul sebuah rantai yang kemudian Quesier jatuhkan ke lantai.

Begitu menyentuh lantai, rantai tersebut berubah menjadi sesosok rider berwarna kehijauan dan berkulit kasar dan memiliki kuku yang runcing. Di kedua tumit kakinya ada sesuatu yang lancip dan tajam.

"ROOAAAAAAAAAARRRRGGGHHH!!!!!!!!" teriak rider itu sambil menatap ke atas. Matanya merah besar dan memiliki tiga tanduk yang menjulang.

"Bagaimana jika Gills membantumu? untuk berjaga-jaga," kata Quesier.

"Baiklah. Terimakasih nyonya!" jawab Shotaro sambil kemudian duduk.

Quesier lalu memegang pundak Gills. Tak lama, Gills langsung berubah kembali menjadi rantai. Rantai tersebut lalu Quesier berikan pada Shotaro.

Shotaro pun menerimanya. "Sekali lagi, terimakasih."

"Wah wah... Kau sudah sadar rupanya, Eagler," ucap seorang laki-laki berjubah hitam yang tiba-tiba datang ke ruangan itu. Wajahnya mengenakan topeng berwarna hitam pula dengan dua lubang di mata untuk melihat.

"Darker, kenapa kesini?" tanya Quesier sambil menoleh ke arah Darker yang berdiri di dekat pintu.

Darker berjalan ke arah ranjang Shotaro, lalu mengeluarkan benda persegi panjang warna hitam legam dengan tulisan huruf 'N' di permukaannya. "Mau memberikan ini pada anak buahku."

Shotaro yang diberikan benda itu pun terkejut. "Gaia Memory?"

"Rider System yang kau gunakan saat ini menggunakan tekhnologi Gaia Memory sebagai pusat energinya, karena itulah aku menciptakan Gaia Memory baru untukmu yang sudah aku masukkan ability 'Force Mode' ke dalamnya. Dengan kata lain, Gaia Memory itu jauh lebih kuat daripada yang pernah kau gunakan." Darker menjelaskan.

"Terimakasih, tuan. Aku berjanji tak akan kalah lagi," ucap Shotaro sambil membungkuk hormat.

Sementara itu, di tempat lain, di sebuah rumah sakit bernama Zippon Hospital, Ariel yang mengalami cedera parah sudah selesai dioperasi tapi sekarang dalam kondisi koma semenjak ia ditemukan di reruntuhan stasiun kota dan sekarang ia sudah dipindahkan di ruangan lain. Di luar, Fumiko terus menunggu kesembuhan Ariel semenjak tadi. Fumiko terus berdoa agar Ariel bisa kembali seperti sediakala. Tiba-tiba, Tokuo, kepala pelayan keluarga Ariel, datang menghampiri Fumiko sambil membawa dua kaleng kopi susu.

"Istirahatlah, nona," ucap Tokuo sembari memberikan sekaleng kopi susu yang dibawanya pada Fumiko. "Biar aku yang menjaga Tuan Ariel di sini."

Fumiko menerima kopi susu itu dan meminumnya sedikit, lalu berkata, "Tidak apa-apa. Kelelahanku saat ini tidak sebanding dengan apa yang Ariel rasakan sekarang."

"Anda memang luar biasa, nona. Bahkan semenjak pertama kali kulihat dirimu," kata Tokuo sambil tersenyum.

"Ah, paman membuatku malu," ucap Fumiko. Semburat merah langsung muncul di kedua pipinya.

Tidak lama kemudian, seorang dokter keluar dari ruangan tempat Ariel koma dan mengangguk ke arah Tokuo dan Fumiko kemudian pergi. Setelah itu, seorang suster keluar lalu mempersilahkan Tokuo dan Fumiko masuk.

Air mata Fumiko langsung tumpah begitu melihat Ariel yang terkulai lemas di ranjang dengan banyak jarum infus menempel di tubuhnya. Fumiko langsung duduk di bangku yang ada di samping ranjang Ariel kemudian membelai lembut wajah Ariel.

"Ariel... Bertahanlah...," ucap Fumiko sambil menangis.

Tokuo membuka jasnya, lalu ia selimutkan jas tersebut di pundak Fumiko. "Kau di sini saja, aku mau keluar dulu," ucapnya yang diangguki oleh Fumiko. Setelah itu ia berjalan keluar.

Semalaman, Fumiko terus menjaga Ariel yang tak kunjung sadarkan diri. Hingga akhirnya, ia tertidur di samping ranjang Ariel karena kelelahan.

Kicauan burung terdengar nyaring, suara televisi terdengar memenuhi seisi ruangan meskipun bersuara pelan. Pagi telah menjemput.

Perlahan, Fumiko membuka kelopak matanya dan sesekali merenggangkan sendi-sendi tubuhnya. Begitu ia melihat ke ranjang, ia langsung terkejut melihat ranjang Ariel kosong melompong. "Ariel? Kemana?" ucapnya panik.

"Apa kau tak bisa tenang sedikit?" ucap suara yang sangat Fumiko kenal, membuatnya tersentak dan menoleh ke arah jendela. Di sana nampak Ariel sedang memandang keluar jendela, melihat halaman rumput yang luas.

Dahi Fumiko mengernyit. "Ke-kenapa bisa? Padahal kau-"

"Aku sudah pulih sepenuhnya kok," potong Ariel.

"Ariel, kumohon istirahatlah...," pinta Fumiko.

"Tidak! Aku sudah pulih sepenuhnya." Ariel lalu beranjak menuju meja, mengambil smartphone anti rusaknya di sana dan mengantonginya di saku celana, lalu berjalan ke pintu keluar.

"Kau mau kemana?" tanya Fumiko.

"Ada sesuatu yang harus kuselesaikan," jawab Ariel yang kemudian meraih gagang pintu.

Namun, begitu Ariel memutar gagang pintu, tiba-tiba Fumiko memeluknya dari belakang.

Keduanya terdiam dalam kesunyian. Hanya terdengar isak tangis Fumiko saja di ruangan itu.

"Kumohon...," ucap Fumiko.

Ariel memejamkan matanya dan berkata, "Kenapa?"

"Aku tidak yakin kau sudah pulih sepenuhya. Dan jika kau pergi, aku merasa akan terjadi sesuatu yang buruk padamu," ucap Fumiko.

Ariel diam dan memejamkan matanya lagi.

"Ariel... Kumohon...," ucap Fumiko diiringi dengan tangisnya.

Ariel menyentuh kedua tangan Fumiko yang memeluknya dan melepaskan rangkulan Fumiko secara perlahan. Setelah itu ia berbalik menatap Fumiko dengan tatapan hangat, tatapan yang tidak akan didapatkan oleh gadis lain.

"Tenang saja. Aku pasti kembali," ucap Ariel dengan nada lembut.

Fumiko menatap mata Ariel secara seksama, setelah itu ia membelai lembut wajah Ariel. "Baiklah. Aku pegang janjimu," ucapnya sambil tersenyum meski wajahnya dipenuhi air mata.

Ariel menatap Fumiko selama beberapa detik. Lalu ia mendekatkan wajahnya ke arah wajah Fumiko. Dan tanpa diduga, ia pun mencium bibir Fumiko. Fumiko kaget, tapi setelah itu ia menikmati ciuman tersebut. Terasa lembut dan hangat.

Setelah itu, Ariel memegang kedua pundak Fumiko dan berbisik, "Percayalah padaku."

Fumiko tersenyum dan mengangguk.

Ariel kemudian berbalik dan pergi meninggalkan ruang perawatan, meninggalkan Fumiko yang menatap kepergiannya sambil tersenyum dan memegang bibirnya yang basah. Fumiko tak menyangka bahwa ciuman pertamanya adalah dengan Ariel.

Ketika sampai di area luar rumah sakit, Ariel mengambil smartphone tahan rusaknya dari saku belakang celananya dan menekan beberapa tombol di layar smartphone tersebut. Seketika, itu juga muncul hologram motor sport merah kesayangannya. Hologram itu lalu berubah menjadi nyata dan langsung dinaiki oleh ariel dan melesat meninggalkan rumah sakit. Ia ingin pergi menemui Jeth dan melanjutkan pertarungannya tempo lalu. Jeth sudah ia lemparkan chip pelacak yang menempel di tubuhnya sebelum Jeth meninggalkan stasiun.

Akan tetapi, baru beberapa meter saja motor Ariel berjalan, tiba-tiba smartphone yang ia tempelkan di dekat speedo meter motornya berbunyi. Begitu Ariel menekan tombol bundar besar pada smartphone itu, smartphone pun menampilkan sebuah peta dengan delapan titik merah kelap kelip dan tulisan di atas masing-masing titik, ada Lizarder, Snaker, Dragonflyer, Butterflyer, Cheeter, Giraffer, Cameler, dan Bearer.

"Tcih, sial. Tidak ada jalan lain selain ini," keluh Ariel.

Namun, begitu motornya sampai di tempat para Mechaster itu berada, tiga buah sepeda motor dengan tiga sosok Kamen Rider, menghadang para Mechaster tersebut. Mereka adalah Kamen Rider Os dengan motornya Ride Vendor. Dan rider bertubuh hijau dengan beberapa corak hitam dan mata merah besar berikut sepasang antena seperti belalang di kepalanya dan simbol yang membentuk huruf 'RX' di dada sebelah kirinya berikut sabuk berkepala persegi panjang dengan dua motif bulat di permukaannya dengan motor seperti kepala belalang dan berwarna kuning-biru-putih serta simbol 'RX' di samping kanan dan kiri permukaannya berikut tiga knalpot di samping kanan dan kirinya, dia adalah Kamen Rider Black RX dengan motornya bernama Accrobatter. Sedangkan rider yang satu lagi mengenakan suit hitam yang dibalut baja merah di bagian dada, pundak, dan lengannya, pergelangan tangan serta kakinya di selimuti baja berwarna emas, di lehernya melingkar baja emas dengan huruf-huruf kuno yang aneh, lututnya ditutupi baja lonjong berwarna emas dengan bagian tengah berwarna hitam, sabuknya yang berwarna perak terlihat sangat tebal dengan permata berwarna merah dan dihiasi dengan berbagai warna lain di samping kanan dan kiri permukaan depannya, helm hitam yang melapisi kepalanya memiliki tanduk seperti kumbang capit serta memiliki lensa mata bundar merah besar, dia adalah Kamen Rider Kuuga. Motor yang dinaiki Kuuga bentuknya seperti motor trial berwarna merah dan hitam, kepalanya memiliki tanduk seperti kumbang capit berwarna emas, serta knalpot panjang yang menjulang ke belakang, namanya ialah Beatchaser 2000.

"Kak Eiji... Paman Kotaro... Kak Godai?" ucap Ariel pelan.

Kuuga menoleh ke arah Ariel. "Ayo Ariel! Kita habisi Mechaster ini! Kebetulan kami sedang berpatroli."

"Maaf, tapi aku ada urusan lain. Jadi kuserahkan pada kalian ya...," ucap Ariel. Ia kembali menjalankan motornya.

"H-hei!" panggil Kuuga ketika motor Ariel melewati mereka bertiga.

"Sudahlah, Godai... Kita bertiga juga cukup," ucap Black RX sambil menengok ke arah Kuuga yang ada di sebelah kanannya.

Mereka bertiga kemudian turun dari motor mereka masing-masing dan memasang kuda-kuda sambil menatap para Mechaster berbentuk manusia kadal berwarna cokelat, manusia ular berwarna hitam, manusia capung berwarna hijau, manusia kupu-kupu berwarna merah, manusia cheetah berwarna oranye bertotol hitam, manusia jerapah berwarna ungu, manusia unta berwarna kelabu, dan manusia beruang berwarna biru.

Kuuga berlari ke hadapan Mechaster manusia capung bernama Dragonflyer dan manusia kupu-kupu bernama Butterflyer yang kebetulan berdiri berdekatan dan langsung memukul perut Dragonflyer yang dilanjutkan menendang kepala Buttlerflyer dengan tendangan berputar, sementara Os dan RX sibuk dengan Mechaster sisanya.

Dragonflyer dan Buttlerflyer yang terlempar dari posisi awalnya pun mengepakkan sayap mereka dan terbang. Dragonflyer menghujani Kuuga dengan jarum runcing dari sayapnya, sementara Buttlerflyer mencambuk Kuuga dengan cambuk yang sedaritadi tergulung di mulutnya. Melawan mereka berdua sekaligus nampaknya membuat Kuuga kesulitan, terlebih mereka menyerang dari udara, Kuuga jadi tidak bisa melakukan serangan balasan dan hanya bisa menghindar.

"Hraaaa... Seiyahhh!!!" Os berhasil menghancurkan dua Mechaster dengan tebasan Triple Scanning Charge dari Medajalibur-nya. Kedua Mechaster itu yakni Mechaster berwujud manusia unta bernama Cameler dan Mechaster berwujud jerapah bernama Giraffer. Setelah itu, ia membantu RX menghadapi Mechaster yang lain.

Di lain pihak, Kuuga yang sedang menghindari serangan dari Dragonflyer dan Buttlerflyer menemukan sebuah pistol yang sudah rusak.

"Kebetulan sekali," ucap Kuuga seraya memungut pistol tersebut. "Chou Henshin!!" teriaknya setelah itu.

Pistolnya pun berubah menjadi sebuah 'bowgun atau pistol panah' berwarna hijau, hitam dan emas dengan lengkungan berwarna berwarna emas persis di bagian depannya. Bersamaan dengan itu, armor merah yang melapisi tubuh Kuuga berubah menjadi warna hijau dengan bagian bahu sebelah kiri yang runcing dan beberapa garis emas pada armor bagian dada, bahu, dan tangannya. Warna mata Kuuga pun berubah menjadi hijau pula.

Tanpa membuang waktu, Kuuga mengarahkan pistol tersebut ke atas ke arah Buttlerflyer dan menarik ke luar bagian belakangnya. Begitu bagian belakang tersebut kembali masuk ke dalam secara cepat, sebuah peluru panah langsung meluncur dari ujung depan bowgun Kuuga dan menusuk dada Buttlerflyer. Lalu, Kuuga kembali menembakkan bowgunnya ke arah Dragonflyer yang sedang melayang di udara. Begitu peluru bowgun Kuuga menancap di perut Dragonflyer, muncul sebuah simbol aneh yang tak dapat dimengerti. Hal itu juga terjadi pada Butterflyer. Tidak lama kemudian, tubuh kedua Mechaster itu berkelap-kelip merah dan meledak.

"Pertarungan baru saja dimulai," ucap Kuuga.

Sementara itu, Ariel yang melanjutkan perjalanannya tiba-tiba melihat titik kelap-kelip merah di peta pada smartphone-nya dengan tulisan Kamen Rider Double. Ariel pun terkejut karena alat pelacak Mechaster bisa melacak Kamen Rider. Tak lama, ia sampai juga di hadapan rider yang diambil tubuhnya oleh Eagler itu.

"Ketemu juga akhirnya," ucap Double.

"Kau ..." Mata Ariel membelalak. "Rupanya kau masih hidup."

"Begitulah," balas Double. "Kau Kamen Rider yang kemarin bertarung denganku kan? Aku bisa tahu dari baumu. Sekarang, kau akan membayar apa yang kau perbuat padaku."

"Tapi bagaimana bisa? Kupikir tubuhmu sudah hancur."

"Anggap saja Dewa masih berpihak padaku."

"Lalu, apa kau Mechaster?"

"Tepat sekali," Double lalu memangku kedua tangannya di dada.

"Pantas saja bisa terlacak," gumam Ariel.

"Mari, kita lanjutkan pertarungan kita!" ucap Double.

Ariel berpikir sejenak, sebelum akhirnya berkata, "Baik. Ku terima tawaranmu."

Double langsung memasang kuda-kuda, sementara Ariel melepas helmnya dan turun dari motornya lalu mengambil Blitzdrive dari balik jaketnya.

Ariel menempelkan Blitzdrive di depan pinggangnya. Begitu permata merahnya ditekan, tali sabuk besi perak corak hitam keluar pada sisi kanan dan kiri Blitzdrive dan merekat di belakang pinggang Ariel, membentuk sebuah sabuk. Setelah itu, Ariel mengambil kartu bergambar Blitz Crest dari kotak kecil--yang dinamakan Blitzcase--di sebelah kanan sabuknya.

"Henshin!!" seru Ariel seraya memasukkan kartu itu ke dalam lubang kotak tipis di bagian atas Blitzdrive.

Permata Blitzdrive langsung menyala terang dan memancar sejauh 1,5 meter serta mengeluarkan hologram merah seperti manusia ber-antena belalang. Hologram itu mundur ke arah Ariel dan terserap habis ke dalam tubuhnya, merubahnya menjadi Kamen Rider Blitzer.

Melihat hal itu, Double langsung berlari ke hadapan Blitzer. Begitu jaraknya dan Blitzer sudah dekat, ia mengayunkan tinjunya ke arah kepala Blitzer. Tapi, Blitzer menangkis serangan itu dengan bagian samping lengan kanannya, lalu memukul wajah Double dengan punggung tangan kanannya berulang kali dengan cepat, dilanjutkan dengan meninju perut Double berulang kali secara cepat pula, menyikut kepala Double dengan tangan itu, meninju dada Double satu kali, meninju dagunya hingga kepala Double terdongah ke atas, dan terakhir menendang perutnya dengan keras sampai Double terlempar dari posisi awalnya.

Blitzer mengambil kartu 'SPEED ENGINE' dari Blitzcase dan memasukkan kartu itu ke lubang kotak tipis di atas kepala sabuknya.

"SPEED ENGINE!!" gema suara sabuknya, Blitzdrive.

Permata merah pada Blitzdrive langsung berubah menjadi biru dan terus menyala terang. Tak lama, tubuh Blitzer berubah menjadi Blitzer Speed Engine dan cahaya biru di sabuknya meredup.

"POWER!!" Sabuk Blitzer pun mengeluarkan suara begitu permata merahnya ditekan.

Tubuh Blitzer langsung lenyap dari pandangan mata.

Double yang sudah berdiri dari jatuhnya mengeluarkan pistol magnum birunya lalu menekan kotak perak kecil pada permukaan Gaia Memory kuning yang saat ini ia pegang.

"LUNA!!" gema Gaia Memory kuning tersebut.

Tak mau membuang waktu, Double langsung menancapkan Gaia Memory itu di slot pada magnum-nya.

"MAXIMUM DRIVE!!" gema yang berasal dari magnum.

Double langsung menarik pelatuk magnum-nya dan keluarlah beberapa cahaya kekuningan dari magnum itu yang mengejar sesuatu dengan sangat cepat.

Sebuah ledakan hebat terjadi. Dari dalam ledakan, tubuh Blitzer terlontar dan terguling-guling di tanah. Ia kembali ke wujud awalnya yang ber-suit merah.

"Cara itu pun tetap tidak bisa," keluh Blitzer.

"Khahahahaha... Kau itu bodoh ya?" ejek Double.

"Jangan senang dulu kau," balas Blitzer yang kemudian mengambil sebuah kartu bergambar 'petir' dengan tulisan 'RISING THUNDER' berwarna merah. Motif dua segitiga merah bertepi emas dan dua kotak kecil tidak ketinggalan menghiasi kotak itu dengan posisi yang sama seperti kartu-kartu sebelumnya. Lalu ia memasukkan kartu tersebut ke dalam lubang kotak tipis di atas kepala sabuknya.

"RISING THUNDER!!" suara yang berasal dari sabuk Blitzer berkumandang.

Sekujur tubuh Blitzer langsung diselimuti oleh aliran listrik yang menyambar-nyambar.

"Apa itu?" gumam Double. "Hmmm ..." Kemudian ia menarik lagi pelatuk magnum-nya hingga melontarkan beberapa cahaya kekuningan seperti sebelumnya yang melesat cepat ke arah Blitzer.

Blitzer hanya berdiri tegak memandang Double tanpa beranjak dari tempatnya berpijak.

Begitu cahaya-cahaya kekuningan itu mengenai Blitzer, hal tak terduga terjadi, cahaya-cahaya tersebut melebur persis ketika menyentuh tubuh Blitzer yang diselimuti oleh aliran listrik.

"A-apa???" Double terkejut dan melongo melihatnya.

"Akhirnya kartu ini bisa digunakan juga setelah sekian lama tidk berfungsi," gumam Blitzer.

Double lalu mengeluarkan Gaia Memory perak bernama 'Metal' dan menekan kotak perak kecil pada permukaannya.

"METAL!!" Gaia Memory pun bersuara.

Sebuah toya baja perak muncul di punggung Double yang langsung ia tarik dan ditancapkan Gaia Memory Metal di ujung pegangan toya-nya.

"MAXIMUM DRIVE!!" gema yang berasal dari toya. Semburan api langsung keluar dari kedua ujung tongkatnya, membuat Double harus memegang bagian tengahnya.

Double langsung melompat tinggi menuju ke arah Blitzer dan mengayunkan toya-nya ke kepala Blitzer.

Akan tetapi...

TRAKK!!

toya milik Double patah begitu membentur kepala Blitzer yang diselimuti oleh aliran listrik.

"A-a-apa??? Ti-tidak mungkin?!" ucap Double setelah kakinya menyentuh tanah.

"Aku akan menunjukkan akhir dari pecundang sepertimu," ucap Blitzer yang kemudian meninju Double tepat di perutnya hingga Double terpental ke belakang.

Begitu bangkit kembali, Double mencabut Gaia Memory berwarna merah darah dari slot sebelah kiri kepala sabuknya. "Kau akan menyesal telah melakukan ini!"

"MONSTER!!" Gaia Memory merah darah bernama Monster tersebut mengeluarkan suara begitu kotak kecil peraknya ditekan.

Setelah itu Double menancapkan Gaia Memory tersebut di slot sebelah kanan sabuknya.

"MAXIMUM DRIVE!!" gema Gaia Memory Monster yang tertancap di sebelah kanan sabuk Double.

Tubuh Double langsung berubah menjadi monster besar berbentuk singa dengan ekor ular berkepala tiga, berkaki depan cakar elang, berkaki belakang kuda, dan bersayap besar.

"Monster Poison!!!" teriak Double yang sudah berubah itu. Ia pun langsung menyergap tubuh Blitzer. Dengan seluruh mulut yang ada di semua kepalanya, ia menggigit tubuh Blitzer. Tubuh Blitzer langsung berasap-asap begitu terkena gigitannya. Setelah itu, Double mundur ke belakang.

"Berhasil kah?" gumam Double.

Perlahan, asap dari tubuh Blitzer menipis. Di sana terlihat Blitzer yang berdiri tegak. Tubuhnya tidak goyah sama sekali.

"Cuma segitu?" kata Blitzer.

Double yang sudah kembali ke wujud biasa terkejut. "APA??? Racun tingkat tinggi seperti itu pun tak sanggup membunuhnya??" Ia lalu tersimpuh di tanah dan putus asa. "I-ini ... Tidak mungkin."

"Jika masih ada jurus lain, keluarkan saja!" ucap Blitzer.

Double mengeluarkan Gaia Memory hitam legam pemberian Darker dan ditekan permukaan besi peraknya, sehingga Gaia Memory itu mengeluarkan suara, "NEGA!!" Yang menunjukkan nama Gaia Memory tersebut.

Double tiba-tiba ingat salah satu kata-kata Darker sebelum ia pergi. Gaia Memory itu memang menyimpan kekuatan yang besar, namun berbanding lurus dengan efeknya. Jika Double tidak kuat menahan efeknya, maka dia akan menemui ajalnya. Darker memberikan itu padanya hanya untuk berjaga-jaga, yang memutuskan untuk menggunakannya adalah Double sendiri. Double pun berpikir keras, sampai akhirnya ia menancapkan Gaia Memory itu tepat di dadanya.

"Lebih baik mengambil resiko daripada tidak sama sekali," ucap Double, sesaat sebelum Gaia Memory Nega sepenuhnya masuk ke dalam dadanya.

Tubuh Double langsung kejang-kejang dan terjatuh. Lalu tubuhnya berangsur-angsur berubah warna menjadi setengah hijau dan setengah ungu kehitaman. Begitu tubuh Double berubah warna sepenuhnya, kedua Gaia Memory di kepala sabuknya melompat keluar dan melebur menjadi serpihan hologram yang perlahan berubah menjadi sosok yang mirip dengan Double, hanya saja seluruh tubuhnya berwarna hitam legam dan memiliki sabuk perak berpermata bulat hitam. Setelah itu, Double yang berwarna hijau-ungu kehitaman kembali ke wujud Hidari Shotaro.

"Wujud ini ... Menarik sekali!" ucap Double hitam legam itu sambil mengangkat kedua tangannya dan memandang kedua telapak tangannya. Nama sosoknya saat ini adalah Nega Double.

"Apa yang terjadi?" gumam Blitzer.

"Ayo, kita lanjutkan pertarungan dan keluarkan serangan terbaikmu!" tantang Nega Double.

"Begitu ya? Pertarungan ini sepertinya harus cepat diakhiri," gumam Blitzer yang kemudian menekan permata merah di kepala sabuknya.

"POWER!!" Sabuk pun mengeluarkan suara.

Blitzer langsung menurunkan lengan kirinya dan mengepalkannya. Lalu tangan kanannya memegang pergelangan lengan kirinya.

Seluruh aliran listrik yang menyelimuti tubuhnya perlahan mengalir ke lengan kirinya dan berkumpul pada satu titik saja yaitu lengan kiri. Setelah itu, Blitzer berlari menuju ke arah Nega Double. Beberapa langkah kemudian, ia menyentakkan kaki kanannya ke belakang, membuat tubuhnya terbang ke depan.

"Thunder Strike!!" teriak Blitzer yang dalam posisi terbang.

"Khahahaha...," tawa Nega Double. Ia mengangkat lengan kanannya dan mengarahkan telapak tangannya pada Blitzer.

Lubang hitam muncul di telapak tangan Nega Double. Lubang tersebut langsung menyedot aliran listrik di kepalan tangan kiri Blitzer sampai tak bersisa.

"Apa???" ucap Blitzer terkejut.

Tangan kiri Nega Double lalu dialiri listrik yang menyambar-nyambar ketika kaki Blitzer sudah menyentuh jalanan.

Tak mau membuang waktu, Nega Double langsung menyentakkan kaki kanannya ke belakang, membuat tubuhnya meluncur ke depan secara cepat dan menghantam tubuh Blitzer dengan tinju kirinya yang diselimuti listrik. Listrik di tangan Nega Double mengalir di tubuh Blitzer. Blitzer yang terkena serangan itu pun terpental cukup jauh dan meledak hebat.

Asap mengepul cukup banyak dari tempat Blitzer meledak. Di sana terlihat Blitzer yang berusaha bangun namun kembali terjatuh.

"Kenapa dia bisa menggunakan jurusku?" keluh Blitzer. Seluruh tubuhnya terasa keram dan kesemutan.

"Akhahahaha... Bagaimana dengan sekarang?" ujar Nega Double. "Rasakanlah jurusmu sendiri!"

"Kau ..." geram Blitzer. Ia mencoba berdiri dengan seluruh tenaganya. Namun, ia kembali roboh. Percikan konsleting terlihat di beberapa bagian tubuhnya.

Sebilah pedang tiba-tiba muncul di hadapan Nega Double. Pedang itu memiliki cabang yang membentuk huruf N dan memiliki slot USB pada ujung bawah gagangnya. Secara keseluruhan, pedang itu berwarna hitam. Double langsung menggenggam pedang itu lalu mengeluarkan Gaia Memory Nega dari dalam dadanya dan ia tekan kotak kecil peraknya.

"NEGA!!" Gaia Memory itu mengeluarkan suara.

Gaia Memory tersebut kemudian ia tancapkan di slot USB yang ada di gagang pedangnya.

"MAXIMUM DRIVE!!" Suara pedang Nega Double menggema.

Bilah pedang Nega Double langsung dilapisi cahaya hitam pekat. Setelah itu Nega Double memiringkan tubuhnya ke samping, menggeser kaki kanannya ke depan, serta menekuk kaki kirinya. Pedangnya ia genggam dengan kedua tangannya persis di atas paha sebelah kirinya.

"Hari ini adalah hari terakhirmu! Rasakanlah kekuatan dahsyat dari elemen kegelapan!" kata Nega Double setengah berteriak.

Akan tetapi, di saat seperti itu tiba-tiba sebuah ledakan muncul di punggung Nega Double, membuatnya terduduk menahan rasa sakit.

Ternyata itu adalah perbuatan Double asli yang sudah sadar dari pingsannya. Ia yang dalam wujud Luna - Trigger mengacungkan magnum-nya ke arah Nega Double.

"Aku tahu kau adalah Mechaster yang melawan kami waktu itu. Suaramu sangat familiar. Entah apa yang kau lakukan hingga bisa menyerupai kami," ucap Double.

"Berisik! Mengganggu saja!" teriak Nega Double sembari menoleh ke arah Double. Kemudian ia mengeluarkan rantai pemberian Quesier dan langsung ia lemparkan ke hadapan Double.

Seketika itu juga rantai tersebut berubah menjadi Kamen Rider Gills.

"ROOOAAAAAAARRRRRGGGGGGHHHHHHHH!!!" teriak Gills sambil menatap ke atas dan langsung menerjang tubuh Double.

Keberadaan Gills membuat Double sangat terganggu. Ia sibuk sendiri dan tak bisa membantu Blitzer. Ia sibuk menghindari berbagai macam serangan Gills terutama tanduk di lengan dan kakinya.

"Baiklah, aku harus menyelesaikan ini." Nega Double kembali memasang kuda-kuda seperti sebelumnya. Sinar hitam yang sempat meredup dari pedangnya kembali menyala. Setelahnya, Double mengayunkan pedangnya ke depan secara mendatar, membuat cahaya hitam di pedangnya melesat ke arah Blitzer.

Sebuah ledakan besar pun terjadi. Nega Double tertawa terbahak-bahak.

"Tamat sudah riwayatmu!" ucap Nega Double.

Namun, ketika asap dari ledakan itu menipis, tak terlihat sama sekali sosok Blitzer di sana.

Nega Double pun terkejut melihatnya. "Kemana dia??"

"Di sini!" Tiba-tiba, Blitzer muncul di belakang Nega Double dengan wujud Speed Engine.

Nega Double sontak kaget dan menoleh ke belakang. Tapi, tubuh Blitzer menghilang dan tiba-tiba muncul di depan Nega Double, lalu langsung meninju perutnya dengan kuat hingga membuat Nega Double mundur beberapa langkah ke belakang.

"Kau!" geram Nega Double. Di waktu yang hampir bersamaan, tubuh Blitzer kembali menghilang dari pandangan.

Tak lama, tubuh Nega Double terpental ke atas, dihantam oleh sesuatu yang sangat cepat. Selama beberapa saat, tubuhnya terlempar-lempar di udara, setelah itu jatuh ke tanah.

"Kurang ajar!" geram Nega Double. Ia lalu melakukan 'scanning' dengan matanya.

Tak lama, dari mata Double terlihat Blitzer sedang berlari ke arahnya.

"Di sana!" ucap Double yang kemudian meninju Blitzer yang berlari sangat cepat ke arahnya itu.

"ENGINE OVER!!" Suara dari sabuk Blitzer.

Blitzer pun terlempar dengan percikan konsleting di tubuhnya dan kembali ke wujud biasa Blitzer yang ber-body suit merah.

"Akan segera ku akhiri!" Nega Double mengangkat pedangnya. Cahaya hitam kembali menyelimuti pedang itu. Kemudian, ia pun melompat tinggi dan bersalto berulang-ulang di udara. Tubuhnya berputar seperti roda menuju ke arah Blitzer.

Namun, belum sampai tubuh Nega Double ke sasarannya yakni Blitzer, ledakan terjadi tepat di tubuh bagian belakangnya. Tubuh Nega Double yang berputar pun berhenti, lalu jatuh mencium aspal.

"KEPARAT!!! PERBUATAN SIAPA LAGI INI??" teriak Nega Double.

"Aku!" ucap Double dengan wujud Luna - Trigger beberapa meter di belakang Nega Double.

"Kau lagi!" geram Nega Double yang menengok ke arah Double.

"Hey, kau yang ada di sana." tunjuk Double pada Blitzer. "Jika kau punya 'hissatsu', gunakanlah! Kita habisi dia bersama-sama!"

Mendengar hal itu, Nega Double pun memasang posisi siaga. Bersiap dengan segala kemungkinan yang akan terjadi.

Blitzer mengambil kartu Angriff Machine dari dalam Blitzcase dan memasukkan kartu itu ke dalam lubang kotak tipis di atas permukaan Blitzdrive hingga Blitzdrive mengeluarkan suara, "ANGRIFF MACHINE!!"

Hologram Angriff Shoes langsung muncul dan melapisi kedua kaki Blitzer lalu menjadi nyata.

"MAXIMUM DRIVE!!" gema pistol magnum milik Double begitu salah satu Gaia Memory miliknya dimasukkan pada slot di magnum-nya.

"POWER!!" gema suara Blitzdrive persis ketika permata merahnya ditekan oleh Blitzer.

Baling-baling di Angriff Shoes sebelah kanan berputar kencang dan Angriff Shoes sebelah kiri mengeluarkan api dari tabungnya. Tubuh Blitzer pun langsung melesat ke atas.

"Trigger Full Burst!!" teriak Double seraya menekan pelatuk magnum-nya.

Beberapa cahaya kekuningan langsung melesat ke arah Nega Double.

"Tidak akan kubiarkan!" Nega Double kemudian mengarahkan telapak tangan kanannya ke arah Double.

Lingkaran hitam langsung muncul di telapak tangan kanan Nega Double. Lingkaran itu terlihat seperti menyerap sesuatu.

Akan tetapi, sungguh disayangkan, lingkaran di tangan Nega Double tidak berhasil menyerap jurus Double. Cahaya kekuningan itu masih melaju kencang hingga mengenai tubuh Double. Di saat bersamaan, Blitzer berhasil menendang punggung Nega Double dengan kaki kanan yang dilapisi Angriff Shoes yang diselimuti petir. Nega Double yang terkena kedua serangan itu pun langsung tersimpuh di tanah. Tubuhnya dipenuhi asap dan percikan konsleting.

"Ke-kenapa jurusku tidak mempan??" ujar Nega Double dengan nada cukup tinggi.

"Itu karena elemen kegelapan kalah dengan elemen cahaya milik-ku dan dapat melemahkan penggunanya. Itu yang ku tahu dari buku manual Double Driver. Dan kekuatan Luna-ku berelemen cahaya," ucap Double.

"A-apa???" Nega Double terkejut. Ia berusaha bangkit dengan susah payah. Akan tetapi, tubuhnya kembali terjatuh, lalu berkelap-kelip merah yang rasanya amat menyakitkan dan membuatnya berteriak keras. Setelah itu, tubuh Nega Double meledak hancur dengan ledakan yang besar.

Setelah memusnahkan Nega Double alias Eagler, Ariel dan Shotaro bersantai di kedai pinggir jalan sambil berbincang-bincang tentang Mechaster dan juga Dopant serta hal lain yang menarik bagi mereka sembari meminum kopi susu hangat.

"Jadi Dopant itu lebih sering beraksi di kota Futo ya?" ucap Ariel.

"Betul. Dan aku juga partner-ku, Philip, saat ini sedang menyelidiki Dopant yang kabarnya masih tersisa," balas Shotaro.

"Begitu ya. Semoga kau mendapatkan apa yang kau cari."

"Terimakasih." Shotaro lalu menyeruput kopi susunya. Setelah itu, ia melirik jam di tangan kirinya. Waktu menunjukkan pukul setengah dua belas siang. "Oh iya, aku harus pergi. Masih banyak urusan yang harus kukerjakan."

Ariel mengangguk. "Baik."

Shotaro lalu mengeluarkan sebuah kartu nama dan memberikannya pada Ariel. "Jika kau butuh bantuanku, datang saja."

Ariel mengambil kartu nama itu dan mengangguk.

"Baiklah, aku pergi! Sampai jumpa!" ucap Shotaro sebelum akhirnya berjalan meninggalkan Ariel.

Ariel menatap punggung Shotaro yang berjalan meninggalkannya sambil berkata, "Orang yang baik."

To Be Continued

[FanFic] Kamen Rider Blitzer (Episode 9: MECHA - MONSTER )

Sebuah kota yang tak jauh dari Zippon bernama 'Futo', yang mana di kota tersebut banyak sekali pembangkit listrik tenaga angin. Futo bukanlah kota besar layaknya Zippon, namun kehidupan di sana sangat nyaman dan tentram. Isu yang paling sering terdengar adalah sepak terjang Kamen Rider yang disebut dengan nama 'Double'. Sosok yang masih sangat misterius bahkan di kalangan warga kota tersebut. Mendengar hal itu, seorang pria yang diketahui bernama Eagler berjalan-jalan di kota tersebut untuk mencari tahu tentang hal itu. Eagler adalah seorang pria berperawakan tinggi, berkulit putih, dan berponi pendek menyamping. Ia memiliki wajah kotak, mata sipit berwarna cokelat, hidung mancung, bibir kecil, serta daun telinga yang lebar. Ia berdandan parlente serba hitam seperti orang kantoran. Ia merasa dengan menggunakan kekuatan Double ia akan mudah menghabisi siapapun yang menghalanginya terutama Kamen Rider. Dilihat dari peringkatnya yang telah masuk jajaran 'Elite' Mechaster, Eagler sangatlah kuat dengan rangking yang sudah memasuki rangking 10 dan poin membunuh lebih dari 500 juta di dalam Killer Board.

Sembari mengumpulkan informasi, Eagler beristirahat di sebuah toko pastry bernama 'Kaname'. Sambil menunggu pesanannya datang, yaitu croissant yang sangat ia gemari, Eagler membakar cerutu lalu ia hisap dan hembuskan asapnya dengan santai.

Begitu pesanannya datang, Eagler langsung melahapnya. Entah mengapa setelah melahap croissant itu ia merasakan sesuatu yang luar biasa dalam mulutnya, bahkan bisa dibilang ia merasakan sensasi yang baru dalam hidupnya.

"Luar biasa! Ini enak sekali!" ucap Eagler spontan.

Wanita berambut panjang serta berponi yang tadi membawakan pesanan Eagler langsung menghampiri Eagler dan tersenyum lebar. "Terimakasih, tuan. Aku senang mendengarnya."

"Pastry buatan Miu memang luar biasa," kata pria gemuk setengah baya yang diperkirakan sebagai pemilik toko pastry.

Semburat merah langsung muncul di kedua pipi Miu. "Ayah membuatku malu."

Setelah melahap habis croissant pesanannya, Eagler langsung meninggalkan uang pembayaran di atas meja dan pergi meninggalkan toko tersebut.
.
.
.
Selama siang itu Eagler hanya terdiam sambil mempertajam pendengarannya di sebuah gedung pencakar langit.

Tidak lama berselang, Eagler mendengar suara pertempuran. Suara pertempuran yang tak jauh dari pusat kota.

Sepasang sayap burung dari besi berwarna perak mencuat dari punggung Eagler. Sayap tersebut mengembang kemudian mengepak kencang. Sensor di otaknya mencari dimana lokasi pertempuran itu berada. Tidak lama kemudian, tubuh Eagler melesat ke langit dan terbang cepat ke arah barat kota Futo.

Perasaan Eagler sangat senang, bahkan ia seperti terbakar oleh semangat.

Ternyata pertempuran itu bergerak dengan cepat ke arah kota dengan poros yang tak teratur. Hal ini membuat Eagler kesulitan mendekati area pertempuran tersebut. Hingga akhirnya titik-titik yang sedang bertikai itu berhenti di sebuah poin area lebih lama. Tak lama berselang, satu titik pada sensor otak Eagler menghilang, itu menandakan bahwa pertempuran telah berakhir dan salah satu dari mereka telah kalah. Tanpa membuang waktu, Eagler pun melesat ke poin terakhir area pertempuran dengan kecepatan yang sangat tinggi. Begitu tiba di lokasi, sayap di punggungnya menghilang, ia memancarkan seluruh sensornya untuk mencari titik kekuatan yang telah ditandainya. Akhirnya ia berhasil menemukan letak lokasi sang titik. Ia melihat sesosok 'rider' yang memiliki dua warna yakni hijau dan ungu gelap. Rider itu mempunyai sepasang mata bulat merah serta tanduk membentuk huruf 'W' di dahinya, tak ketinggalan syal perak yang menempel di leher bagian belakang sisi hijau tubuhnya. Tak lama kemudian, sosok rider itu berubah menjadi manusia. Eagler yang berdiri di salah satu atap gedung terkejut, ternyata orang itu adalah salah satu pelanggan yang sempat ia lihat di toko pastry tadi.

"Jangan-jangan ... Dia Kamen Rider Double," gumam Eagler.

"SEARCHING..." Di seluruh pandangan mata Eagler muncul huruf dan angka yang terus berbaris. Hingga akhirnya berbagai huruf alphabet tersusun rapih di bagian tengahnya.

"Hidari Shotaro. Lokasi Hard Boiled Detektif," ucap Eagler. Ia terus memantau gerak-gerik pria bernama Shotaro itu yang terus duduk di belakang meja sambil mengetik sesuatu di sebuah komputer yang ada di dekat jendela.

Tiba-tiba, ketika Eagler menoleh sebentar ke arah lain, pria bernama Shotaro tersebut menghilang. Eagler kaget dan bingung. Dengan kesal ia meloncat-loncat tak karuan. Hingga akhirnya pintu di atap gedung terbuka dan membuatnya terkejut, ia tak menyangka ada yang datang ke atap tersebut. Ia menoleh dan lebih terkejut lagi melihat kalau yang membuka pintu itu ialah Hidari Shotaro, orang yang ia intai sejak tadi.

Hidari Shotaro adalah seorang pria kurus tinggi, berkulit putih, bermata sipit, beralis tipis, berhidung sedikit mancung, berbibir sedang, serta berdagu tumpul. Daun telinganya yang kecil tertutup oleh rambutnya yang lurus dan agak panjang dengan bagian samping yang menekuk runcing. Rambut itu dihiasi topi ember warna hitam bertuliskan 'Windscale'. Shotaro mengenakan celana katun panjang warna hitam dan kemeja putih lengan panjang yang dibalut dengan rompi tanpa lengan warna hitam, dasi berwarna hitam pun tidak ketinggalan menghiasi lehernya.

Dengan langkah yang santai, Shotaro berjalan menghampiri Eagler. "Siapa kau? Aku tahu daritadi kau terus mengintaiku," ucapnya dengan nada santai dan keren.

Eagler tak menjawab. Ia hanya diam sambil memandang Shotaro. Seluruh pikirannya kacau. Baru kali ini aksi mengintainya gagal.

Melihat orang yang ia tanya tak bereaksi, Shotaro menjadi salah tingkah. Dengan gerakan bingung sambil menggaruk-garuk kepala ia berjalan beberapa langkah lagi ke arah Eagler yang masih tidak mau bergerak. "Ayolah... Jawab pertanyaanku!" Kini nada santai dan kerennya telah ia tanggalkan.

"Bagaimana kau tahu keberadaanku?" kata Eagler. Sepertinya kini pikirannya telah kembali normal dari rasa keterkejutan sesaatnya.

"Gerakanmu terlalu berisik untuk disebut sebagai seorang pengintai. Aku sebagai detektif profesional tentu lebih mahir di bidang ini," ucap Shotaro dengan nada yang kembali santai dan keren.

"Kau ... Beraninya berkata seperti itu padaku!" balas Eagler. Kemudian ia memasang kuda-kuda.

"Jangan-jangan kau juga pengguna 'Gaia Memory'?" tanya Shotaro.

Dahi Eagler mengernyit. "Gaia Memory? Aku tak pernah mendengar hal konyol semacam itu."

"Lalu, siapa kau sebenarnya?" tanya Shotaro.

"Kau tidak perlu tahu" jawab Eagler.

Shotaro menghela napas.

"Mecha!!" teriak Eagler seraya tangan kanannya meninju telapak tangan kirinya yang membuka yang ia tempelkan di depan dada.

Dua bagan baja kotak keperakan seukuran tubuh Eagler muncul di samping kanan dan kirinya. Kedua bagan itu kemudian menyatu serta membungkus tubuh Eagler. Beberapa saat setelahnya, kedua bagan itu kembali terpisah dan kemudian menghilang. Tubuh Eagler kini telah berubah menjadi sesosok robot manusia elang yang keseluruhan tubuhnya berwarna perak lengkap dengan kedua sayap di punggungnya, bagian pelindung tangannya runcing ke atas, sementara bagian kedua kakinya seperti cakar burung elang.

Kontan saja itu membuat Shotaro terkejut. Ia langsung mengambil sebuah benda persegi panjang mirip 'flashdisk' bergambar huruf 'J' serta berwarna ungu kehitaman dari balik rompinya bernama 'Gaia Memory'. Tak lama, sebuah sabuk baja bertali hitam dengan bagian depan putih muncul dan melingkari pinggang Shotaro. Sabuk tersebut memiliki kepala seperti huruf W berwarna merah yang bagian bawahnya dihiasi dengan potongan besi warna putih yang sisi kanannya berwarna hijau kekuningan dan sisi kirinya berwarna ungu. Sabuk itu bernama 'Double Driver'.

"Philip, ayo!" ucap Shotaro yang kemudian menekuk lengan kanannya--yang memegang Gaia Memory--ke samping kiri badannya.

Namun, gerakan Shotaro terganggu oleh sebuah robot kumbang yang tiba-tiba terbang menghampirinya.

Shotaro langsung mengambil robot kumbang tersebut dan merubahnya menjadi ponsel lalu menempelkan benda itu di telinganya. "Halo?" ucapnya.

"Hoi Shotaro, ini bos!" terdengar suara perempuan dari ponsel itu.

"A-Akiko?" kata Shotaro.

"Cepat selesaikan urusanmu! Karena ada klien yang datang ke kantor."

"Tapi Akiko, aku-"

"...." Sambungan terputus.

Shotaro langsung menutup ponselnya. Ponsel tersebut lalu kembali ke mode kumbang dan terbang ke langit.

"Apa yang dipikirkan ibu-ibu yang kekanak-kanakan itu?!" gerutu Shotaro kesal.

Eagler menatap bengong ke arah Shotaro. Sambil menggaruk-garuk kepalanya ia berkata, "Apa kau bisa serius?"

"Maaf, bisa kita teruskan sekarang?" Shotaro langsung membungkuk minta maaf sambil tangan kirinya menggaruk kepalanya. Setelah itu ia kembali mengarahkan tangan kanannya ke arah kiri badannya sembari menekan besi perak kecil pada permukaan Gaia Memory yang dipegangnya.

"JOKER!!" Gaia Memory tersebut mengeluarkan suara yang menggema ketika besi perak kecilnya ditekan.

Sebuah benda persegi panjang bergambar huruf 'C' muncul di slot sebelah kanan kepala sabuk Shotaro yang membentuk huruf W. Benda itu adalah Gaia Memory Cyclone. Sedangkan yang dipegang Shotaro adalah Gaia Memory Joker. Setelah itu Shotaro memasukkan Gaia Memory Joker pada slot di sebelah kiri kepala sabuknya yang merupakan bagian yang membentuk huruf W. Kemudian ia menekan kedua slot tersebut ke arah berlawanan.

"CYCLONE-JOKER!!" Sabuk itu mengeluarkan suara yang menggema.

Tubuhnya perlahan-lahan dilapisi pakaian pelindung berwarna sebelah hijau dan sebelah ungu kehitaman. Selendangnya
berwarna perak yang melilit lehernya berkibar terbawa angin. Begitu wujudnya telah
sempurna, ia langsung menunjuk Eagler dengan tangan kanannya dan setelah itu ia menyentuh kepalanya sebentar. "Kini hitung semua dosa-dosamu!"

"Apa kau Kamen Rider
Double?" tanya Eagler.

"Begitulah, karena nama itu adalah nama yang diberikan warga Futo terhadap kami," jawab Double.

"Kami? Sepertinya akan menarik.” Sayap Eagler mengembang dan mengepak, tubuhnya mulai melayang ke angkasa.

"Tak akan kami biarkan! Philip!" teriak Shotaro.

"Aku mengerti, Shotaro," ucap suara 'lain' yang keluar dari tubuh Double.

Double mencabut Gaia Memory berwarna hijau yang tertancap di sabuknya, lalu ia mengambil Gaia Memory berwarna kuning bergambar huruf 'L' yang berbentuk seperti bulan sabit dan ditekan permukaan besi kecilnya.

"LUNA!" Kepala sabuk Double mengeluarkan suara.

Kemudian Gaia Memory bernama Luna itu dimasukan ke slot yang ada pada sabuk yang dikenakannya, setelah itu ia menekan kedua Gaia Memory yang ada di sabuknya hingga saling bertolak belakang pada
masing-masing Gaia Memory.

Kepala sabuk pun mengeluarkan suara, "LUNA–JOKER!"

Warna tubuh Double yang berwarna hijau langsung berubah menjadi kuning metalik.

"Hoh, menarik sekali," ucap Eagler.

"Jangan berbicara membosankan seperti Philip.” kata Shotaro. Lengannya langsung memanjang ke atas dan melilit kaki Eagler. Lalu
dengan sekuat tenaga ia melempar tubuh Eagler hingga menubruk salah satu dinding gedung.

"Aku tidak
membosankan, Shotaro!" protes suara lain dari Double yang tak lain adalah Philip.

"Yah, mungkin kadang-kadang partner," kata
Double sambil lengan kirinya menggaruk-garuk kepalanya.

"Kita akan membahasnya
nanti, Shotaro. Gunakan Trigger!” ucap Philip.

Double langsung
mencabut Gaia Memory Joker yang ada di bagian kanan kepala sabuknya dan mengeluarkan Gaia Memory berwarna biru bersimbol huruf 'T'.

"TRIGGER!!” Gema suara kepala sabuk Double begitu bagian kotak kecil yang menempel di permukaannya ditekan.

Lalu Double memasukan Gaia Memory bernama Trigger itu ke dalam slot pada kepala sabuknya dan menekannya ke arah saling berlawanan.

Kepala sabuk pun mengeluarkan suara, "LUNA–TRIGGER!!"

Kini bagian tubuh sebelah kiri Double yang berubah. Berubah menjadi warna biru.

"Ayo partner!" ucap Shotaro.

"Ya," balas Philip.

Double mengeluarkan
sebuah pistol berwarna sebelah kuning dan sebelah biru lalu maengarahkannya ke arah Eagler dengan lengan kanannya, sedangkan tangan kirinya mencabut Gaia Memory Trigger di
sabuknya dan menancapkan benda itu pada
pistol di lengannya.

"MAXIMUM DRIVE!!"
suara gema yang berasal dari pistol yang dipegang Double.

"Trigger Full Burst!!" teriak Shotaro dan Philip bersamaan. Pistol milik Double langsung
menembakan beberapa cahaya kekuningan yang langsung melesat kencang dan mengenai tubuh Eagler hingga menimbulkan ledakan
yang hebat.

"Berhasilkah?" tanya Shotaro.

"Entahlah, Shotaro."

Kepulan asap yang diakibatkan ledakan tadi menyelimuti area tempat Eagler menubruk tadi sehingga membuat Double sulit melihat kondisi Eagler saat ini. Perlahan-lahan kepulan asap hitam itu semakin menipis dan memperlihatkan apa yang dibaliknya secara samar-samar. Sepertinya dugaan Philip benar, sosok Eagler terlihat samar-samar di balik kepulan asap tersebut.

"Baru kali ini aku melihat ada yang berhasil selamat setelah terkena 'Maximum Drive' kita, Shotaro," ucap Philip dengan nada serius.

"Apa kau yakin dia itu
bukan Dopant, Philip?" tanya Shotaro. "Jelas-jelas dia juga bukan manusia."

"Aku juga tak mengerti, Shotaro. Tapi aku yakin dia bukan Dopant, dia tak memiliki ciri untuk
sesosok Dopant," jelas
Philip.

Tiba-tiba saja kepulan asap itu menghilang dalam sekejap oleh hembusan angin kencang yang bersumber dari tempat Eagler berada.

Sesosok burung elang android besar melayang terbang sambil mengepakan sayapnya yang raksasa. Sosok mahluk itu jauh berbeda dengan sosok Eagler sebelumnya. Elang itu langsung melesat tinggi ke langit dan mengumpulkan titik cahaya di dalam paruhnya. Begitu titik cahaya di mulutnya semakin besar, ia menembakan cahaya itu ke arah Double hingga membuat gedung yang menjadi pijakan Double hancur berkeping-keping.

Melihat kemampuan serangan yang ditimbulkan oleh Eagler membuat Double tercengang.

Belum pernah
ia melihat kemampuan sehebat itu sebelumnya, bahkan serangan yang dikeluarkan oleh mahluk yang mereka sebut dengan Dopant pun belum pernah ada yang sedahsyat itu. Tubuh Double terpental karena terkena tekanan ledakan. Double langsung mengambil ponselnya dan menekan beberapa tombol pada keypadnya.

Sebuah kendaraan besar seperti mobil berwarna hitam lengkap dengan lampu warna merah langsung melesat kencang ke area dekat Double, lalu kap nya terbuka menjadi dua dan terlihat di dalamnya terdapat sebuah sepeda motor berwarna hijau di bagian belakang dan hitam di bagian depan, bersimbol huruf W berwarna keabu-abuan di kedua bagian samping depannya, serta bertanduk perak membentuk huruf W (pula) pada bagian depan kepalanya, motor itu bernama 'Hard Boilder'. Lalu
motor tersebut mundur ke belakang dan mengganti bagian belakangnya dengan bagian pesawat. Begitu pemasangan sempurna, motor itu langsung melesat dan menangkap tubuh Double tepat pada waktunya.

"Sepertinya kita selamat, partner,” kata Shotaro.

"Tapi tidak terlalu bagus, Shotaro. Serangan tadi terlalu memakan banyak korban jiwa,” ucap Philip.

Serangan tadi berhasil
menghancurkan gedung tadi berkeping-keping beserta orang-orang yang kebetulan berada di dalam gedung.

"Ganti strategi, Philip." Double langsung mencabut kedua Gaia Memory di sabuknya dan menggantinya dengan Gaia Memory berwarna merah bersimbol huruf 'H' dan silver bersimbol huruf 'M'.

"HEAT – METAL!!" Kepala Double Driver mengeluarkan suara. Sekarang sosok Double berubah menjadi berwarna merah metalik dan silver. Selain itu, di punggungnya pun muncul tongkat besi yang langsung ia cabut. Lalu
Double mengambil Gaia Memory berwarna silver di sabuknya dan menancapkannya di tongkat besinya.

"MAXIMUM DRIVE!!” Suara yang berasal dari tongkat.

"Metal Branding!!" ucap Shotaro dan Philip secara besamaan. Dari kedua ujung tongkatnya langsung mengeluarkan semburan api yang sangat besar. Lalu dengan menggunakan sepeda motornya, Double melesat kencang ke arah Eagler dan memukulnya dengan tongkat tersebut. Sekali lagi terjadilah sebuah ledakan besar di udara, namun tak terlihat sedikitpun puing-puing atau pecahan tubuh Eagler yang berjatuhan dari arah kepulan asap.

Tiba-tiba Double melihat titik-titik cahaya yang mulai berkumpul dari dalam kepulan asap, karena telah melihat apa itu sebenarnya dari serangan Eagler sebelumnya, Double langsung membelokkan sepeda motornya dan menarik gas sekencang-kencangnya hingga motornya melesat menuju ke arah Timur. Ia tak mau serangan Eagler menghancurkan kota lagi.

Seperti yang Double duga, kilatan cahaya langsung melesat dari arah belakang dan mengenai salah satu gedung tinggi. Tak beberapa lama kemudian gedung itu langsung hancur berkeping-keping hingga pecahan-pecahan dari gedung tersebut terlempar kemana-mana. Terlalu beresiko untuk bertarung dengan monster sekuat Eagler di kawasan kota. Tanpa menuruni kecepatan motornya, Double pun melesat kencang dan berharap Eagler akan segera mengikutinya.

Sesekali, Double menoleh ke belakang untuk melihat apakah monster itu sudah mulai mengejar dirinya. Tapi tak terlihat sesosok pun keluar dari kepulan asap. Tiba-tiba, Double merasakan rasa merinding dari arah belakangnya, belum pernah sekalipun ia merasakan rasa takut seperti ini selama dirinya menghadapi mahluk yang disebut dengan Dopant.

"Philip, segera cari tahu mahluk apa itu sebenarnya dari 'Library of Earth'!" perintah Shotaro.

"Baiklah," ujar Philip. Tiba-tiba pikirannya melayang jauh ke dimensi pikirannya sendiri dimana terlihat seorang pemuda berkulit putih, berwajah bundar, bermata sipit, berhidung pipih, berbibir agak merah jambu, dan berdaun telinga sedang yang tertuput rambut hitam lurus yang berdiri bagian samping kirinya. Busana yang dikenakannya ialah sebuah rompi panjang tanpa lengan, kaos berlengan panjang bergaris, dan celana tiga perempat. Orang itu tak lain adalah diri Philip itu sendiri. Kedua kelopak mata Philip terbuka, ia melihat ratusan bahkan ribuan 'rak buku' yang berderet rapih baik di sekelilingnya, atasnya maupun bawahnya. " Kata kuncinya 'Monster', 'Perusak bumi', 'Mistery'," ucap Philip.

Ratusan rak buku langsung melayang-layang menjauh dari sekitar Philip dan hanya menyisakan beberapa rak saja. Ternyata kata yang digunakan Philip masih belum cukup untuk menemukan buku yang dibutuhkan olehnya. Ia melihat-lihat beberapa judul buku seperti 'Grongi', 'Unknown', 'Worm', 'Native', 'Imagin', 'Fangire', 'Dopant', 'Yummy', 'Greeed', 'Shocker', 'Crisis Empire', dan lain-lain.

"Terlalu banyak, Shotaro. Aku memerlukan kata kunci lainnya,” ucap
Philip.

"Kalau begitu gunakan kata kunci ‘Besi’!" kata Shotaro.

"Besi,” ucap Philip, langsung mengatakan
kata kunci berikutnya.

Beberapa rak buku langsung melesat menghilang dan hanya menyisakan beberapa buku saja yang melayang-layang di dekatnya seperti 'Badan', 'Roidmude', 'Magia', 'Shocker', dan lain-lain .

"Masih kurang, Shotaro," ucap Philip.

"Aku tak tahu lagi,
Philip," kata Shotaro. Lalu sepertinya Shotaro langsung teringat sesuatu ketika Eagler berubah wujud meneriakkan kata 'Mecha'. "Aku tidak tahu kata kunci ini berpengaruh atau tidak, tapi aku tak punya ide lain."

"Kita coba saja, Shotaro."

"Kalau begitu gunakan kata kunci Mecha!"

"Aku mengerti. Kata kunci berikutnya adalah Mecha!”

Beberapa buku
yang tersisa langsung
melesat menghilang dan hanya menyisakan satu buah buku saja yang tak lama kemudian sebuah judul tertulis di sampul bukunya.

"Binggo!"

"Bagaimana, Philip?" tanya Shotaro.

"Makhluk itu ternyata adalah Mechaster,” kata Philip sambil membaca buku yang dipegangnya.

"Mechaster? Makhluk
apa itu sebenarnya?" tanya Shotaro.

"Sebentar, Shotaro. Aku belum selesai membacanya."

"Cepatlah, Philip! Makhluk itu sudah mulai terlihat mengejar dibelakang!"
ucap Shotaro. Double
langsung menoleh ke belakang, terlihat sosok burung elang robot raksasa sedang terbang mengejarnya dan semakin lama jarak diantara mereka semakin dekat.

"Disini dijelaskan bahwa Mechaster adalah monster robot yang memiliki 'wujud dasar' mirip dengan manusia yang datang dari luar angkasa setelah planet asal mereka hancur. Setelah kejadian itu, mereka tinggal di bumi seperti layaknya manusia. Di bumi, mereka mencari bensin sebanyak-banyaknya dengan berbagai cara untuk mereka minum sehari-hari. Bagi mereka, minuman lebih pokok dibandingkan makanan. Makanan mereka sama seperti manusia. Selain itu, mereka berlomba-lomba membunuh manusia agar bisa mencapai posisi tertinggi di bangsa mereka," kata Philip
membacakan buku yang dipegangnya.

"Lalu bagaimana dengan makhluk yang saat ini kita lawan? Apa ada penjelasan yang membahas mengenainya? Apa kelemahannya?" tanya Shotaro.

"Entahlah, Shotaro. Aku sama sekali tak menemukannya di buku ini,” kata Philip sambil membalik-balikan halaman demi halaman pada buku yang dipegangnya.

"Cih, kalau begitu sama saja bohong. Segera kembali ke pertarungan, Philip! Fokus!"

"Baik." Pikiran Philip kembali ke tubuh Double.

Sosok burung elang android raksasa langsung melesat di samping Double yang kontan saja membuat rider itu terkejut. Paruh Eagler terbuka lebar dan terlihat titik-titik cahaya yang mulai terkumpul di ujung tenggorokkannya.

Melihat gerakan Eagler yang secara tiba-tiba langsung membuat Double membanting kemudinya untuk menghindari serangan monster tersebut. Eagler langsung melesat ke angkasa dan mengepakan kedua sayapnya secara cepat dan menghujani Double dengan ribuan helai bulu besi yang sangat tajam dan membuat Double terlempar hingga dirinya terjatuh menubruk aspal di sebuah pelabuhan yang saat itu sedang sepi.

Sosok burung elang android itu pun mendaratkan dirinya dekat dengan tubuh Double yang sedang kesakitan. Lalu tubuhnya hancur, tapi kemudian mulai berkumpul kembali menjadi sosok Eagler yang menyerupai robot setengah manusia – burung elang. Eagler langsung merubah lengan kanannya menjadi cakar besar yang terlihat sangat tajam. Eagler berjalan mendekati Double yang sudah mencapai batas tubuhnya sehingga sangat sulit sekali untuk bergerak.

"Gunakan 'Memory Break' sekali lagi!" teriak Shotaro.

Double mencabut kedua Gaia Memory yang ditancapkan pada sabuknya dan menggantinya dengan Gaia Memory Cyclone dan Joker.

Kepala Double Driver mengeluarkan suara, "CYCLONE – JOKER!”

Warna tubuh Double
langsung berubah menjadi warna hijau dan hitam keunguan. Lalu ia mengambil Gaia Memory Joker dan menancapkannya pada slot di pinggang sebelah kanan.

"MAXIMUM DRIVE!!" gema suara yang berasal dari sabuk.

"Joker Extreme!!" teriak Shotaro dan Philip bersamaan. Double langsung bangkit kembali dan berlari ke arah Eagler, tak beberapa lama kemudian ia meloncat sangat tinggi dan mengambil ancang-ancang untuk menendang dari udara. Sesaat kemudian tubuhnya langsung terbelah dua dan menendang tubuh Eagler tepat pada dadanya.

Hal itu membuat tubuh Eagler
terpental jauh kebelakang hingga menghancurkan sebuah dock penyimpanan barang.

Serangan Double memang tak menghancurkan tubuh Eagler, hanya saja serangan tadi membuat Eagler merasakan kesakitan yang luar biasa. Pandangan Eagler
pun semakin lama semakin buram dan samar-samar.

"Sekali lagi, Philip!" perintah Shotaro.

"Tapi jika itu dilakukan tubuh kita tak akan kuat menahan tekanannya,
Shotaro," kata Philip mengingatkan.

"Aku tahu, tapi jika tak melakukannya lagi kita lah yang akan mati selanjutnya. Lakukan Memory Break sekali lagi!" ucap Shotaro.

Double menekan lagi Gaia Memory Joker yang sudah ada di slot pinggangnya.

"MAXIMUM DRIVE!!” gema suara yang berasal dari slot Gaia Memory di pinggang sebelah kanan Double.

Lalu Double kembali berlari ke arah Eagler dan meloncat tinggi ke langit.

"Joker Extreme!!" Tubuh Double langsung terbagi menjadi dua dan melesat ke arah Eagler.

Tiba-tiba sebuah lubang dimensi berwarna hitam muncul di depan sosok Eagler. Dari lubang dimensi tersebut muncul sesosok rider berukuran dua kali lipat dari ukuran manusia normal berwarna hitam dengan lensa mata
berwarna kuning lancip. Badannya yang tinggi besar dan hitam ditutupi oleh rompi besi yang pada bagian dadanya terlilit rantai secara menyilang. Dua
tanduk besar menjulang dikepalanya, sedangkan dikedua kaki dan tangannya terdapat gelang keemasan dengan tulisan kuno yang tak
dapat dimengerti. Di sabuknya terdapat kelelawar besar yang terbuat dari besi. Rider misterius itu langsung menahan
serangan Double dan melemparkan tubuh Double ke aspal hingga membuat jalan hancur berantakan. Double langsung mengejang kesakitan, ditambah kini seluruh tenaganya telah habis saat menggunakan Memory Break pada sebelumnya.

"Siapa lagi makhluk itu?” tanya Shotaro dengan nada sedikit pasrah.

"Kamen rider Arc. Salah satu kamen rider kuno yang ada,” jawab Philip. Kini dirinya telah kembali ke ‘Library of Earth’ dan membaca sebuah buku dengan judul bertuliskan 'Arc' pada sampulnya. Ia menggunakan ciri-ciri fisik Kamen Rider Arc sebagai kata kuncinya.

"Apakah dia Kamen Rider yang disebutkan oleh buku Mechaster?” tanya Shotaro.

"Sepertinya bukan, karena Arc sepertinya hanya berkaitan dengan Fangire saja,” kata Philip sambil menutup bukunya.

"Lalu untuk apa dia kemari?" tanya Shotaro bingung. Beberapa detik kemudian dada Double merasakan rasa sakit yang amat sangat.

Ternyata ada sebuah cahaya kemerahan berbentuk tali menembus dadanya. Secara spontan Double langsung menengok ke arah sumber tali tersebut. Terlihat sesosok rider berwarna perak dengan lensa mata biru dongker yang lancip, kepalanya seperti mengenakan mahkota dengan ukiran kaca mozaik yang ditengahnya terdapat sebuah lingkaran besi yang terdapat ukiran bunga. Di dadanya ada lingkaran besi dengan ukiran kelopak bunga yang sama dengan bagian kepalanya, hanya saja tepat di bagian putik bunganya terdapat sebuah permata besar berwarna biru.

Rider misterius yang baru saja muncul tersebut sedang menjulurkan cambuk cahayanya ke arah Double. Lalu ia melompat tinggi dan melewati sebuah tiang bendera yang menempel di dinding dock penyimpanan barang, karena hal itu tubuh Double langsung tertarik dan tergantung di udara. Tak lama setelah rider misterius tersebut mendarat di permukaan aspal, ia memetik cambuk cahayanya yang mengakibatkan tubuh Double meledak hebat.

Cambuk cahaya itu langsung melesat masuk kembali ke dalam pegangan cambuk yang digenggam rider misterius tersebut, sedangkan tubuh Double yang mengepul hebat hanya bisa terbaring lemas di permukaan aspal.

"Siapa dia sebenarnya?" tanya Shotaro dengan nafas terengah-engah.

"Kamen Rider Saga, sama seperti halnya Arc dia Kamen Rider yang berhubungan dengan Fangire. Salah satu ras yang meminjamkan kekuatannya pada Fang..ir..e...." Tubuh Philip ambruk di Library of Earth sambil menggenggam sebuah buku berjudul 'Saga'. Kini Philip telah kehilangan kesadarannya akibat cedera mental yang diakibatkan oleh efek cedera pada Double.

"Philip! Hoy, Philip!" teriak Shotaro dengan nada cemas.

Dengan ketidak sadarannya Philip, Double sama sekali tak bisa bergerak. Ia hanya bisa menatap gerak-gerik musuh yang mulai berjalan mendekati dirinya. Begitu juga dengan Eagler yang berjalan sempoyongan ke arah Double, meski begitu ia masih dapat bertahan.

Kedua rider yang muncul secara tiba-tiba tersebut perlahan-lahan mulai berubah menjadi rantai yang kemudian melesat ke genggaman sosok yang baru saja muncul di hadapan Eagler. Sosok itu adalah 'Quesier'. Matanya
menatap tajam Eagler
yang memandangnya
dengan rasa takut. Jemarinya langsung
meremukan rantai yang digenggamnya itu.

"Kau terlalu lengah. Jika aku tidak menolongmu, kau pasti sudah mati," ucap Quesier.

"Terimakasih atas pertolongannya, Nyonya Quesier," kata Eagler sambil membungkukkan badannya dan sebelah tangannya menyentuh dada.

"Sudah cukup, Eagler. Cepat bunuh rider itu!” perintah Quesier.

Eagler berjalan mendekati Double dan melepaskan kedua Gaia Memory yang tertancap di
kepala Double Driver dan bagian pinggang kanan Double. Dengan pandangan serius Eagler menatap kedua Gaia Memory tersebut dan melakukan 'scanning' terhadap keduanya.

"Gaia Memory? Sungguh menarik," ucap Eagler dengan nada antusias.

"Hoy, apa yang akan kau lakukan?" teriak Double.

"Tenang saja, kau akan hanya merasakan sedikit kesakitan saat aku melakukannya." Tubuh Eagler langsung melebur menjadi serpihan hologram yang
melayang-layang di udara. Lalu serpihan tersebut mulai membentuk dua buah kotak yang mirip dengan Gaia Memory milik Double. Begitu kedua Gaia Memory tersebut terbentuk dengan sempurna, kedua kotak yang satu berwarna biru gelap dan yang satu berwarna merah darah itu pun melesat dan menancap di kedua slot kepala Double Driver.

"MECHA –
MONSTER!!” gema suara yang berasal dari Double Driver berkumandang.

Double--yang hanya dikendalikan Shotaro saja--langsung berteriak kesakitan, pandangannya mulai terlihat gelap gulita bahkan pendengarannya pun mulai tumpul. Tak lama, tubuh Double langsung melayang di udara, lalu serpihan hologram menyelimuti tubuhnya. Begitu seluruh serpihan hologram telah menyatu dengan sempurna pada diri Double, kini sosok rider itu telah berubah menjadi warna biru gelap dan merah darah. Perlahan, Double menjejakkan kaki ke permukaan jalan.

"Menakjubkan! Aku merasakan
kekuatan yang luar biasa dari tubuh ini!" ucap Double dengan suara Eagler.

Quesier menatap heran pada Double. Sesaat ia mengerutkan keningnya. "Kau ... Eagler?"

"Ya, hamba Eagler, nyonya," jawab Double.

"Apa yang kau lakukan? Kenapa kau tidak membunuh rider itu?" tanya Quesier dengan tatapan tajam.

"Tenang saja, nyonya," jawab Double. "Nanti setelah aku puas memanfaatkan tubuh rider ini barulah aku membunuhnya. Lagipula dengan memanfaatkan kekuatan rider ini kekuatanku jadi berlipat ganda dan tentu saja berguna untuk menghabisi para Kamen Rider yang selalu menghalangi bangsa kita."

"Baiklah. Terserah kau saja. Semoga kau tak lengah lagi seperti tadi, karena aku tak selalu bisa menolongmu,” balas Quesier sambil berjalan menjauh dari Double.

Tak lama kemudian, sebuah lubang dimensi hitam muncul di hadapan Quesier, lalu ia masuk ke dalam lubang dimensi tersebut dan menghilang dalam kegelapan.

Double langsung membungkuk memberi hormat sambil tangan kanannya ditempelkan pada dadanya. "Sesuai
dengan permintaan anda."

Aizawa University, Kota Zippon - Jepang, Rabu 05 Februari 2020, pukul 07:30.

Ketika sampai ke dalam kelas dan duduk di bangku tempat ia biasa duduk, Ariel melihat sebuah kotak besar dengan penutup warna pink bergambar beruang yang terbuat dari karton yang dihiasi pita berwarna sama. Di atas kotak tersebut ada sebuah kertas karton kecil berbentuk 'hati' warna merah dan bertuliskan 'From: Izumi'. Ariel mengambil karton itu dan membalik lembarannya. Pada lembaran tersebut tertulis 'Kue ini aku buat sendiri spesial untuk Ariel. Dimakan ya...' serta banyak simbol hati (love) di sana. kotak itu kemudian Ariel masukkan ke dalam tas gemblok hitam bercorak merahnya yang sudah ia taruh di bangku.
.
.
.
Pada jam istirahat, Fumiko nampak sedang asyik menikmati kue brownies di tangga keramik kampus. Setiap gigitan ia nikmati dan hayati.

"Enak sekali... Ini brownies terenak yang pernah kumakan." Fumiko merem melek menikmati brownies tersebut. Ia seperti merasakan sensasi yang luar biasa dalam mulutnya. "Sedapnya luar biasa."

Di saat seperti itu, tiba-tiba seseorang menepuk pundak Fumiko. Namun, Fumiko tidak bereaksi. Ia sibuk menikmati kuenya yang sangat lezat itu. Sekali lagi, pundak Fumiko ditepuk, tapi ia tetap tak bereaksi pada tepukan tersebut.

"Fumiko!!!" teriak orang yang menepuk pundak Fumiko persis di telinganya.

Fumiko terperanjat. Ia pun menengok ke belakang. "Izumi??" ucapnya menyebutkan nama orang yang berteriak di telinganya serta menepuk pundaknya tadi. "Kau ini, tidak harus berteriak di telingaku segala kan?"

Izumi tertawa. "Habis, aku tepuk kau tidak menyahut. Kau sedang apa sih?"

"Sedang makan ini." Fumiko mengambil lalu menunjukkan sekotak brownies yang isinya tinggal beberapa. "Mau?"

"Dari mana kau dapatkan itu?" tanya Izumi.

"Dari Ariel," jawab Fumiko.

"Ariel??" Dahi Izumi mengernyit. Bola matanya lalu beralih ke penutup kotak brownies itu yang sangat ia kenali. "Itu kan ..."

"Kenapa Izumi?" tanya Fumiko.

"Yang kau makan itu brownies buatanku!" jawab Izumi.

Fumiko terkejut. "Buatanmu??"

"Ya." Izumi mengangguk. "Kenapa Ariel memberikannya padamu??"

"Dia bilang dia tidak suka, jadi dia berikan padaku."

Raut wajah Izumi langsung berubah sedih dan kepalanya tertunduk. "Begitu ya? Padahal aku sudah susah payah membuatnya, tapi ternyata dia tidak suka."

Fumiko memandang simpatik pada Izumi. Ia tersenyum dan berkata dengan lembut sambil memegang kedua pundak Izumi, "Sudahlah... Yang penting kau sudah berusaha. Lagipula brownies buatanmu sangat enak. Kau sepertinya berbakat membuka usaha kue."

"Terimakasih, Fumiko," balas Izumi. "Tapi ... Kenapa Ariel tidak pernah membalas perasaanku?? Apa lagi yang harus aku lakukan??" Air mata lalu mengalir dari pelupuk matanya.

Melihat hal itu, Fumiko langsung mengambil sapu tangannya dari balik rompi hitam yang ia kenakan. Dengan lembut, ia menghapus air mata Izumi seraya berkata, "Sudah sudah... Ariel memang orangnya seperti itu. Kau harus sabar. Lagipula bukan hanya pemberianmu yang ia tolak, tapi pemberian gadis-gadis yang menyukainya pun sama."

"Kenapa Ariel seperti itu?"

"Hmmm ... Kapan-kapan akan aku ceritakan."
.
.
.
Jam istirahat telah berakhir, seluruh mahasiswa dan mahasiswi masuk ke kelas masing-masing. Di dalam kelasnya, Ariel nampak sibuk mencari sesuatu entah itu di dalam tas, kolong meja, ataupun kolong bangku.

"Selamat siang semuanya!" ucap seorang pria jangkung berambut belah pinggir yang tiba-tiba masuk ke dalam kelas itu.

"Siang pak!!!!" balas para mahasiswa dan mahasiswi serentak.

"Nah, semuanya, PR yang kemarin langsung di kumpulkan ke depan ya," ucap pria bernama Kitaoka itu ketika sudah duduk di bangku dosen.

Para mahasiswa dan mahasiswi maju satu persatu ke depan dan menaruh PR mereka, tapi tidak dengan Ariel, ia hanya duduk-duduk saja di bangkunya.

"Ada yang tidak mengerjakan? Atau ada yang PR-nya ketinggalan?" tanya Kitaoka.

Perlahan, Ariel mengangkat tangannya. "Saya!"

Seisi kelas pun riuh, ada beberapa orang yang menatap ke arah Ariel termasuk Fumiko dan Izumi.

Kitaoka mengerutkan keningnya. "Ariel?? Kau tidak mengerjakan atau PR-mu ketinggalan?"

"Ketinggalan," jawab Ariel.

Kitaoka menggeleng. "Kenapa bisa ketinggalan?"

"Entahlah," kata Ariel.

"Kau memang mahasiswa kebanggaan di sini, tapi bukan berarti kau bisa seenaknya. Baiklah, sebagai hukumannya, sekarang kau berdiri di lapangan!" perintah Kitaoka.

Tiba-tiba, Izumi berdiri dari bangkunya. "Pak, apa boleh saya menggantikan Ariel?"

"Izumi??" Kitaoka mengernyitkan dahi. "Apa maksudmu??"

"Biar saya yang menggantikan Ariel berdiri di lapangan!" jawab Izumi.

Seisi kelas langsung memandang Izumi. Beberapa dari mereka ada yang berbisik-bisik.

"Apa kau yakin?" tanya Kitaoka.

Izumi mengangguk. "Sangat yakin!"

"Baiklah, silahkan!" balas Kitaoka.

Izumi langsung berjalan keluar kelas dan berdiri di lapangan.

Dari kaca dekat tembok di sampingnya, Ariel hanya melihat saja Izumi menjalani hukuman yang seharusnya untuknya tanpa ada rasa simpati sama sekali. Setelah itu, ia kembali menatap ke depan, memperhatikan Kitaoka yang sedang mulai mengajar.

=***=


Sirkuit Motegi, Kota Hiyama - Jepang, Kamis 06 Februari 2020, pukul 07:30.

Suara deru kencang motor terdengar membahana di seluruh sirkuit tersebut. Belasan motor saling beradu untuk dapat menjadi yang terdepan.

Suara para penonton yang sedang melihat pertandingan itu semakin memvariasikan suara gaduh yang telah ada. Terutama ketika seorang pembalap
yang mengenakan motor berwarna merah dan bernomor 56 yang semula tertinggal jauh langsung melesat kencang dan menyalip motor yang lainnya.

Seorang pembalap yang mengenakan motor biru metalik langsung menyalip kembali motor berwarna merah tadi, tapi pembalap motor merah masih mampu mempertahankannya dan melesat sejajar dengan si pembalap dengan motor biru. Begitu tanda 'Finish'
telah dekat, si pembalap bermotor merah langsung menarik gas-nya hingga batasnya dan membuatnya melesat jauh meninggalkan pesaingnya. Akhirnya pembalap itu berhasil memasuki garis Finish
pada 'lap' terakhirnya dan menandakan pembalap itu sebagai juara pertamanya.

Pembalap itu langsung disambut gembira oleh tim-nya yang langsung mengerubuti si pembalap. Begitu si pembalap melepaskan helm-nya, terlihat wajah Ariel dibalik helm tersebut. Ariel berterima kasih pada tim-nya karena telah bekerja sama dengan baik. Setelah naik ke podium dan penyerahan bunga beserta piala, Ariel mengocok botol champagne dan membuka botol tersebut hingga memutahkan buih yang sangat banyak. Nama Ariel langsung dielu-elukan oleh seluruh penonton yang hadir di sirkuit tersebut. Setelah seluruh acara
formal selesai, Ariel langsung kembali ke ruang gantinya. Ia langsung merebahkan tubuhnya yang letih di sofa yang disediakan di ruang gantinya. Fumiko yang telah menunggu kedatangan Ariel langsung menyerahkan sebotol kopi susu dingin kepadanya.

"Kau sudah bertanding dengan hebat, Ariel,” ucap Fumiko memberi selamat.

"Terimakasih," balas Ariel yang membuka penutup botol kopi susunya dan meminum kopi susu tersebut.

Fumiko mengeluarkan tumpukan kertas dari dalam tasnya dan meletakkan tumpukan kertas tersebut di atas meja berwarna cokelat yang ada di hadapan Ariel.

Dahi Ariel mengernyit. "Apa ini??"

"Materi pelajaran kampus," jawab Fumiko. "Tadi sebelum ke sini aku dipanggil ke kampus untuk bertemu Pak Kiriyama."

"Materi?"

"Ini karena Ariel suka membolos kuliah, entah karena mengikuti pertandingan ini atau juga bertarung sebagai Blitzer."

Ariel menghela napas dan bersandar di sofa. "Padahal aku hanya absen satu minggu lebih, tapi bisa-bisanya dosen bodoh itu memberiku materi sebanyak ini."

"Sudahlah... Ini kan karena Ariel merupakan mahasiswa kebanggaan kampus kita," ucap Fumiko sambil tersenyum lebar dan menepuk pundak Ariel. "Betul kan?"

Ariel hanya menghela napas panjang.

"Tapi aku masih bingung dengan dirimu." Raut wajah Fumiko mendadak serius.

"Kenapa?" tanya Ariel.

"Kau yang sering absen karena mengikuti pertandingan seperti ini atau kegiatan lainnya kenapa bisa mendapatkan nilai bagus dan selalu menjadi peringkat satu di angkatan kita?" Fumiko lalu menggebrak meja dan berdiri dari sofa. "Tidak hanya itu, kau selalu menjadi wakil Jepang dalam berbagai macam Olimpiade dan anehnya selalu mendapat medali emas!"

"Eh?" Ariel nampak bingung.

Fumiko lalu kembali duduk di sofa. "Jujur, kau terlalu membuat iri." Kemudian ia menatap Ariel dengan tajam. "Tolong beritahu rahasia suksesmu itu, Ariel!"

Ariel meneguk habis kopi susunya dan memandang botolnya yang telah kosong. "Kuncinya hanya satu, yaitu 'Serius'!"

"Hanya itu kah??" tanya Fumiko.

Ariel mengangguk. "Usaha tidak akan mengkhianati hasil."

"Apapun itu, kau tetap membuatku iri," kata Fumiko, sebelum akhirnya beranjak dari sofa menuju pintu keluar. "Besok ku tunggu di kampus! Sampai jumpa...," ucapnya sambil tersenyum hangat lalu pergi meninggalkan ruangan itu.

Beberapa saat setelah Fumiko pergi, smartphone milik Ariel yang berada di saku belakang celananya bergetar dan berbunyi. Ariel pun langsung mengambil smartphone itu dan menekan tombol bulatnya. Layar smartphone tersebut langsung menampilkan gambar sebuah peta dengan titik merah kelap-kelip dan di atas titik merah itu ada tulisan 'Mouser'.

"Stasiun kota ya? Tak terlalu jauh dari sini," ucap Ariel yang langsung bergegas meninggalkan ruang ganti menuju tempat parkiran motor yang berada di sirkuit tersebut.

Begitu sudah naik di atas motor dan mengenakan helm fullface-nya, Ariel langsung tancap gas dengan kecepatan maksimum.

Tidak sampai sepuluh menit, Ariel pun sudah sampai di stasiun kota.

Ariel terkejut melihat suasana di area stasiun itu. Suasananya sangat kacau, banyak perlengkapan stasiun yang telah dirusak. Tidak hanya itu, jaringan kabel juga banyak yang terputus di sana-sini. Sama sekali bukan hal yang dapat dilakukan oleh manusia.

Setelah melepas helmnya dan turun dari motor, Ariel mendengar suara yang aneh, tepatnya di loket pembelian tiket kereta. Dengan hati-hati, Ariel berjalan mendekati tempat itu. Seperti yang ia duga, di sana terlihat sesosok 'Mechaster' berbentuk manusia setengah tikus yang keseluruhan tubuhnya terbuat dari baja. Dialah Mouser.

"Baiklah, akan kubereskan hari ini juga!" ucap Ariel yang kemudian Blitzdrive dari balik jaketnya dan menempelkan benda itu di depan pinggangnya lalu menekan permata merah besarnya.

Sisi kanan dan kiri Blitzdrive langsung mengeluarkan tali sabuk berwarna perak bercorak garis hitam yang kemudian merekat di belakang pinggang Ariel.

Ariel kemudian mengambil kartu bergambar Blitz Crest dari kotak di sebelah kanan sabuknya. Kartu tersebut ia apit dengan jari telunjuk dan tengan tangan kanannya. Setelah menekuk tangan kanannya ke arah kiri badannya, Ariel pun berseru, "Henshin!" Dan memasukkan kartu yang ia pegang ke dalam lubang khusus kartu di atas kepala Blitzdrive.

Seperti biasa, hologram berbentuk manusia bertanduk berwarna merah keluar dari permata merah Blitzdrive yang menyala terang. Hologram tersebut menendang Mouser hingga terlempar dari posisinya berpijak. Setelahnya, hologram tersebut mundur ke arah Ariel dan akhirnya melapisi tubuh pemuda itu. Begitu hologram tersebut terserap habis ke dalam tubuh Ariel, tubuh pemuda itu berubah menjadi sesosok rider dengan suit merah yang mencolok yakni Kamen Rider Blitzer. Lensa mata biru besarnya berkedip.

"Siapa kau? Kenapa menyerangku?" tanya Mouser.

Blitzer maju dua langkah dan menjawab, "Orang yang bertarung atas nama dendam, Kamen Rider Blitzer."

"Hoo... Seorang Kamen Rider rupanya," ucap Mouser. Sebuah pedang perak dengan cabang gagang berbentuk bulat muncul dari dada Mouser. Dengan sekuat tenaga Mechaster itu menariknya keluar. "Kalau begitu, matilah!"

Mouser lalu mengambil ancang-ancang dan berlari sambil mengarahkan pedangnya ke arah Blitzer. Untungnya Blitzer mampu membaca langkah penyerangan monster itu dan dengan mudah menghindarinya. Tak mau diam saja, Blitzer mengambil kartu 'STRIKE MACHINE' dari kotak yang menempel di sebelah kanan sabuknya lalu memasukkan kartu itu ke dalam slot yang ada di atas kepala Blitzdrive.

"STRIKE MACHINE!!" Suara yang berasal dari Blitzdrive.

Hologram Strike Shoes pun muncul melapisi kaki kanan Blitzer lalu menjadi nyata.

Blitzer kemudian menekan permata merah yang ada di Blitzdrive sehingga Blitzdrive mengeluarkan suara, "POWER!"

Permata merah yang ada pada Blitzdrive terus menyala terang. Baling-baling Strike Shoes pun berputar kencang, dan tiga kotak merah yang ada di punggung Strike Shoes beserta Blitz Crest-nya menyala. Blitzer langsung melompat tinggi, bersalto satu kali di udara, kemudian meluncur dengan posisi menendang ke arah Mouser yang berada di bawah dengan telapak Strike Shoes yang diselimuti oleh kobaran api.

Melihat hal itu, Mouser langsung membelah diri menjadi beberapa sosok, sehingga Blitzer hanya menghancurkan salah satu dari sosok Mouser dengan tendangannya.

Dengan cepat, dua sosok Mouser mengunci gerakan Blitzer yang membuatnya sulit bergerak. Satu sosok Mouser sisanya langsung menendang keras dada Blitzer hingga terlempar jauh ke belakang dan punggungnya menabrak salah satu pilar stasiun kota hingga hancur.

Sambil menahan rasa sakit, Blitzer bangkit dengan sekuat tenaga. "Kau boleh juga," ucapnya.

"Tentu saja. Karena aku telah bertengger pada posisi 100 di Killer Board," kata salah satu Mouser.

Blitzer lalu mengambil kartu 'SPEED ENGINE' dari Blitzcase dan memasukkan kartu itu ke dalam lubang kotak tipis yang ada di atas kepala Blitzdrive.

"SPEED ENGINE!!" Blitzdrive pun mengeluarkan suara.

Permata merah pada Blitzdrive langsung berubah menjadi warna biru dan terus bersinar terang. Pelindung bahu Blitzer terpencar ke segala arah, memperlihatkan pelindung bahu berwarna biru serta bergaris emas. Di waktu yang hampir bersamaan, body suit dan helm Blitzer berubah menjadi warna biru, berikut Blitz Crest di dada sebelah kiri serta Blitzcase. Cahaya di permata biru yang ada di kepala Blitzdrive pun berhenti menyala. Sekarang, Blitzer telah berubah wujud menjadi Blitzer Speed Engine.

Blitzer kemudian menekan permata biru yang ada pada Blitzdrive, hingga Blitzdrive mengeluarkan suara, "POWER!!"

Tubuh Blitzer langsung menghilang dari pandangan mata. Tidak lama kemudian, satu sosok Mouser terpental lalu terombang-ambing di udara. Dan tak lama setelahnya, satu Mouser lagi terpental dan terombang-ambing di udara pula. Tak lama, dua Mouser itu meledak, hancur berkeping-keping.

"ENGINE OVER!!" gema suara Blitzdrive.

Blitzer pun kembali dapat dilihat oleh pandangan mata.

Melihat hal demikian, sosok Mouser sisanya yang masih bisa bertahan langsung berlari menjauh dari Blitzer.

"Jangan lari kau!" teriak Blitzer sambil mengejar Mouser.

Tiba-tiba langkah Mouser terhenti karena ia tak sengaja membentur sesuatu. Begitu ia mengecek apa yang telah membenturnya; ternyata yang telah membenturnya adalah sosok Kamen Rider Double yang telah diambil alih tubuhnya oleh Eagler.

"Siapa kau?" tanya Mouser ketika melihat sosok
Double dihadapannya.

Double tak berbicara
sedikit pun, ia hanya menoleh ke arah Mouser dan tanpa ragu-ragu meninju dada Mouser hingga tembus ke belakang. Mouser yang sama sekali tak menyangka, hanya bisa terperanjat dan mencengkram lengan Double yang telah menembus dadanya.

"A-apa-apaan ini?" ucap Mouser sesaat sebelum tubuhnya roboh dan meledak hancur.

"Mechaster gagal. Lebih baik mati saja,” ucap Double. Lalu ia memandang Blitzer dengan tatapan yang sangat dingin. "
Selanjutnya giliranmu!"

Double langsung mengambil sebuah Gaia Memory berwarna ungu dan menekan kotak perak pada permukaannya.

"JOKER!" Gaia Memory mengeluarkan suara.

Gaia Memory tersebut langsung dimasukkan ke dalam slot di sebelah kanan sabuknya.

"MAXIMUM DRIVE!!" Suara muncul dari Double Driver.

"Joker Extreme!" Double segera meloncat tinggi dan menendang ke arah Blitzer. Tubuhnya langsung terbelah dua sesaat sebelum tendangannya mengenai telak tubuh Blitzer.

Blitzer yang terkena serangan secara telak itu langsung terlontar cukup jauh. Tubuhnya mengalami rasa keram di berbagai bagian, bahkan untuk sesaat tubuhnya tak dapat digerakkan.

"Bagaimana?" tanya
Double.

"Kau ..." ucap Blitzer sambil berusaha bangun dengan tubuh bergetar. Ia lalu menekan permata biru yang ada di kepala sabuknya.

"POWER!!" gema suara
Blitzdrive.

Tubuh Blitzer langsung menghilang entah kemana.

"Percuma saja." Double mengeluarkan sebuah magnum berwarna biru, setelah itu ia mengambil Gaia Memory berwarna kuning dan menekan kotak perak kecil
di permukaanya.

"LUNA!!" Gaia Memory tersebut mengeluarkan suara.

Lalu Double memasukan Gaia Memory Luna ke dalam slot di magnum.

Magnum pun mengeluarkan suara, "MAXIMUM DRIVE!!"

"TRIGGER FULL BURST!" Double menembak ke atas. Beberapa cahaya kekuningan langsung keluar dari magnum-nya, terbang ke angkasa, dan mengejar sesuatu yang sangat cepat.

Sebuah ledakan besar terjadi. Tubuh Blitzer langsung terlontar dari dalam ledakan lalu terguling-guling di tanah dan kembali ke wujud awalnya yang ber-suit merah.

"Tcih,” Blitzer berusaha bangkit, tapi sesaat kemudian tubuhnya kembali terjatuh.

Double berjalan perlahan menuju tubuh Blitzer dan kemudian menodongkan magnum-nya tepat pada kepala Blitzer. "Sayang sekali takdir mempertemukan kita seperti ini. Matilah dengan tenang!"

Akan tetapi, tiba-tiba...

DUAKH!!

Sesuatu menghantam punggung Double hingga ia terlempar dari tempatnya berpijak. Meski begitu, Double masih mampu menjaga keseimbangan tubuhnya dan mendarat di tanah dengan posisi setengah berlutut. Ia melihat apa yang telah menghantamnya. Ternyata di tempat ia menodongkan magnum pada Blitzer tadi berlututlah sesosok rider ber-suit biru dan berlensa mata merah besar. Dia adalah Kamen Rider Dhroider.

"Kau ..." ucap Blitzer tak menyangka.

Dhroider terkejut melihat serangan pamungkasnya tidak mencederai lawannya.

"Khuhuhuhu... Cuma segitukah seranganmu?" kata Double pada Dhroider.

"Jangan sombong kau!" balas Dhroider.

Blitzer menatap bingung ke arah Dhroider. "Kenapa kau menolongku?"

"Siapa yang menolongmu?" kata Dhroider sambil menoleh ke arah Blitzer. "Aku yang daritadi menonton pertarunganmu hanya tidak ingin melihat pertarungan yang berat sebelah, dan sepertinya dia yang melawanmu itu adalah lawan yang menarik bagiku untuk bersenang-senang."

"Bersenang-senang katamu??" ucap Blitzer bingung.

"Diam dan lihat saja," balas Dhroider. Ia lalu mengambil selembar kartu putih dari dalam kotak sebelah kanan sabuknya yakni Dhroidcase. Kartu tersebut sama seperti kartu 'Techno Blade' milik Blitzer, yang membedakan hanya motif segitiga dan kotak kecilnya berwarna biru serta tulisan 'TECNO BLADE'-nya. Bagian yang seharusnya berwarna merah dari gambar pedangnya memiliki warna biru. Kartu tersebut lalu Dhroider masukkan ke dalam lubang kotak tipis yang ada di atas kepala sabuknya.

"TECHNO BLADE" Sabuk Dhroider menggema. Tak lama kemudian, muncul sebilah pedang hologram seperti yang tergambar pada kartu. Hologram itu lalu menjadi nyata dan langsung digenggam pegangannya oleh Dhroider.

"Kau diam saja di sini dulu!" ujar Dhroider sambil menatap Blitzer. "Karena selanjutnya, aku akan melawanmu!" Ia lalu berlari ke arah Double.

"Kenapa fungsi kartu-kartu yang dia miliki hampir sama dengan kartuku ya?" gumam Blitzer.

Double yang sudah menyiapkan toya perak di genggaman tangannya langsung mengayunkannya untuk menangkis serangan Dhroider yang datang.

TRINGG!!

Senjata mereka berdua pun beradu keras.

Setelah beradu senjata, Dhroider dan Double saling memainkan jurus untuk dapat melukai lawannya dengan senjata masing-masing. Tapi masing-masing dari mereka mampu menghindari setiap jurus yang datang.

TRINGG!! TRANGG!! TRINGG!!

Kedua senjata mereka kali ini beradu di udara dan terus seperti itu sampai beberapa saat. Sampai pada akhirnya, Dhroider melihat celah pada pertahanan Double persis ketika mereka berdua kembali menginjak tanah. Dengan cepat, Dhroider menyarangkan sabetan besar dan bertenaga pada dada Double, membuat Double mundur cukup jauh ke belakang.

"Boleh juga," ucap Double.

Dhroider lalu menekan permata biru pada kepala sabuknya.

Kepala sabuk itu, Dhroidrive, mengeluarkan suara, "POWER!!"

Mata pedang Dhroider langsung diselimuti putaran angin. Dhroider pun langsung mengangkat pedangnya ke atas, lalu ia ayunkan dengan keras ke bawah, membuat angin yang menyelimutinya melesat cepat ke arah Double.

Akan tetapi, dengan mudah Double menghalau angin tersebut dengan toyanya, hingga angin itu menubruk salah satu pilar stasiun sampai hancur.

"Apa??" ucap Dhroider tak percaya.

"Kau pikir serangan seperti itu mempan padaku?" cemooh Double. Kemudian ia mencabut Gaia Memory biru gelap yang ada di slot depan sabuknya dan menekan permukaan kotak kecil perak yang menempel di depan bawah Gaia Memory itu.

"MECHA!!" gema Gaia Memory tersebut.

Lalu Double menancapkan Gaia Memory itu di slot sebelah kanan sabuknya.

Sabuk pun bersuara, "MAXIMUM DRIVE!!"

Tangan kanan Double pun berubah menjadi 'meriam' berwarna biru gelap. Perlahan, meriam tersebut mengumpulkan titik api pada moncongnya.

"Mecha Cannon!!" teriak Double seraya menarik tuas di atas meriamnya dengan tangan kirinya.

Meriam itu langsung memuntahkan cahaya bulat yang dilapisi api berkobar. Cahaya tersebut melesat kencang ke arah Dhroider.

Tak sempat mengelak, Dhroider pun terkena serangan itu hingga terseret mundur lumayan jauh ke belakang terbawa cahaya tersebut dan meledak cukup hebat lalu kembali ke wujud manusianya, Jeth Higashi.

"Agh! Cuh!" Jeth muntah darah, tubuhnya serasa amat sakit dan kesemutan.

"Masih bisa bertahan rupanya," ucap Double yang kemudian berjalan perlahan ke arah Jeth.

Blitzer yang menyaksikan hal tersebut mengambil selembar kartu bergambar 'ledakan' dari dalam Blitzcase dengan tulisan 'CRITICAL BOMB'. Kartu tersebut memiliki pola segitiga merah bertepi emas serta kotak kecil merah seperti pada kartu-kartu sebelumnya. "Mungkin terpaksa harus menggunakan ini," ucapnya sesaat sebelum memasukkan kartu itu ke dalam lubang kotak tipis di atas kepala sabuknya.

Sabuk pun bergema, "CRITICAL BOMB!!"

Tubuh Blitzer langsung melayang di udara.

"Jeth, cepat pergi dari sini!" teriak Blitzer, tubuhnya melayang menghampiri Double.

Double menoleh ke atas, ke arah Blitzer yang sedang melayang. "Apa yang akan dia lakukan?"

"Pergi cepat, Jeth! Jika tidak, kita tidak akan bisa bertarung lagi!" lanjut Blitzer.

Jeth pun berdiri meski harus susah payah, kemudian ia menyentakkan kedua kakinya ke tanah sehingga tubuhnya terlontar ke atap stasiun. Setelah menatap Blitzer sebentar, ia pun pergi dari sana.

"Sekarang, bersiap-siaplah kau!" ucap Blitzer yang kemudian menekan permata merah di kepala sabuknya.

"POWER!!" Suara sabuk Blitzer.

"Jika seranganku kali ini tidak mempan juga, maka kaulah pemenangnya," ucap Blitzer.

Tidak lama setelah itu, dari samping kanan dan kiri Blitzer muncul besi besar setengah lingkaran berwarna merah dengan banyak bolongan. Besi tersebut kemudian menyatu dan membungkus tubuh Blitzer dan menjadi bulatan utuh. Bolongan-bolongan besi tersebut mengeluarkan asap dan langsung meluncur ke arah Double.

"Tidak semudah itu!" teriak Double yang langsung mengeluarkan toya peraknya untuk menahan besi merah yang membungkus tubuh Blitzer tersebut.

Namun, tenaga besi bulat itu lebih kuat sehingga meniban tubuh Double lalu meledak hebat. Ledakan tersebut langsung melibas tubuh Double dan menghancurkan stasiun kota serta daerah sekitarnya yang terkena radius ledakan. Tekanan ledakan mengluluh lantahkan daerah sekitar stasiun kota, bahkan akibat ledakan tersebut membuat atsmosfir langit menjadi aneh. Kilatan-kilatan petir muncul di berbagai penjuru langit menandakan akan terjadinya badai. Akibat permunculan udara panas secara tiba-tiba dan menghasilkan gesekan terhadap udara dinginnya kota pada saat itu membuat beberapa badai angin muncul secara serentak.

Ledakan terjadi selama beberapa menit yang mengakibatkan penduduk sekitar berduyun-duyun keluar dari kediamannya untuk mengevakuasikan diri dan keluarganya. Begitu cahaya ledakan mereda, seluruh pandangan para penduduk langsung menjadi gelap gulita. Mungkin ini karena perubahan cahaya secara spontan yang mengakibatkan mata langsung dipaksa menyesuaikan diri. Mobil-mobil kepolisian,
pemadam kebakaran, dan ambulans segera datang ke tempat kejadian untuk memberikan pertolongan kepada warga sekitar yang masih selamat. Pemandangan di sana sungguh mengerikan, bagaikan neraka saja. Reruntuhan dan puing-puing terlihat dimana-mana, kepulan asap putih mengepul dari reruntuhan dan puing-puing. Para peneliti dari bagian bencana, peneliti nuklir, serta peneliti bagian gas alam mulai berjalan-jalan memasuki area pusat ledakan yang tak lain adalah stasiun kota yang kini sama sekali tak memperlihatkan ciri sebuah stasiun. Mereka semua menggunakan baju kedap udara yang sangat tebal, bahkan kepala mereka ditutupi oleh tabung udara.

"Tak ada indikasi yang
menunjukan radiasi nuklir di sini," ucap peneliti nuklir sambil terus memperhatikan alat yang dibawanya.

"Begitu juga dengan
kami, tak ada indikasi kebocoran pipa gas di sini. Bahkan kandungan gas di sini sangat normal,” ucap peneliti gas yang sama bingungnya dengan peneliti lainnya.

Para peneliti bencana yang sedang mengecek reruntuhan dan puing-puing mulai mencatat semua kemungkinan yang terjadi. Mereka mulai membuat hipotesa yang nantinya akan dicocokkan dengan hasil penelitian yang telah keluar.

Tiba-tiba seorang peneliti tertarik pada bagian reruntuhan di daerah puing-puing stasiun kota. Begitu ia mulai membongkar puing-puing tersebut, ia terkejut melihat sosok pemuda yang penuh luka bakar dan hampir seluruh pakaian yang dikenakannya hangus terbakar. Pemuda itu membuka matanya sedikit dan melihat seseorang yang mengenakan pakaian kedap udara secara samar-samar. Dengan menggunakan sisa tenaganya, ia mencoba menggerakan tangannya.

"A-Aku tak akan menyerah," ucap pemuda tersebut terbata-bata sebelum akhirnya kehilangan kesadaran dan pingsan.

"Hei semuanya, ada yang selamat di sini!" teriak peneliti itu.

Seluruh peneliti langsung berkumpul di sekeliling pemuda itu. Beberapa peneliti bencana langsung mencari data tentang si pemuda itu lewat laptop khusus dengan sehelai rambut pemuda tersebut sebagai medianya. Hingga akhirnya semua data telah terkumpul.

"Aku telah mendapatkan datanya, ketua," ucap salah satu peneliti.

"Sebutkan data dirinya!" perintah ketua peneliti bencana.

"Menurut data yang
kudapat, pemuda ini bernama Matsuyama Ariel, berumur dua puluh empat tahun dan beralamat di Zippon. Ia juga merupakan CEO Techno Corporation, dan salah satu orang penting di Jepang,” kata peneliti itu sambil membaca data analisis pada laptopnya.

"Apa? Jadi beliau adalah tuan Matsuyama Ariel yang terkenal itu? Tak kusangka akan melihat anda dalam keadaan seperti ini, tuan Matsuyama,” ucap ketua peneliti sambil memandang sedih kepada Ariel.

Suasana di daerah puing-puing itu terasa sangat sunyi dan kelam, bahkan jauh lebih mengerikan dibandingkan film horor yang menceritakan suasana kota mati yang sangat menyeramkan. Ini lebih menyerupai neraka mini yang muncul ke permukaan. Yang jelas nasib Ariel tergantung pada bala bantuan yang datang ke tempat itu.
=***=
To Be Continued

[FanFic] Kamen Rider Blitzer (Episode 8: Belalang Hitam)

Episode 8: Belalang Hitam

Kota Zippon - Jepang, Kamis 24 Januari 2020, pukul 01:00.

Di malam yang dingin dan sunyi, seorang pria bertopeng kepala 'belalang' warna hitam tengah berlari dari kejaran banyak orang. Ia mengenakan kaos hitam yang dibalut jaket kulit lengan panjang berwarna senada dan celana panjang hitam. Ia memanggul karung warna cokelat berisi banyak barang. Di lehernya, melingkar sebuah kalung berbandul perak dan di tengahnya ada permata merah.

Setelah sekian lama berlari, akhirnya ia terhenti di sebuah jalan buntu.

Orang-orang yang mengejarnya yang rata-rata memegang senjata yang beragam jenisnya pun berhenti.

"Akhirnya...," ucap seorang pria berkaos oblong biru dan berambut jabrik.

"Menyerahlah dan serahkan semua barang yang kau rampok atau kami akan menghabisimu!!!" teriak seorang pria berkemeja kotak-kotak hitam dan berambut panjang.

"Aku tidak akan menyerah!" balas pria bertopeng belalang itu. "Jika kalian ingin menghabisiku, silahkan!"

"Keras kepala!" ucap si pria jabrik. "Semuanya, ayo kita habisi dia!"

Semua orang yang ada di situ mengangguk, kemudian mengikuti si pria jabrik berlari ke arah pria bertopeng belalang tersebut.

Tanpa basa-basi, orang-orang yang berjumlah 'lima belas' itu melancarkan serangan pada si pria bertopeng belalang. Dari mulai pukulan, tendangan, sabetan golok, dan hantaman kayu, semuanya seolah ingin membunuh pria itu.

Namun, semua serangan tersebut mampu dihindari dan ditangkis oleh si pria bertopeng belalang. Indera-indera pria itu sangat tajam, sehingga mampu melakukan hindaran dan tangkisan dengan mudah. Puncaknya, pria bertopeng belalang sukses merebut dua buah golok dari tangan dua orang yang menyerangnya, sebelum akhirnya ia melakukan serangan balasan dengan menebas satu persatu orang yang menyerangnya. Tebasan-tebasan yang dilancarkan pria bertopeng belalang itu adalah tebasan yang sanggup membunuh orang seketika. Akhirnya kelima belas orang yang ia lawan pun tewas bersimbah darah. Setelah itu, si pria mengambil karung yang ia letakkan di tanah dan memanggulnya lagi, lalu pergi dari tempat itu.

Esoknya, di malam hari sekitar pukul sepuluh malam, pria bertopeng belalang itu merampok di sebuah ATM. Semua uang berhasil dirampoknya, bahkan seluruh security berhasil ia lumpuhkan, tidak, ia bunuh. Usai merampok dan membunuh, ia pun pergi.

Begitu sampai di sebuah rumah kosong yang sepi, si pria bertopeng belalang melepas topeng serta mengganti baju dan celananya. Baju dan celana itu ada di dalam sebuah tas yang ia pakai untuk menyimpan uang yang ia rampok. Pria itu berkulit sawo matang, beralis panjang tipis, bermata kecil, berhidung agak mancung, berbibir tipis, dan berdaun telinga kecil. Kumis serta berewok tak ketinggalan menghiasi wajahnya yang bulat.

Selesainya mengganti pakaian, ia keluar dari rumah kosong itu sambil menggemblok tasnya yang ia balik bagian luarnya ke dalam. Ia berjalan menuju sebuah jalan dengan banyak pepohonan. Setelah melewati jembatan panjang ia pun sampai di rumah kecil bercat hijau. Pria bernama Kennichi itu mengetuk pintu usang rumah tersebut.

Tak lama, pintu pun terbuka. Dari dalam pintu, menyembul kepala seorang gadis kecil berkaos putih dan bercelana pendek biru. Kulit gadis kecil itu sama dengan Kennichi, alisnya tipis, matanya sipit, hidungnya kecil, mulutnya kecil berwarna pink, daun telinganya juga kecil berhias anting bundar emas, kepalanya yang lonjong dipercantik oleh rambut panjang sebahu.

"Eh, ayah sudah pulang!" ucap gadis kecil itu sembari tersenyum lebar.

Kennichi membalas senyuman itu dan masuk ke dalam rumah.

"Apa persediaan lauk di dapur masih ada, Nanami?" tanya Kennichi.

"Masih, ayah," jawab Nanami. Ia berjalan di belakang ayahnya.

"Syukurlah. Tadinya kalau habis, ayah mau membeli bahan-bahannya lagi, karena hari ini ayah membawa banyak uang," kata Kennichi. "Dan besok sore ayah akan mengajakmu ke mall."

"Serius, ayah???" mata Nanami berbinar.

Kennichi berbalik ke belakang dan tersenyum. "Tentu saja!"

Nanami langsung memeluk Kennichi. Kennichi sangat bahagia melihat anaknya senang.

Keesokan harinya, di siang hari, Kennichi kembali beraksi menggunakan topeng belalang hitamnya. Ia merampok sebuah bank besar di Zippon.

Suasana di bank langsung tegang begitu Kennichi merampok. Semua yang ada di sana diminta berjongkok dekat tembok. Jika tidak dituruti, Kennichi akan menembaknya. Setelah berhasil memaksa penjaga bank memberinya banyak uang, Kennichi langsung pergi keluar. Namun, di luar, delapan orang polisi sudah mengepungnya. Salah seorang polisi mengancam dengan sebuah speaker agar Kennichi segera menyerah. Namun, Kennichi tidak mau menyerah. Ia menembak para polisi itu. Hingga akhirnya, terjadilah baku tembak di sana. Akan tetapi, itu tidak berlangsung terlalu lama, Kennichi menembak mobil-mobil polisi yang ada di situ hingga meledak dan ledakkannya menewaskan polisi-polisi yang ada. Aksi Kennichi pun kembali sukses.

Esoknya, Kennichi kembali merampok. Esoknya merampok lagi. Lagi. Dan lagi. Entah itu di bank, ATM, atau di rumah orang. Selain merampok, ia juga menodong dan mencopet. Dalam setiap aksinya, Kennichi selalu membunuh siapapun yang menghalanginya dan juga siapapun yang menjadi targetnya. Hingga akhirnya, berita tentangnya disiarkan di berbagai media massa seperti televisi, surat kabar, bahkan internet. Di media massa, Kennichi dijuluki 'Belalang Hitam', karena menurut para saksi mata dan Kamera CCTV, setiap melancarkan aksinya, Kennichi selalu menggunakan topeng belalang berwarna hitam. Beladiri yang dimiliki Kennichi sangat hebat, tidak ada seorang pun yang mampu menghentikannya. Berita itu pun sampai ke telinga Ariel. Ariel tengah menonton berita yg membahas si Topeng Belalang sambil sarapan di Minggu pagi yg cerah tepat di tanggal 2 Februari.


"Mechaster kah?" terka Ariel yang kemudian meminum habis segelas susu cokelat yang terhidang di atas meja.


"Hai Ariel...," panggil seorang gadis dari belakang Ariel.

Ariel pun menoleh ke belakang. "Ada apa, Fumiko?"

"Aku ingin mengajakmu jogging. Mau?" tawar Fumiko yang mengenakan tanktop hitam dan celana panjang ketat berwarna sama, lengkap dengan handuk putih kecil yang menggantung di pundaknya

"Baiklah. Aku ganti baju dulu," jawab Ariel. Ia kemudian beranjak dari meja makan, lalu pergi ke ruang atas, ke kamarnya untuk mengganti pakaian.

Selesainya Ariel berganti pakaian dengan kaos merah dan celana trainning merah pula serta handuk kecil di pundaknya yang berwarna serupa, ia bersama Fumiko pun pergi jogging. Mereka berlari-lari kecil di jalanan. Di jalanan itu juga banyak orang yang berlari-lari kecil.

Daritadi Fumiko yang berlari-lari kecil di samping kiri Ariel yang juga berlari-lari kecil beberapa kali melirik celana sebelah kiri Ariel yang menggembung sambil tertawa kecil.

Merasa penasaran, Fumiko pun bertanya, "Ariel, di celana sebelah kirimu ada apa?"

"Blitzdrive," jawab Ariel tanpa menoleh.

Dahi Fumiko mengernyit. "Blitzdrive?? Untuk apa??" Kemudian ia tertawa kecil.

"Siapa tahu di tengah jalan kita bertemu Mechaster," jawab Ariel.

"Hmm ... Iya juga sih," kata Fumiko, masih tertawa kecil. Ia jadi ingat ketika pertama kali melihat Ariel berubah menjadi Kamen Rider.

Waktu itu, Fumiko diserang Mechaster berbentuk ikan. Untunglah Ariel datang. Ariel pun berubah menjadi Kamen Rider Blitzer untuk melawan Mechaster tersebut. Fumiko yang bersembunyi, sempat melihat hal itu. Usai ariel bertarung, Fumiko menghampiri ariel dan bilang kalau ia melihat Ariel menjadi Blitzer. Ia berjanji akan merahasiakan hal itu. Semenjak kejadian tersebut, Fumiko jadi tahu tentang Mechaster dan peralatan-peralatan yang digunakan Ariel sebagai Kamen Rider Blitzer karena diberitahu oleh Ariel sendiri ketika Fumiko bertanya pada pemuda itu.

"Oh iya, Ariel, apa kau sudah mendengar berita tentang terror yang menimpa kota ini? Terror yang dilakukan oleh orang yang dijuluki Belalang Hitam?" tanya Fumiko.

Ariel mengangguk. "Apapun itu, aku sama sekali tidak merasakan terrornya. Takut pun tidak."

"Yaaa aku paham bagaimana dirimu," balas Fumiko.

"Ngomong-ngomong, bagaimana turnamen waktu itu?" tanya Ariel. "Apa dibatalkan?"

"Kemarin kata panitianya diundur satu bulan lagi," jawab Fumiko, ia pun cemberut.

"Sudahlah...," kata Ariel. "Yang penting masih dilaksanakan."

Fumiko mengangguk meski wajahnya masih cemberut.

"Fumiko, kau tunggu di situ, ya!" kata Ariel sembari menunjuk sebuah taman dengan banyak permainan seperti ayunan, perosotan, dan lain-lain.

"Lho, kenapa??" tanya Fumiko.

"Aku mau buang air kecil," jawab Ariel yang kemudian berlari menuju sebuah rumah kecil bercat biru dan bertuliskan 'Toilet Umum' yang tidak jauh dari taman.

"Baiklah." Fumiko lalu berjalan menuju taman, kemudian duduk di rerumputan sambil memainkan smartphone yang ia ambil di saku celana samping kanannya. Sesekali, ia mengelap keringatnya dengan handuk yang ia bawa.

Di saat Fumiko asyik-asyiknya memainkan smartphone, tiba-tiba lehernya dikalungi sebuah pisau. Ia pun terkejut dan berkeringat dingin. Perlahan, ia menoleh ke belakang.

Rupanya yang mengkalungkan pisau itu adalah seorang anak kecil yang kurang lebih berusia tiga tahun, berkelamin pria. Mulutnya yang lebar tertawa terkekeh-kekeh, membuat pipinya yang tembam jadi makin tembam. Ternyata pisau itu adalah pisau mainan yang terbuat dari plastik.

"Daiki!!!" teriak seorang ibu-ibu muda berambut panjang lurus dan berbaju kaos putih lengan panjang dan celana biru. Ia berlari ke arah Fumiko dan menarik tangan anak laki-laki berbaju merah bergambar beruang dan celana pendek biru yang tadi mengkalungkan pisau pada Fumiko. "Daiki, jangan nakal ya!!"

Fumiko tersenyum lega, kemudian menatap ibu-ibu muda itu. "Dia anak ibu?"

"Iya!" Angguk si ibu-ibu muda yang kemudian membungkuk. "Maafkan kenakalan anakku, ya!?"

Fumiko mengangguk. "Namanya juga anak-anak."

"Daiki, ayo minta maaf sama kakak ini!" kata ibu-ibu muda tersebut sambil menepuk punggung Daiki dan menunjuk Fumiko.

"Maaf ya kakak...," ucap Daiki sembari membungkuk.

"Um!" Angguk Fumiko sambil tersenyum manis.

Setelah tersenyum pada Fumiko, ibu-ibu muda itu pun pergi sambil menggendong Daiki. Saat itu, Ariel datang.

"Ayo, kita jogging lagi," ajak Ariel, membuat Fumiko membalikkan badan ke depan.

Fumiko mengangguk dan tersenyum, lalu berdiri dan kembali berlari-lari kecil bersama Ariel di pinggiran jalan.

Di tengah asyik-asyiknya jogging, tiba-tiba mereka berdua melihat banyak orang berlarian sambil berteriak ketakutan. Diantara orang-orang itu ada dua orang berseragam 'security', mereka berlari seperti dikejar setan. Tidak lama kemudian, diantara orang-orang yang berlarian itu, muncullah sosok yang dijuluki Belalang Hitam, dialah Kennichi. Kennichi tengah mengejar dua security yang berlari itu.

"Belalang Hitam??" kata Fumiko terkejut.

"Mungkin saja dia Mechaster. Sayang aku lupa membawa ponsel, jadi tidak terlacak dari awal," gumam Ariel.

"Ariel, lebih baik kita pulang saja!" ajak Fumiko.

"Tidak!" tepis Ariel. "Aku akan melawan si Belalang Hitam itu! Mungkin saja dia Mechaster."

"Tapi ..." ucap Fumiko, menggantung. Sementara Ariel menuju ke tempat si Belalang Hitam.

Begitu sudah dekat, Ariel menghadang Kennichi alias Belalang Hitam yang sedang mengejar dua security tadi.

"Siapa kau? Kenapa menghadangku?" tanya Kennichi.

"Matsuyama Ariel. Aku datang untuk meladenimu! Cukup jelas?" jawab Ariel.

Kennichi tertawa. "Kau masih muda. Hati-hati kalau bicara! Jika kau ingin mati, katakan saja!"

"Kita lihat, siapa yang akan mati!" balas Ariel dengan nada bicara dingin seperti biasa.

Sementara itu, Fumiko yang melihat dari kejauhan hanya bisa sembunyi di balik pohon. Orang-orang yang berlarian pun jumlahnya semakin sedikit, hingga hilang sama sekali dan membuat suasana menjadi sangat sepi. Di tempat itu hanya ada Fumiko dan Ariel yang saat ini tengah bertarung dengan si Belalang Hitam.

Tebasan demi tebasan golok yang sangat bertenaga dilancarkan oleh Kennichi. Namun, semuanya mampu dihindari oleh Ariel dengan lincah. Tapi, itu semua tak berlangsung lama, karena salah membaca pergerakan Kennichi, Ariel pun kecolongan, ia kena tebas di bagian pundaknya yang menimbulkan goresan memanjang hingga dada. Darah segar mengalir dari sana.

"Bagaimana, anak muda?" tanya Kennichi yang kemudian tertawa.

Ariel mendecih, lalu maju dua langkah sambil mengepalkan tangannya dan melakukan tinjuan lurus ke dada Kennichi.

Refleks, Kennichi pun berkelit dengan cepat dan segera menyarangkan sabetan besar ke arah kepala Ariel.

Membaca serangan yang datang, Ariel meliukkan tubuhnya kebelakang. Kemudian kaki kanannya menendang tangan kanan Kennichi yang memegang golok sambil melakukan backflip ke belakang. Golok pun terlempar dari tangan Kennichi dan menancap di tanah.

"Hari ini, aku akan segera menghentikan terrormu, Belalang Hitam!" ucap Ariel setelah mendarat di tanah dan berdiri.

"Hraaaaaaa!!!" teriak Kennichi sambil berlari ke arah Ariel.

Begitu telah dekat dengan Ariel, Kennichi melepaskan pukulan datar.

Pukulan tersebut ditangkap oleh tangan kanan Ariel. Setelah itu Ariel memelintir lengan Kennichi. Tapi, tangan kiri Kennichi dengan cepat memegang pergelangan tangan Ariel yang memilintir lengannya dan membalas dengan mengunci tangan Ariel. Namun, Ariel berhasil lolos dari kuncian tersebut, kemudian ia melesakkan tinju kirinya ke arah wajah Kennichi yang mengenakan topeng.

Tak mau kalah, Kennichi pun menangkis dengan punggung tangan kirinya, hingga akhirnya mereka beradu jurus pukulan dan tendangan selama beberapa saat. Serangan-serangan yang mereka lancarkan sangat cepat dan seolah tak mengijinkan lawan untuk bernapas.

Akan tetapi, tak lama kemudian, Ariel yang melihat celah pada pertahanan Kennichi dengan cepat menendangnya. Menendangnya di bagian dada. Kennichi pun terpental dan muntah darah.

"Tcih! Kuat sekali walau masih muda," ucap Kennichi sembari memegangi dadanya. Ia yang merasa tak bisa melanjutkan pertarungan pun kabur.

Tentu saja Ariel mengejarnya.

Akan tetapi...

DUAKH!!

Ariel mendapat tendangan terbang dari seseorang dari sebelah kanannya, membuatnya terlempar cukup jauh.

Ariel berusaha bangkit dan melihat siapa yang telah menendangnya.

Orang yang menendangnya adalah seorang pria kulit putih berpakaian kantoran serba hitam dan berwajah oval yang dihiasi rambut pendek agak kepinggir nan rapih. Matanya sipit dengan alis yang tebal, hidungnya pipih, mulutnya kecil, dan daun telinganya besar.

Pria itu menoleh ke arah Kennichi. "Cepat pergi! Orang itu biar aku yang menghadapi!"

Kennichi mengangguk, kemudian lari. Tapi, ia tidak pergi, melainkan bersembunyi di semak-semak dan melihat pria itu yang tengah berhadapan dengan Ariel.

"Siapa kau?" tanya Ariel pada pria berpakaian kantoran itu.

"Aku Thunderer," jawab orang itu. "Apa yang telah kau lakukan, membuatku harus menghabisimu hari ini juga!"

"Silahkan jika kau bisa," balas Ariel.

Thunderer langsung meninju telapak tangan kirinya yang ia tempelkan di depan dada dengan tangan kanannya, sambil berteriak, "Mecha!!!"

Bagan baja kotak keperakan seukuran tubuh Thunderer muncul di kanan dan kiri Thunderer. Bagan tersebut kemudian menyatu dan membungkus tubuh Thunderer. Tak butuh waktu lama, bagan itu kembali memisah, lalu menghilang. Tubuh Thunderer pun berubah menjadi manusia robot yang keseluruhan tubuhnya berwarna perak. Di kedua bahunya ada pelindung baja perak berbentuk zig-zag. Kepalanya dilapisi helm perak dengan dua mata merah menyala dan lambang berbentuk 'petir' di dahinya.

"Mechaster rupanya," gumam Ariel. Ia pun mengambil Blitzdrive dari saku sebelah kiri celananya. Benda tersebut ia tempelkan di depan pinggangnya lalu ia tekan permata merah yang ada di permukaan benda itu.

Benda tersebut, Blitzdrive, pun mengeluarkan tali tebal perak bermotif garis tebal hitam dari samping kanan dan kirinya, lalu melilit pinggang Ariel, membentuk sebuah sabuk dengan Blitzdrive sebagai kepalanya.

Ariel mengambil sebuah kartu bergambar Blitz Crest dari kotak di sebelah kanan sabuknya dengan cari diapit menggunakan jari telunjuk dan tengah kanannya. Setelah kotak kartu itu kembali menutup, ia menekuk lengan kanannya itu ke arah bahu sebelah kirinya secara diagonal, lalu berseru, "Henshin!!" Dan menurunkan lengan kanannya seraya memasukkan kartu yang dipegangnya ke dalam lubang kotak tipis di atas kepala sabuknya.

Permata merah yang ada pada Blitzdrive mengeluarkan cahaya merah terang. Cahaya tersebut memancar sejauh 1,5 meter dan mengeluarkan bayangan hologram berbentuk tubuh manusia yang berdiri tegak dan seluruhnya berwarna merah seukuran tubuh Ariel. Bayangan tersebut memiliki tanduk pipih menyamping nan runcing dan beberapa lekukan yang membentuk sesuatu di sekitar tubuhnya. Bayangan itu kemudian mundur ke arah Ariel dan melapisi tubuhnya. Begitu bayangan tersebut terserap oleh tubuh Ariel, tubuh pemuda itu pun berubah menjadi Kamen Rider Blitzer. Lensa mata biru helmnya mengedipkan cahaya biru terang.

"Hoo... Seorang Kamen Rider!? Musuh bangsa kami! Kebetulan sekali," kata Thunderer yang kemudian berlari ke arah Ariel yang sudah berubah menjadi Blitzer.

Mereka berdua, Thunderer dan Blitzer, pun saling bertukar serangan fisik berupa pukulan, tapakan, sikutan, dan juga tendangan. Beberapa kali mereka mengandalkan 'kuncian' meski masing-masing dari mereka mampu melepaskannya, lalu dilanjut dengan mengadu pukulan dan tendangan saja. Beberapa kali mereka mundur dari posisi mereka berpijak karena kuatnya serangan lawan masing-masing. Tapi, beberapa kali juga mereka maju lagi untuk kembali bertukar serangan fisik. Hal tersebut terus berlangsung sampai beberapa menit. Sampai akhirnya, Blitzer melakukan tendangan berantai secara tepat dan akurat yang dilanjutkan dengan tendangan berputar ke perut Thunderer yang membuatnya terlempar dari beberapa meter dari posisinya berpijak.

"Kau ..." ucap Thunderer sambil berusaha bangkit. "Kuhabisi kau!!!"

Tiba-tiba, telapak tangan kanan Thunderer diselimuti cahaya hitam. Kemudian ia menyentakkan tangan kanannya ke depan, membuat cahaya tersebut meluncur ke arah Blitzer.

Blitzer yang bingung hanya bisa melihat cahaya hitam itu terbang ke atas kepalanya. Tak lama, cahaya hitam tersebut berubah menjadi sebuah lubang hitam.

"Waktunya memulai pertunjukkan," ucap Thunderer. Ia lalu mengangkat telunjuknya ke atas seraya berteriak, "Thunder!!"

Dari dalam lubang hitam yang melayang di atas kepala Blitzer, muncul petir yang menyambar ke arahnya.

Blitzer pun melompat ke kanan. Akan tetapi, petir tersebut tetap menyambarnya, membuatnya jatuh ke tanah. Rupanya ketika dilihat, lubang hitam itu mengikuti ke mana Blitzer pergi.

"Thunder!!" teriak Thunderer sekali lagi, telunjuknya masih teracung ke langit.

Petir pun kembali keluar dari lubang hitam di atas kepala Blitzer. Blitzer segera melompat ke kiri. Namun, ia kembali terkena sambaran petir itu, sampai armornya berasap-asap.

Dari balik semak-semak, Kennichi hanya bisa menyaksikan kehebatan Thunderer mempecundangi Blitzer dengan jurus petirnya. Ia jadi ingat pertemuan pertamanya dengan Thunderer. Ia pertama kali merampok karena terpaksa, sebab saat itu anaknya sakit dan ia di-PHK (Pemutusan Hubungan Kerja). Ketika Kennichi sedang bersembunyi dari kejaran massa, seorang pria tiba-tiba muncul dan memperkenalkan diri, dialah Thunderer. Thunderer mengatakan, kalau sebentar lagi massa yang mengejar Kennichi akan menemukannya. Tapi, jika ia mau menuruti kata Thunderer, maka Thunderer akan memberikan kekuatan padanya untuk menghajar semua massa. Tapi, syaratnya, Kennichi harus membunuh manusia dan memberi bensin pada Thunderer. Kennichi berpikir lama, dan akhirnya setuju dengan Thunderer. Thunderer kemudian mengkalungkan Kennichi dengan kalung berbandul baja perak yg di tengahnya ada permata merah. Thunderer berkata, jika Kennichi membunuh manusia, jumlah poin yang ada di Killer Board milik Thunderer akan bertambah, karena kalung yang ia berikan pada Kennichi terkoneksi dengan Killer Board miliknya. Selain itu, dimanapun Kennichi berada, Thunderer bisa mengetahuinya. Itulah yg membuat Thunderer bersedia membantu Kennichi, selain karena ia juga butuh bensin. Jadi, sama-sama untung. Selain itu, ada resiko yg harus ditanggung Kennichi, kalung yg Thunderer berikan tidak bisa dilepas. Jika Kennichi tidak membunuh manusia satu hari saja, maka ia lah yang akan mati. Setelah itu, Thunderer akhirnya ia menghilang. Massa pun akhirnya menemukan tempat persembunyian si pria topeng belalang hitam alias Kennichi. Sebetulnya Kennichi ingin lari, tapi jalan tersebut buntu. Tak punya pilihan lain, Kennichi pun menghajar massa yang kebanyakan membawa senjata tajam itu sampai mereka semua tewas. Saat bertarung, indera-indera Kennichi terutama pendengaran dan penglihatan menjadi lebih tajam, karenanya semua serangan massa tersebut tidak ada artinya. Dan sesuai janji, Kennichi harus membunuh manusia dan memberikan bensin pada Thunderer setiap kali Thunderer datang ke rumahnya. Sejujurnya, Kennichi ingin keluar dari situasi ini dan mencari pekerjaan lain, tapi tidak bisa karena kalung yang diberikan Thunderer.

"Thunder!! Thunder!! Thunder!!" teriak Thunderer sambil masih mengacungkan jari telunjuknya ke atas.

Blitzer pun tersambar petir yang keluar dari lubang hitam di atas kepalanya sebanyak tiga kali berturut-turut, cukup membuatnya tidak berdaya. Asap di armornya pun semakin banyak. Sesekali terlihat percikan konsleting pada armor tersebut.

"Menyerahlah sekarang! Maka aku akan mengampunimu!" teriak Thunderer pada Blitzer yang tengah merangkat di tanah.


"AKU TIDAK AKAN MENYERAH PADA MAKHLUK SEPERTIMU!!" teriak Blitzer sambil berusaha berdiri. Diambilnya selembar kartu putih bergambar Blitz Crest berwarna biru dari dalam Blitzcase. Motif dua segitiga bertepi emas dan dua kotak kecil seperti pada kartu-kartu sebelumnya terlihat menghiasi kartu tersebut, hanya saja warna segitiga dan kotak kecilnya berwarna biru. Di bawah Blitz Crest biru itu ada tulisan 'SPEED ENGINE' yang ditulis dengan huruf kapital seperti pada kartu-kartu sebelumnya. Ariel pun memasukkan kartu tersebut pada lubang kotak yang ada di atas kepala sabuknya.

"SPEED ENGINE!!" kepala sabuknya yakni Blitzdrive mengeluarkan suara.

Permata merah pada Blitzdrive pun berubah menjadi warna biru, lalu terus bersinar terang. Kedua pelindung bahu Blitzer tercerai berai ke segala arah. Rupanya di bahu Blitzer masih ada lagi pelindung bahu walau ukurannya lebih kecil dan berwarna biru serta bergaris emas di bawahnya. Di waktu yang hampir bersamaan, body suit dan helm merah yang melapisi tubuh dan kepala Blitzer berubah menjadi warna biru. Blitz Crest di dada sebelah kanan dan juga Blitzcase berubah jadi warna biru. Cahaya biru di permata sabuknya yang sekarang berwarna biru meredup.

"Kau ..." Thunderer pun terkejut dibuatnya.

"Kamen Rider Blitzer Speed Engine," ucap Blitzer dengan nada sangat dingin.

"Ah, apapun itu, kau tetap saja akan mati di sini!" Thunderer mengangkat telunjuknya ke atas.

Bersamaan dengan itu, Blitzer menekan permata biru pada Blitzdrive.

"POWER!!" Blitzdrive mengeluarkan suara yang membahana dan permata birunya mengedipkan cahaya biru.

"Thunder!!" teriak Thunderer dengan jari mengacung ke atas.

Blitzer tiba-tiba lenyap dari pandangan mata, berikut lubang hitam yang berada di atas kepalanya.

Thunderer pun membelalak. Tak berselang lama, tubuhnya terhantam oleh sesuatu seperti ditinju dengan kecepatan di luar akal sehat. Ia pun terpental. Pada posisi yang masih mengambang di udara, tubuhnya dihantam oleh sesuatu dengan kecepatan yang sama dari depan, belakang, kanan, kiri, atas dan bawah.

"APA INI???" teriak Thunderer, tubuhnya masih terombang-ambing di udara.

Sementara itu, Blitzer melihat Thunderer mengambang di udara, turun dengan sangat lambat bahkan nyaris terhenti.

"Kecepatan ini ... Luar biasa. Ini pertama kalinya aku menggunakan kartu ini," ucap Blitzer. Petir dari lubang hitam di atas kepalanya turun dengan sangat-sangat lambat, nyaris terhenti juga. Sekarang, kedua kakinya dilapisi 'Angriff Shoes'. Blitzer menendang Thunderer--yang masih mengambang di udara itu--beberapa kali. Dengan kecepatan waktu yang dimiliki Blitzer saat ini, membuat gerakannya super cepat bagi Thunderer dan lingkungan sekitarnya, sedangkan gerakan Thunderer dan lingkungan sekitar terlihat super lambat bagi Blitzer.

"POWER!!" Blitzdrive mengeluarkan suara begitu permata birunya ditekan oleh Blitzer.

Permata biru tersebut langsung bercahaya terang. Baling-baling Angriff Shoes sebelah kanan berputar kencang, Blitz Crest dan tiga kotak pada sepasang Angriff Shoes bercahaya, lubang silinder Angriff Shoes sebelah kiri mengeluarkan api dan membuat Blitzer melesat ke udara dengan tapak Angriff Shoes sebelah kanan yang diselimuti listrik. Setelah itu ia menekuk kaki kirinya ke belakang dan agak mengarah ke atas. Blitzer pun meluncur ke bawah dalam posisi menendang dan tak lama kemudian kaki kanannya menghantam dada Thunderer.

Thunderer langsung terlempar ke belakang. Ketika berusaha bangkit, tubuhnya berkelap-kelip merah. Ia pun berteriak keras dan akhirnya meledak.


"ENGINE OVER!!" Blitzdrive pun mengeluarkan suara.

Tubuh Blitzer kembali dapat dilihat oleh pandangan mata. Ia yang sedang berlutut di tanah pun berdiri. Lubang hitam di atas kepalanya menghilang dan cahaya pada permata biru Blitzdrive berhenti menyala. Tapak sepatu kanannya tak lagi diselimuti petir. Bersamaan dengan itu, kalung pemberian Thunderer yang dikenakan Kennichi menghilang, membuat Kennichi terkejut seketika.

Setelah baling-baling Angriff Shoes sebelah kanan berhenti serta cahaya Blitz Crest dan tiga kotak pada Angriff Shoes meredup, benda yang melapisi kedua kaki Blitzer itu berubah menjadi hologram dan menghilang, Blitzer menekan tuas kecil yang berada di tengah-tengah belakang tali Blitzdrive yang melilit pinggangnya dengan tangan kirinya, sementara tangan kanannya memegangi Blitzdrive.

Tali tersebut kembali masuk ke Blitzdrive. Blitzcase terbawa dan kembali menempel pada sisi kanan Blitzdrive. Blitzer pun kembali ke wujud manusianya, Ariel Matsuyama.

Kennichi ke luar dari tempat persembunyiannya, lalu menghampiri Ariel.

"Aku menyerah, anak muda," ucap Kennichi yang kemudian mengangkat kedua lengannya. "Aku akan mempertanggung jawabkan semua perbuatanku asal kau mau menuruti satu permintaanku."

"Apa itu?" tanya Ariel.

"Aku mau kau mencarikan putriku orangtua asuh yang penyayang dan mau mengasuh anak secara sukarela," jawab Kennichi. Lengannya sudah tidak diangkat lagi.

"Baiklah," balas Ariel. Saat itu, mobil polisi datang.

Seorang polisi keluar dari mobil tersebut. Ia segera menghampiri Kennichi, lalu memborgol kedua tangannya. Setelah memasukkan Kennichi ke dalam mobil dan dia juga masuk, polisi itu pun tancap gas.

Singkat cerita, Kennichi sudah dipenjara. Terrornya sudah menghilang dari Jepang, dan putrinya sudah diberi orangtua asuh sesuai janji Ariel yang meminta alamat lengkap Kennichi pada kepolisian setempat. Esoknya, putri Kennichi, Nanami, yang ditemani orangtua asuhnya mengunjungi Kennichi. Meski Nanami sudah tahu ayahnya jahat, tapi rasa sayangnya pada ayahnya tidak pudar, karena ia tahu, ayahnya seperti itu demi dirinya, demi putri yang sangat Kennichi cintai.

To Be Continued

[FanFic] Kamen Rider Blitzer (Episode 7: Game Kematian)

Episode 7: Game Kematian

Di sebuah padang rumput yang luas, terlihat dua orang bocah berbaju biru dan merah tengah bertarung dengan sebilah pedang di tangan masing-masing. Bahu mereka ditutupi baja berwarna keperakan, dada mereka ditutupi baja bundar berwarna keperakan pula, kedua tangan dan kaki mereka ditutupi baja berwarna sama, sepatu baja berwarna serupa tidak ketinggalan melapisi kaki mereka. Yang berbaju merah mengirimkan tebasan lurus dengan 'Medival Longsword'nya. Yang berbaju biru menangkis tebasan tersebut dengan 'katana'nya. Yang berbaju biru terlihat lebih unggul dibanding yang baju merah, serangan-serangan balasan yang dilancarkan nyaris tanpa ampun.

Pertarungan tersebut ternyata disaksikan oleh monster robot berbentuk manusia berkepala tv dengan mata bulat merah menyala dan mulut kecil di tv tersebut. Di bahu kirinya ada tombol stik 'playstation' yang terdiri dari kotak, segitiga, lingkaran, dan silang, sementara di bahu kanannya ada tombol 'arah', di tengah-tengah dadanya ada bulatan besar, di masing-masing pergelangan kakinya ada gear besar nan tajam. Secara keseluruhan, tubuhnya berwarna perak dan terbuat dari baja. Ia menyaksikan sambil bersandar di pohon yang berjarak lima meter dari area pertarungan.

Tak lama dua bocah itu bertarung, yang berbaju biru tewas terkena tusukan di perutnya. Si baju merah memenangkan pertarungan. Tubuh si bocah berbaju biru berubah menjadi hologram dan menghilang.

Si monster robot mengecek sebuah benda persegi panjang mirip smartphone yang ia pegang. Benda tersebut bernama 'Killer Board'. Di sana tertera tulisan 'Kill' dan angka '520' di bawah tulisan itu. Angka di benda tersebut kemudian bertambah jumlahnya menjadi '521'.

"Hahahaha... Puas sekali rasanya," ucap monster robot kepala tv bernama 'Gamerer' itu. "Setelah sekian tahun tertidur akhirnya aku bisa bersenang-senang seperti ini lagi. Memasukkan manusia ke dalam dunia game itu menyenangkan."

"Monster, mana janjimu? Katanya yang menang bisa keluar dari game ini?" teriak si bocah berbaju merah.

"Hahaha... Tidak semudah itu," balas Gamerer. Kepalanya yang berbentuk tv itu bercahaya.

Cahaya tersebut menyinari tubuh si bocah baju merah. Bocah baju merah itu mengerang kesakitan, hingga akhirnya berubah menjadi hologram dan menghilang.

Jumlah angka di Killer Board Gamerer bertambah lagi menjadi '522'.

"Akhahaha... Khahaha..." tawa Gamerer yang menggema di seluruh penjuru padang rumput itu.

Komplek Shinkuudere, Kota Zippon - Jepang, Minggu 19 Januari, pukul 07:00.

Di dojo yang ada di rumahnya Ariel terlihat tengah melatih fisiknya dengan push up, sit up squat jump, bergelantung seraya menaik turunkan tubuhnya di sebuah besi panjang, dan angkat barbel besar serta kecil. Kemudian ia melanjutkan dengan memukul-mukul dan menendang-nendang sandsack dengan gerakan-gerakan beladiri yang indah. Selesainya melatih fisik, ia pergi ke kamar mandi untuk mandi. Usai mandi dan mengganti pakaian, ia pergi ke ruang makan. Di sana, sudah tersedia berbagai macam makanan, segelas susu putih, dan segelas air bening, tak ketinggalan bermacam-macam buah di dalam keranjang kayu.

Ariel mengolesi sebuah roti tawar dengan selai cokelat yang tersedia di meja. Setelahnya, ia mengambil remot yang terletak di sana, kemudian menyalakan televisi yang menempel di dinding dekat meja makan. Begitu televisi menyala, Ariel terkejut. Ia melihat sahabatnya, Fumiko, tengah diwawancara di sebuah stasiun televisi bernama Cyber TV. Fumiko diwawancara karena berhasil memenangkan turnamen game profesional Jepang antar kota beberapa bulan lalu. Game tersebut adalah game balap mobil. Dan beberapa hari lagi, Fumiko diminta untuk mewakili Zippon dalam turnamen game antar kota. Fumiko sangat senang sekali dengan turnamen tersebut, karena bermain game adalah hobinya. Sebuah kebanggaan tersendiri baginya, karena ia bisa ikut berpartisipasi mengharumkan nama kota dengan hobinya. Setelah itu, wawancara pun berakhir.

"Tidak kusangka dia memiliki bakat yang hebat," ucap Ariel. Ia lalu melahap roti yang ia olesi selai tadi, kemudian mengganti channel televisi dengan acara pertandingan beladiri kesukaannya di Tensai TV.

=***=


Di sebuah rumah, seorang ibu-ibu berambut ikal nampak sangat senang sekali melihat kertas hasil ujian anaknya yang mendapat nilai 10. Dengan perasaan senang, ia pun memberikan kaset game playstation terbaru yang ia janjikan pada anaknya yang masih duduk di bangku SMP jika anaknya mendapat nilai minimal 7.

"Terimakasih, bu," ucap anak itu sembari menerima kaset tersebut.

"Nah, sekarang, kau boleh main game sepuasmu, Kenta. Tapi jangan lupa makan ya nanti siang," kata ibu-ibu itu.

"Baik!" jawab Kenta si bocah gendut berwajah bulat dan berambut lurus pendek. Ia memiliki alis yang tidak terlalu tipis tapi tidak terlalu tebal, matanya sipit, hidungnya pesek, mulutnya kecil, daun telinganya lebar, dan kulitnya putih.

Ibu-ibu itu kemudian keluar dari kamar Kenta. Dan Kenta pun segera memasangkan kaset game yang baru saja ia dapatkan ke 'playstation 5' yang ada di bawah tv. Kaset game tersebut berjudul 'Strong Athletic'. Begitu playstation tersambung dengan tv, Kenta segera mengambil stik playstation tersebut dan memainkannya. Ia memainkan game balap lari dengan karakter berpakaian 'atletik' serba hitam bernomor urut '10' di sebelah kanan celana pendeknya.

Setelah sekian lama memainkan playstation itu, tiba-tiba layar tv blank, lalu mengeluarkan cahaya yang menyilaukan. Kenta langsung kaget dan melemparkan stik yang ia pegang. Tak lama, tubuhnya tersedot oleh tv tersebut.

Kenta jatuh ke lorong hitam yang berakhir di sebuah lapangan lomba lari seperti yang ia mainkan di playstation miliknya. Ia kaget dan merasa aneh, terlebih ketika pakaiannya berubah menjadi pakaian atletik serba hitam seperti yang dikenakan karakter yang ia mainkan. Di hadapannya ada banyak orang berpakaian sama sepertinya yakni tanktop dan celana pendek, hanya saja warna dan masing-masing nomor urutnya berbeda. Orang-orang itu sedang dalam posisi siap melakukan lomba lari.

"Kenapa aku bisa ada di sini??" Kenta keheranan dan memandang sekitar.

Tiba-tiba, 'Gamerer' muncul di hadapannya.

"Selamat datang di duniaku, bocah," ucap Gamerer.

Kenta terkejut. Ia berdiri dan mundur. "S-s-siapa kau??? Keluarkan aku dari sini!!!"

"Aku Gamerer. Kau tidak akan bisa keluar dari sini sebelum menyelesaikan game di tempat ini!"

"A-apa m-maksudmu???"

"Simpel, kau hanya harus lomba balap lari dengan orang-orang di tempat ini. Jika berhasil mendapat juara pertama, kau bisa keluar dari tempat ini. Jika kalah kau akan ... MATI!"

"APA???" Kenta membelalak.

Gamerer pun menghilang dari hadapan Kenta dan muncul di salah satu kursi penonton yang secara keseluruhan sangat sepi. "Sudah lama sekali aku tidak menikmati permainan ini. Ini lebih menyenangkan dibanding memburu bensin. Yaa walau orang aslinya cuma bocah itu," ucapnya.

Mau tidak mau, Kenta berdiri dan melakukan ancang-ancang untuk berlari tepat di urutan paling akhir.

Setelah seseorang berpakaian putih di tempat itu meletuskan tembakan, lomba lari pun dimulai.

Dengan sangat susah payah, Kenta berhasil melewati dua orang. Ia pun terus berlari untuk mencapai garis 'Finish'. Akan tetapi, di tengah-tengah, ia kehabisan napas. Ia yang terengah-engah pun tersimpuh.

"A-aku tidak kuat lagi," ucap Kenta. Ia berusaha berdiri, tapi kembali tersimpuh.

Satu persatu orang yang berlomba bersama Kenta mencapai garis Finish. Hanya tinggal Kenta seorang yang belum.

Tiba-tiba, tubuh Kenta berubah menjadi hologram dan merasakan sakit di sekujur tubuhnya. Setelah mengerang kesakitan, tubuhnya pun menghilang.

Gamerer tertawa terbahak-bahak. "Aku senang! Aku senang! Membunuh manusia dengan cara seperti ini sangat menyenangkan!"

Jumlah angka di Killer Board miliknya yang sudah mencapai 599 bertambah menjadi 600. Itu adalah jumlah orang yang berhasil ia bunuh.


=***=

Di sebuah bangku taman kota, seorang pria berbaju kotak-kotak dan bercelana panjang hitam tengah asyik bermain 'PSP (PlayStation Portable)'. Rambutnya pendek lurus kecokelatan, kulitnya putih, alisnya sedang, hidungnya agak mancung, bibirnya tebal, dan daun telinganya kecil. Matanya yang sipit itu terlihat sangat fokus pada layar PSP-nya. Jari-jarinya bermain dengan lincah menekan tombol-tombol PSP. Ia sedang memainkan permainan tinju. Karakter yang ia mainkan adalah pria bercelana 'boxer' hijau, melawan pria botak bercelana boxer hitam. Tubuh kedua karakter yang sama-sama kekar itu saling beradu pukulan dan sesekali menangkis.

Namun, tak lama setelah itu, PSP milik pria tersebut mengeluarkan cahaya terang yang memancar menyinari wajahnya. Ia pun terkejut, dan tak lama tubuhnya tersedot masuk ke dalam PSP-nya. PSP tersebut langsung jatuh ke tanah.

Si pria tersedot masuk ke sebuah lorong lalu jatuh ke sebuah ring tinju.

"Lho, kenapa aku bisa di sini??" ucap si pria sambil memandang sekitarnya.

Di sekitarnya ada banyak sekali orang yang bersorak-sorai di 'kursi penonton'. Di hadapannya ada pria botak kekar seperti yang menjadi lawan karakter yang ia mainkan di PSP. Si pria pun sangat terkejut dan tak menyangka bisa bertemu karakter yang menjadi lawan karakternya di PSP dan juga 'wasit' berpakaian putih garis-garis hitam. Si pria makin kaget ketika memeriksa tubuhnya, bajunya tidak ada dan hanya memakai celana boxer hijau serta sepasang sarung tinju hijau.

Kemudian secara tiba-tiba Gamerer muncul di tengah-tengah si pria dan si pria botak.

"Siapa namamu?" tanya Gamerer pada si pria.

"Aku Kazuo," jawab pria tersebut. "Ada apa sebenarnya ini??? Kenapa aku bisa ada di sini??? Dan siapa kau, makhluk aneh???"

"Aku Gamerer. Saat ini, kau sedang berada di dunia game yang kau mainkan. Aku yang mengundangmu masuk kesini. Dan kau harus menuruti perintahku!" ujar Gamerer.

"Apa??? Di-di dunia game y-y-yang aku mainkan???" Kazuo membelalak. "Tidak!" Ia lalu berdiri dan berjalan menuju ke luar ring.

Akan tetapi, keanehan terjadi. Sesampainya ia di luar ring, tiba-tiba saja tubuh Kazuo menghilang dan kembali berada di dalam ring.

"Lho??? Kenapa bisa???" Kazuo terkejut dan terheran-heran. Ia kembali keluar dari ring, namun hasilnya sama saja. Berkali-kali pun ia coba, ia tetap kembali lagi ke ring.

"Percuma saja!" kata Gamerer. "Kau tidak akan bisa keluar dari sini, sebelum kau menang melawan Genjuro!" Tunjuknya pada si pria botak kekar. Setelah itu, ia berubah menjadi hologram dan menghilang.

"Apa-apaan ini???" teriak Kazuo.

Genjuro menggemertakkan jari jemarinya dan memasang posisi siaga.

"Cih! Sial! Mau tidak mau, aku harus melawannya," keluh Kazuo.

TENG!

Suara 'lonceng tinju' berbunyi.

Genjuro langsung melakukan tinjuan lurus ke arah Kazuo.

"Pukulannya keras sekali," ucap Kazuo seraya menghindari tinjuan Genjuro.

Genjuro kembali melepaskan tinjuan. Namun kembali bisa dihindari Kazuo meski ia hampir saja jatuh terkena angin dari tinjuan itu.

Marah, Genjuro melancarkan 'uppercut' ke dagu Kazuo dengan sangat cepat. Kazuo tidak bisa menghindar. Mulutnya pun mengeluarkan darah. Setelah itu, Genjuro meninju Kazuo secara membabi buta di segala arah. Terakhir, ia melepaskan pukulan lurus ke dada Kazuo hingga terpental dan jatuh telentang.

"Satu ..." Wasit mulai menghitung di dekat Kazuo. "Dua ..." lanjutnya. "Tiga ... Empat ... Lima ... Enam ... Tujuh ... Delapan ..."

Namun, Kazuo tak kunjung bangun.

"Sembilan ..." Wasit kembali menghitung. "Sepuluh!"

TENG TENG TENG!

"K.O!" seru sang wasit.

Penonton pun bersorak sorai. Dan, tubuh Kazuo berubah menjadi hologram lalu menghilang.

Di sebuah kursi empuk, Gamerer terlihat sangat puas menyaksikan hal itu dari sebuah layar besar di hadapannya sambil meminum sebotol 'bensin'. Jumlah angka pada Killer Board miliknya kembali bertambah menjadi 601.


Setsuna Mall, Kota Zippon - Jepang, Senin 20 Januari 2020, pukul 12:30.

Sepulang kuliah, Ariel menemani Fumiko shopping. Banyak sekali pakaian dan barang yang dibeli Fumiko di mall besar itu. Ia menjinjing dua plastik besar di tangan kanannya, dan Ariel menjinjing dua plastik besar pula, satu di kanan, satu di kiri. Saat ini, Fumiko tengah memilih-milih pakaian lagi di mall yang besar dan dingin itu.

"Ariel, ini bagus tidak?" tanya Fumiko seraya menunjukkan baju merah berkerah biru dengan gambar kepala kucing di tengahnya.

Ariel mengangguk.

Fumiko tersenyum lalu memasukkan baju tersebut di salah satu kantong plastik yang ia pegang.

"Bagaimana kalau kita pulang sekarang?" ajak Ariel yang berdiri di samping Fumiko. "Kau kan sudah banyak membeli barang, sampai aku kau repotkan untuk membawa belanjaanmu."

"Nanti dulu. Setelah ini, aku mau main game di arena permainan," jawab Fumiko yang kemudian beranjak dari situ. Ariel mengikutinya.

Mereka berdua pergi ke kasir. Setelah membayar belanjaan yang dibeli Fumiko, mereka berdua pun pergi ke sebuah arena permainan bernama 'Player', yang mana di tempat itu banyak sekali 'mesin game' yang dimainkan orang-orang.

Sementara itu, tak jauh dari sana, Gamerer tengah berdiri di atas sebuah gedung. Layar di kepalanya yang berbentuk tv itu menyala terang, kemudian muncul tulisan 'Shadow' pada layar tersebut.

Tak lama kemudian, muncul sosok yang mirip dengan Gamerer sebanyak sepuluh sosok. Sosok-sosok itu berjejer di samping Gamerer.

"Baiklah, kalian semua, ikut denganku!" perintah Gamerer. "Kalian semua punya tugas." Kemudian ia mengarahkan kepalanya ke atas.

Mendadak, layar di kepala Gamerer mengeluarkan cahaya yang memancar ke atas dan mengeluarkan sebuah lubang besar. Tak lama, cahaya itu meredup, menyisakan lubang besar yang dikeluarkannya.

"Ayo kita bersenang-senang!" ucap Gamerer yang kemudian melompat dan masuk ke lubang tersebut, diikuti oleh sepuluh sosok lagi yang serupa dengannya.

Kembali ke Setsuna Mall. Fumiko yang sudah membeli koin di kasir Arena Permainan Player, memilih-milih permainan yang ia suka, ditemani oleh Ariel. Akan tetapi, semua arena permainan penuh. Fumiko cemberut, dan hanya bisa duduk di bangku panjang warna abu-abu yang ada di sana.

"Sudahlah...," ucap Ariel sambil memandang Fumiko. "Tunggu saja dulu sebentar."

"Baiklah." Fumiko masih cemberut. Ia melipat kedua tangannya di dada. "Oh iya, Ariel, nanti temani aku lagi ya ketika turnamen game yang kuceritakan padamu itu berlangsung."

Ariel mengangguk. "Aku salut kau bisa tampil di tv kemarin."

"Hahaha... Sebentar lagi aku akan mengalahkan prestasimu." Fumiko tiba-tiba tersenyum.

Ariel hanya tersenyum tipis.

Di saat seperti itu, tiba-tiba beberapa orang yang tengah bermain game di arena permainan tersebut berteriak. Ariel dan Fumiko terkejut. Mereka berdua melihat sebelas mesin game yang memiliki 'layar', bercahaya terang. Tak lama, orang-orang yang memainkan mesin game itu tersedot ke dalam layar game yang mereka mainkan.

Orang-orang yang ada di sana yang tidak bermain game pun berhambur dan berlari sambil berteriak ketakutan. Tapi adapula beberapa yang memeriksa mesin game yang dimainkan orang-orang yang tersedot itu.

"Ada apa sebenarnya ini???" ucap Ariel. Ia lalu melihat layar salah satu mesin game pertarungan bertuliskan 'Heroes Fate' di atasnya. Fumiko juga ikut melihatnya.

Mereka berdua kaget ketika melihat seorang bapak-bapak yang sempat mereka lihat bermain game disitu berada di dalam game tersebut, bertarung dengan sesosok monster manusia burung.

"Ke-kenapa dia bisa ada di situ???" Fumiko kebingungan, seolah tak percaya dengan apa yang ia lihat.

Tak lama, si bapak-bapak mati disembur oleh api monster tersebut.

"GAME OVER!!" Mesin game itu mengeluarkan suara sekaligus tulisan yang sama seperti suara itu berukuran separuh layarnya. Setelah itu, muncul gambar Gamerer separuh badan tertawa terkekeh-kekeh.

"Apa dia ... Mechaster?" gumam Ariel dengan tatapan tajam.


Hizashi Mall, Kota Zippon - Jepang, Rabu 22 Januari 2020, pukul 14:30.


Ini adalah hari dimana Fumiko ikut turnamen game seperti yang kemarin ia katakan pada Ariel yang sekarang tengah menemaninya. Di suatu tempat yang ada di dalam mall itu, ada mesin game balap motor dengan layar besar di depannya berjumlah dua belas. Sebelas peserta yang terdiri dari laki-laki dan perempuan termasuk Fumiko sudah siap di mesin game masing-masing.

Tak lama, di layar semua mesin itu muncul tulisan 'GO!!'. Semua peserta langsung menarik grip mesin game berbentuk motor balap itu.

Namun, tak lama setelahnya, keanehan terjadi. Layar sebelas mesin motor itu mengeluarkan cahaya terang, dan sebelas orang yang berlomba tersedot masuk ke dalam layar mesin tersebut.

Orang-orang yang ada di sana pun panik dan berlarian ketakutan.

"Ada apa ini??" gumam Ariel. Ia lalu mengecek mesin game tempat Fumiko tersedot.

Di dalam layar, ada Fumiko dan ke sepuluh orang yang ikut turnamen tengah duduk di atas motor balap dengan berbagai warna dan nomor. Saat itu, Fumiko tengah melepas helm motor full face warna pink dari kepalanya. Tidak ada jaket dan perlengkapan balap motor lainnya, hanya helm.

Ariel tidak tahu bagaimana caranya mengeluarkan Fumiko dari layar itu. Sampai akhirnya, ia melihat masih ada mesin game yang kosong. Ia pun menyalakan mesin itu. Setelah mesin menyala, layarnya mengeluarkan cahaya terang dan Ariel pun langsung tersedot ke dalam layar mesin tersebut.

Ariel tiba-tiba muncul di sebuah sirkut balap motor seperti yang ia lihat di mesin game tadi dengan motor balap warna merah dan helm berwarna serupa di urutan kedua belas. Tiba-tiba, secarik kertas muncul di dekat speedometer masing-masing orang yang menjadi peserta balap di sana, tak terkecuali Ariel. Di kertas itu tertulis, bahwa siapapun yg sudah masuk ke dalam permainan ini tidak bisa keluar kecuali mengikuti instruksi yang diberikan. Instruksi tersebut berisi pemberitahuan bahwa siapapun yang menjadi juara satu sampai tiga, diberi kesempatan untuk menjadi wakil di game selanjutnya, dan perwakilan hanya dipilih satu orang dari hasil diskusi para juara. Dan jika orang tersebut kalah, semua orang termasuk dirinya akan mati. Jika menang, maka akan masuk di game terakhir, dan dari tiga orang itu hanya dipilih satu dari hasil diskusi para juara. Jika menang, maka semuanya bisa keluar dari game ini. Jika tidak, maka tiga orang yg menjadi juara, termasuk sembilan orang lagi yg terperangkap dalam game akan mati. Setelah muncul tulisan 'GO!!' di depan 'garis start', itu berarti balapan dimulai. Dan balapan tersebut hanya satu 'LAP'

"Ini gila!" teriak seorang laki-laki berjaket oranye sambil memukul motor yang ia tunggangi.

"Sial! Aku tidak bisa naik motor balap, lagi!" keluh seorang wanita berhelm biru.

"Haduuhh... Akan kuusahakan menang deh," gerutu Fumiko.

Setelah itu, di depan garis start muncul tulisan hologram 'GO!!' warna hijau.


Kedua belas motor itu pun langsung melesat meninggalkan garis start.

Semua motor berpacu untuk jadi yang terdepan, walau ada beberapa dari mereka yang tidak mahir mengendarai motor itu.

Satu persatu motor berhasil dilewati oleh Ariel. Kini, dia ada di urutan kelima. Setelah berbelok, ia pun menarik gas motornya sampai ke belakang sekali dan melesat meninggalkan motor pink yang dikendarai Fumiko yang tadi ada di depannya.

Fumiko terkejut. "J-jaket itu ... Apa dia Ariel?"

Fumiko yang fokusnya sedikit pecah, berhasil dibalap seorang pria bermotor oranye. Tak terima dibalap, Fumiko pun menarik gas motornya sampai full, membuat orang yang membalap posisi Fumiko pun kembali ke posisi awalnya yaitu di belakang Fumiko.

Sementara itu, Ariel yang telah berhasil menyalip dua motor di depannya, kini sedang mempertahankan posisinya yaitu posisi pertama. Orang-orang yang disalipnya tadi mencoba menyalipnya. Namun, usaha mereka sia-sia. Ariel lebih lihai dibanding mereka. Di saat seperti itu, tiba-tiba dua orang tersebut berhasil disalip oleh Fumiko. Meski perempuan, ia sangat ahli mengendarai motor balap, bahkan lebih ahli daripada dua orang yang disalipnya.

Garis 'finish' sudah terlihat. Ariel memacu motornya dengan sangat kencang dan berhasil melewati garis finish. Setelah itu disusul Fumiko lalu satu orang pria bermotor hijau di belakang Fumiko. Hasilnya, Ariel juara satu, Fumiko juara dua, dan si pria bermotor hijau bernama Takeshi juara tiga, terlihat di papan besar di dekat garis finish.

Pada saat seperti itu, tiba-tiba tempat tersebut berganti menjadi sebuah 'panggung kuis' dengan satu meja kotak tinggi di tengah-tengah panggung. Di atas meja kotak tersebut menempel sebuah mikrofon panjang. Tak ketinggalan para penonton yang duduk di kursi penonton. Orang-orang yang tadi ada di sirkuit langsung berpindah ke tempat itu. Helm di kepala mereka menghilang. Mereka tentu saja kaget, bingung. Suasana pun menjadi riuh.

"Ariel???" Fumiko kaget melihat Ariel berdiri di sampingnya. "Sejak kapan kau ada di sini???"

"Sejak balapan motor tadi," jawab Ariel.

"Tapi, bagaimana caranya???"

"Lewat mesin game yang ada di tempat turnamen yang kau ikuti."

"Oooh...." Angguk Fumiko pelan.

"Kita semua terperangkap dalam game, lewat mesin game itu."

"Aku juga menyadarinya kok. Sekarang yang terpenting, kita harus keluar dari sini!" seru Fumiko.

Ariel mengangguk.

"Para hadirin sekalian!!!" tiba-tiba muncul suara yang menggema di seisi panggung. Suara itu berasal dari sebuah layar besar berbentuk tv yang menempel di depan panggung. Tv itu persis seperti kepala Gamerer. Itu adalah suara yang keluar dari mulutnya.

Orang-orang yang ada di sana pun langsung menengok ke arah layar--yang bisa bicara--itu.

"TV itu kan ..." Fumiko tercekat.

"Kepala makhluk robot yang ada di Setsuna Mall waktu itu," timpal Ariel.

"Jangan-jangan ini perbuatannya!?" terka Fumiko.

"Bisa jadi," balas Ariel.

"Para hadirin sekalian!!" kata layar itu lagi. "Sesuai instruksi, juara satu sampai tiga harus mewakilkan game selanjutnya jika ingin selamat. Game selanjutnya adalah 'Kuis Cerdas Cermat'. Nah, siapa diantara para juara yang ingin menjadi wakilnya?"

Fumiko langsung tunjuk tangan. "Aku yang akan jadi wakilnya!"

Ariel tersentak. "Fumiko?"

"Ariel, percayakan padaku!" Fumiko menatap mata Ariel.

Ariel mengangguk pelan. Sementara Takeshi si juara tiga hanya diam saja.

"Baiklah! Berdirilah di meja kotak panjang yang ada di tengah panggung!" perintah layar yang bisa bicara tersebut. "Gunakan mic yang menempel di sana untuk menjawab setiap pertanyaan yang akan muncul di layar."

Fumiko langsung mengikuti apa yang dikatakan layar itu. Para penonton pun bertepuk tangan. Sementara Ariel dan orang-orang yang tadi balap motor duduk di bangku yang tak jauh dari sana.

"Baiklah, pertanyaan pertama ..." ucap layar yang menempel di beberapa hasta di depan meja kotak tersebut. Wajah yang terdiri dari mata dan mulut di layar itu pun berubah menjadi huruf bertuliskan 'Apa nama sungai terpanjang di dunia?'

"Sungai Nil," jawab Fumiko menggunakan mikrofon.

Tulisan di layar itu pun berubah menjadi tanda 'centang' hijau yang di bawahnya ada tulisan 'Jawaban Benar'.

Para penonton pun bertepuk tangan, termasuk Ariel dan para pembalap motor tadi.


Layar pun berubah lagi menjadi tulisan 'Kapan pertama kali pedang diciptakan?'

Fumiko terdiam cukup lama. Layar lalu berubah menjadi hitungan mundur, '10-9-8-7-6-5-4-3-2-1' kemudian 'Waktu Habis'. Tulisan di layar kembali berubah menjadi 'Jawabannya adalah zaman perunggu sebelum masehi'.

Ariel memegang keningnya. "Ya ampun, Fumiko."

Pertanyaan di layar kembali berlanjut, 'Siapakah penemu uang kertas?'

"Xi Lun," jawab Fumiko.

Gambar di layar pun berubah menjadi tanda 'silang' merah dan di bawahnya ada tulisan 'Jawaban Salah'.

Fumiko tertunduk dan menggeleng. Sementara tulisan di layar berubah menjadi 'Jawabannya adalah Ts'ai Lun'.

Pertanyaan pun kembali berlanjut. Akan tetapi, Fumiko kembali menjawab salah. Pertanyaan selanjutnya salah lagi. Lagi. Dan lagi. Selain itu, waktu habis. Sudah lima belas pertanyaan diajukan, tapi Fumiko hanya berhasil menjawab satu. Layar memperingatkan, jika pertanyaan terakhir yaitu keenam belas salah, maka Fumiko termasuk orang-orang yang ikut balap motor tadi akan mati di sini. Karena Fumiko hanya berhasil menjawab dua. Minimal harus menjawab tiga pertanyaan dengan benar untuk memenangkan game ini. Orang-orang yang tadi ikut balapan yang duduk di dekat Ariel pun panik dan berharap Fumiko bisa menjawab pertanyaan terakhir tersebut.

"Fumiko ... Semoga berhasil," gumam Ariel.

Layar kembali memunculkan pertanyaan, yang bertuliskan 'Apa nama lain dari rambut?'

Fumiko terdiam. Waktu pada layar mulai menghitung mundur.

Orang-orang yang duduk di dekat Ariel nampak semakin tegang.

Fumiko akhirnya menjawab, "Surai!"

Layar pun memunculkan gambar centang berwarna hijau dengan tulisan 'Jawaban Benar'.

Penonton bertepuk tangan, termasuk yang duduk dekat Ariel. Beberapa orang yang duduk di dekat Ariel itu bersorak sorai gembira meneriakkan kemenangan Fumiko. Mereka akhirnya tidak jadi mati.

"Padahal tadi aku jawab asal." Fumiko memeletkan lidahnya.

Setelah itu, tempat kembali berganti. Kali ini di sebuah 'arena pertarungan' di pinggir pantai. Di arena itu, berdirilah Gamerer. Sementara di luar arena pertarungan, berdirilah Ariel, Fumiko, dan sepuluh orang yang ikut balap motor sebelumnya.

"Jadi, siapa yang akan menjadi wakil game terakhir ini?" tanya Gamerer pada mereka.

"Aku!" jawab Ariel dengan lantang.

"Ariel ..." ucap Fumiko lirih.

Ariel pun berjalan ke arena pertarungan yang besar dan luas itu.

Ketika Ariel sudah berada di dalam arena pertarungan, Fumiko berteriak, "Ariel!!! Berjuanglah!!!"

"Semangat!!!" teriak semua orang yang berpartisipasi di game awal, termasuk Takeshi.

"Kita bertarung sampai mati! Jika menang, kalian bisa keluar dari sini! Aku rela mempertaruhkan nyawaku demi game ini," kata Gamerer.

"Apa kau ... Mechaster?" tanya Ariel.

Gamerer terkejut. "Darimana kau tahu?"

"Berarti memang benar," ujar Ariel.

"Kalau iya, lantas kenapa?" tanya Gamerer.

Ariel memicingkan matanya. "Aku akan memusnahkanmu."

"Silahkan jika kau bisa," balas Gamerer.

Ariel kemudian mengambil Blitzdrive dari balik jaket sebelah kanannya, menempelkan benda itu di pinggangnya, dan menekan permata merah pada benda tersebut.

Blitzdrive pun mengeluarkan tali tebal perak bermotif garis tebal hitam dari samping kanan dan kirinya, lalu melilit pinggang Ariel, membentuk sebuah sabuk dengan Blitzdrive sebagai kepalanya.

Ariel mengambil sebuah kartu bergambar Blitz Crest dari kotak di sebelah kanan sabuknya dengan cari diapit menggunakan jari telunjuk dan tengah kanannya. Kemudian ia menekuk lengan kanannya itu ke arah bahu sebelah kirinya secara diagonal, lalu berseru, "Henshin!!" Dan menurunkan lengan kanannya seraya memasukkan kartu yang dipegangnya ke dalam lubang kotak tipis di atas kepala sabuknya.

Permata merah yang ada pada Blitzdrive mengeluarkan cahaya terang. Cahaya tersebut memancar sejauh 1,5 meter dan mengeluarkan bayangan hologram berbentuk tubuh manusia yang berdiri tegak dan seluruhnya berwarna merah seukuran tubuh Ariel. Bayangan tersebut memiliki tanduk pipih menyamping nan runcing dan beberapa lekukan yang membentuk sesuatu di sekitar tubuhnya. Bayangan itu kemudian mundur ke arah Ariel dan melapisi tubuhnya. Begitu bayangan tersebut terserap oleh tubuh Ariel, tubuh pemuda itu pun berubah menjadi Kamen Rider Blitzer. Lensa mata biru helmnya mengedipkan cahaya biru terang.

Orang-orang yang menyaksikan itu pun terkejut dibuatnya, kecuali Fumiko.

"Kamen Rider Blitzer ... Kau pasti bisa!" seru Fumiko dalam hati.

"Hoo..." Gamerer melakukan peregangan jari, kemudian berlari menuju Ariel yang sudah berubah wujud ketika di tengah-tengah mereka muncul tulisan 'MULAI!'

Sesampainya Gamerer di dekat Blitzer, ia segera melayangkan kepalan tangan kanannya ke wajah Blitzer.

Tapi Blitzer menepis dengan punggung tangan kirinya, lalu melancarkan serangan balasan dengan tendangan lurus ke perut Gamerer. Gamerer pun terpental dan terguling-guling ke belakang.

"Sial!" keluh Gamerer sambil berdiri dari jatuhnya. Mata dan mulut pada layar kepalanya tiba-tiba berubah menjadi tulisan 'Mecha Sword'.

Tak lama di genggaman tangan Gamerer muncul sebilah pedang perak dengan pegangan panjang lurus yang dililit oleh kabel hitam. Batang pedang tersebut berbentuk gear besar.

Melihat hal demikian, Ariel mengambil selembar kartu dari Blitzcase. Kartu tersebut bergambar pedang dengan bilah belakang memiliki lekukan-lekukan runcing. Batangnya berbentuk segilima dan memiliki lekukan-lekukan runcing pula. Di batang pedang tersebut ada pola bundar warna merah dan dihiasi beberapa garis tebal warna emas. Pola tiga kotak emas yang membentuk setengah lingkaran ikut menghiasi bagian kanan dan kiri dekat pola bulat, lalu ada empat pola lingkaran kecil emas di batang pedang tersebut. Di atas pola bulat itu ada baja yang memiliki dua ujung runcing warna putih, di belakang dan di depan yang menjorok ke bilah pedang serta dilengkapi dua garis tebal warna emas. Di kanan dan kiri batang pedang itu menempel baja yang cukup runcing berwarna putih dan memiliki pola garis. Pegangan pedang itu berwarna merah dan memiliki pola garis lurus yang di tengahnya ada bulatan kecil warna emas dan di belakangnya ada dua motif yang meruncing ke belakang, selain itu ada garis tebal emas di bagian belakang motif yang meruncing. Pegangan pedang itu ujung belakangnya runcing. Di bawah gambar pedang, ada tulisan 'TECHNO BLADE' serta pola segitiga merah bertepi emas dan kotak kecil merah seperti pada kartu sebelum-sebelumnya. Blitzer kemudian memasukkan kartu itu ke dalam kotak tipis yang ada di atas kepala sabuknya.

"TECHNO BLADE!!" Kepala sabuk Blitzer mengeluarkan suara sekaligus kedipan cahaya merah pada permatanya.

Di depan Blitzer tiba-tiba muncul hologram pedang seperti yang tergambar pada kartu, kemudian hologram pedang bernama 'Techno Blade' itu berubah menjadi nyata dan langsung digenggam pegangannya oleh Blitzer.

Techno Blade (Created by: KiRa)


"Hiiaaa!!!" Gamerer langsung berlari ke arah Blitzer, lalu mengayunkan pedangnya, melancarkan tebasan ke atas kepala Blitzer.

Namun, tebasan itu berhasil ditangkis oleh Blitzer menggunakan mata pedangnya. Setelah itu, Blitzer membalas, ia melakukan tebasan datar ke arah dada Gamerer.

Tapi, Gamerer menepis menggunakan pedangnya, mengadu pedangnya dengan pedang Blitzer. Ia lalu melancarkan serangan balasan dengan tebasan miring.

Namun, Blitzer mengadu tebasan itu dengan tebasan pula. Akhirnya, mereka berdua pun saling bertukar serangan pedang.

TRIIING! TRAAANG!

Bunyi dua pedang saling beradu. Sebisa mungkin, Gamerer mengimbangi kelincahan Blitzer memainkan pedangnya, meski karena itu ia beberapa kali kena sabetan di dadanya.

Merasa marah, Gamerer pun menyerang Blitzer dengan membabi buta.

Blitzer berhasil menghalau semua jurus Gamerer. Tak lama, Blitzer sukses memutuskan lengan kanan Gamerer. Belum cukup sampai disitu, Blitzer kembali mengayunkan pedang dan memutuskan pinggang Gamerer.

Blitzer berhenti menyerang begitu melihat tubuh lawannya sudah terpotong-potong tak berdaya. "Sudah selesai," gumamnya yang kemudian berbalik, meninggalkan tubuh Gamerer.

Namun...

'Cheat Activated!' wajah pada layar kepala Gamerer memunculkan tulisan. Tidak lama kemudian, tubuh Gamerer yang terpotong kembali tersambung.

Orang-orang yang menyaksikan pertandingan itu terkejut, tak terkecuali Fumiko.

"Ariel! Lihat ke belakang!!!" teriak Fumiko.

Blitzer pun segera berbalik ke belakang. Bukan main terkejutnya ia melihat apa yang terjadi pada Gamerer.

"Khahahaha... Kau pikir bisa dengan mudah mengalahkanku?!" teriak Gamerer. Ia kemudian mengangkat pedangnya ke atas.

Mata pedang tersebut langsung dilapisi sinar hitam. Gamerer mengayunkan pedangnya ke depan, membuat sinar yang melapisi mata pedangnya meluncur ke arah Blitzer dengan sangat cepat. Blitzer yang tak siap pun, terpelanting ketika tubuhnya terkena sinar itu.

"Khahahahahaha..." Gamerer melompat tinggi dan mendarat persis di hadapan Blitzer yang terkapar di tanah. Tanpa basa-basi, ia segera menghujamkan pedangnya ke tubuh Blitzer.

Dengan susah payah, Blitzer menekup mata pedang Gamerer dengan kedua tangannya, beradu kekuatan dengan Gamerer yang menghujamkan pedang padanya.

Tak lama kemudian, Blitzer berhasil menang. Gamerer tersentak ke belakang. Blitzer pun berdiri lalu melompat tinggi dengan pedang masih di tangan kanannya.

Beberapa detik kemudian, Blitzer meluncur dari langit dan berhasil membelah kepala Gamerer yang berbentuk tv itu menjadi dua. Meski begitu, Gamerer masih bisa bergerak. Ia berlari dari sana dengan tubuh tanpa kepala.

Blitzer lalu menekan permata merah pada Blitzdrive. Blitzdrive pun mengeluarkan suara, "POWER!!"

Permata merah pada Blitzdrive menyala terang berwarna merah yang terus menyala.

Tak berselang lama, mata pedang Techno Blade diselimuti oleh petir yang menyambar-nyambar.

Blitzer mengambil ancang-ancang. Ia menekuk tangan kanannya yang memegang Techno Blade ke arah kiri badannya. Setelah itu, secara cepat ia melakukan tebasan datar, membuat petir yang menyelimuti pedangnya meluncur ke arah Gamerer yang tengah berlari dengan lamban. Begitu tubuh Gamerer terkena petir tersebut, tubuhnya diselimuti petir itu dan akhirnya meledak dengan ledakan yang cukup besar. Di waktu yang hampir bersamaan, cahaya pada permata merah Blitzdrive milik Blitzer meredup.


Semua penonton bersorak sorai atas kemenangan Ariel selaku Kamen Rider Blitzer. Namun, ketika mereka berlari dengan penuh sukacita ke arah Blitzer, tubuh mereka termasuk Blitzer sendiri bercahaya, kemudian menghilang dari tempat itu.

Semua orang yang terperangkap dalam game tersebut keluar dari dalam layar mesin game balap motor di Hizashi Mall dan jatuh ke lantai. Keadaan tempat itu sudah kosong, hanya ada orang-orang yang keluar dari game itu.

Di depan wajah Fumiko yang terjerembab di lantai, ada lengan seseorang yang disodorkan padanya. Fumiko meraih lengan itu dan berdiri, dibantu oleh si pemilik lengan.

"Ariel?" terka Fumiko yang ternyata benar.

"Kau tak apa-apa?" tanya Ariel.

Fumiko mengangguk. "Iyah. Tapi ... Turnamennya?" Ia lalu tertunduk lesu.

"Sudahlah...," hibur Ariel. "Keselamatanmu jauh lebih penting!"

Tiba-tiba, orang-orang yang baru keluar dari game tadi menghampiri Ariel sambil bersorak sorai.

"Hidup pahlawan!!!" teriak Takeshi yang merupakan juara tiga lomba balap di game tadi sambil mengangkat lengan Ariel dan Fumiko secara bersamaan.

"Hidup!!!" teriak sisanya.

"Hidup pahlawan!!!" teriak Takeshi lagi, sambil masih memegang lengan Ariel dan Fumiko.

"Hidup!!!" teriak orang-orang sisanya.

Ariel tersenyum kecil.

"Benar juga. Walau turnamennya rusak, tapi setidaknya nyawaku selamat dan bisa menyelamatkan orang-orang," gumam Fumiko yang kemudian tersenyum manis.

Hari itu benar-benar hari yang melelahkan bagi Ariel. Tapi, ia senang telah membunuh satu Mechaster lagi. Ia masih berharap bisa bertemu dengan Mechaster pembunuh orangtua dan guru beladirinya suatu hari nanti dan membalas semua perbuatannya.

To Be Continued

[FanFic] Kamen Rider Blitzer (Episode 6: Jalan Kegelapan)

Episode 6: Jalan Kegelapan

Aizawa University, Kota Zippon - Jepang, pukul 07:00.

Di kantin kampus, Fumiko tengah asyik memainkan smartphone bercasing merahnya, ia duduk di bangku berwarna hijau.

Tak lama, Izumi datang menghampiri.

"Fumiko!" panggil Izumi.

Fumiko mengangkat kepalanya. "Eh, Izumi?"

Izumi lalu duduk di bangku dekat sana yang berhadapan dengan Fumiko dan dibatasi meja cokelat bertaplak krem.

"Aku mau mengembalikan ini," ucap Izumi yang kemudian membuka tas gemblok birunya dan mengambil baju dan celana yang dilipat rapih. Lalu ia memberikan baju dan celana tersebut pada Fumiko.

Fumiko menaruh smartphonenya di meja dan menerima baju dan celana itu. "Terimakasih."

"Sama-sama. Baju dan celana yang kau pinjamkan padaku itu sudah kucuci dan kusetrika," balas Izumi.

Fumiko tersenyum.

"Untung saja kemarin kau menemukanku di hutan dan melepaskan ikatanku. Kalau tidak, mungkin aku tidak bisa pulang," cerocos Izumi.

"Mungkin Tuhan lah yang mempertemukan kita," balas Fumiko. "Lagipula aku hanya kebetulan datang karena ingin memetik beberapa bunga di sana. Ng ... Ngomong-ngomong mengenai kejadian yang aku memeluk Ariel apa kau sungguh-sungguh memaafkanku?"

Dahi Izumi mengernyit. "Lho, kenapa kau membahas itu?"

"Aku hanya takut kau memaafkanku hanya lelucon seperti lelucon yang kau buat ketika mengembalikan kartu mahasiswa milik Ariel. Padahal kau sudah tahu nama Ariel dari kartu mahasiswa itu tapi ketika di kampus waktu itu kau malah menanyakan namanya padaku."

Izumi tertawa keras. "Kenapa kau berpikir seperti itu?? Tentu saja tidak! Aku sungguh-sungguh memaafkanmu kok. Waktu itu aku lupa nama Ariel, makanya aku bertanya padamu. Dan aku bilang padamu bahwa aku telah membuat lelucon hanya iseng saja."

"Iiihh... Kau ini," balas Fumiko yang kemudian tertawa. "Oh iya, jika kau dibully lagi oleh siapa saja yang ada di kampus ini, termasuk Yamanaka dan teman-temannya, beritahu aku, nanti akan kuadukan pada Ariel."

Izumi mengangguk dan tersenyum. "Um!"

=***=

Tempat Pemakaman Umum Zippon, Kota Zippon - Jepang, pukul 09:00.

Di salah satu kuburan, 'Jeth Higashi' sang 'Kamen Rider Dhroider' tengah berjongkok di sampingnya, di luar 'keramik' yang menghiasi kuburan itu. Di batu nisan kuburan tersebut tertulis nama 'Kagami Higashi'. Jeth menabur bunga di kuburan tersebut lalu menyiramkan sebotol 'air mawar' secara merata di tanah kuburan itu. Hari ini ia mengenakan busana yang sama seperti busana yang dikenakannya ketika berhadapan dengan Ariel, hanya saja celana panjangnya berwarna hitam dan mengenakan sepasang sarung tangan berwarna hitam pula.

"Ayah ... Hari ini adalah hari peringatan di mana engkau mengajariku beladiri untuk yang pertama kalinya. Meski kau sudah tiada, tapi kebetuhanku semuanya tercukupi. Semoga kau tenang di alam sana. Besok aku mau mengunjungi kuburan ibu," ucap Jeth. Tak terasa air matanya meleleh. Ia jadi ingat masa ketika ayahnya masih hidup.

-Flashback-
Jeth adalah seorang laki-laki yang tangguh. Dari umur lima tahun, ia sudah diajari beladiri oleh ayahnya. Ayahnya mengatakan kalau Jeth adalah penerus ayahnya sebagai Kamen Rider Dhroider. Sementara ibunya, sudah meninggal akibat serangan jantung beberapa tahun lalu.

Ketika Jeth sudah berusia sepuluh tahun, ia diajarkan menggunakan 'Dhroiddrive' yakni benda yang digunakan untuk berubah wujud menjadi Kamen Rider Dhroider. Ayahnya juga menjelaskan asal-usul Kamen Rider Dhroider dan musuhnya yaitu Mechaster. Beberapa tahun yang lalu, bumi diserang oleh sekelompok makhluk dari luar angkasa yang mirip manusia namun dapat berubah wujud menjadi monster robot. Pihak keamanan Jepang pun dibuat kerepotan. Sampai akhirnya, ayah Jeth bertemu seorang proffesor bernama 'Ren Matsuyama' yang memberikannya sebuah alat bernama Dhroiddrive untuk berubah wujud menjadi Kamen Rider Dhroider guna melawan para Mechaster. Selain Dhroiddrive, ayah Jeth, Kagami, diberi juga alat pelacak khusus seperti 'GPS' yang bisa ditempel di berbagai macam handphone yang berfungsi sebagai alat pelacak Mechaster, serta motor khusus yang bisa berubah bentuk. Simbol di kotak kartu dan dada sebelah kanan Kamen Rider Dhroider adalah simbol data bernama 'Dhroid Crest' yang muncul ketika Professor Ren menciptakan 'Rider System' itu, akhirnya lambang tersebut dipakai sebagai simbol serta nama alat perubah Dhroider yang akhirnya dinamakan 'Dhroiddrive'. Nama Kamen Rider Dhroider sendiri diambil dari 'Dhroid Crest' yang hanya dipakai 'Dhroid'-nya saja dan ditambahkan 'er' yang merupakan asal kata dari 'user' yang diambil belakangnya. Jadi Dhroider artinya 'Dhroid User' Dan 'Kamen Rider' adalah sebuah titel yang terinspirasi dari nama para pahlawan super yang melindungi Jepang yang disebut Kamen Rider.

Ketika Jeth bertanya apa tujuan para Mechaster, Kagami menjawab tujuannya adalah untuk bertahan hidup dengan mencuri bensin sebagai minuman pokok mereka, dan minuman lebih pokok dibandingkan makanan. Makanan yang mereka makan sama seperti makanan manusia pada umumnya. Selain memburu bensin, Mechaster juga memiliki tujuan membunuh manusia untuk bersaing mendapatkan kedudukan tertinggi dalam bangsa mereka. Setiap Mechaster membunuh satu manusia, mereka dapat satu poin yang akan tercantum pada alat bernama 'Killer Board' milik mereka. Kagami mengetahui hal itu dari mechaster yang dikalahkannya dan ia interogasi di ruangan khusus. Hanya itu informasi yang Kagami dapatkan.

"Jurus angin memadamkan api!" teriak Kagami. Di siang menjelang sore itu, ia tengah melatih Jeth yang masih berusia sepuluh tahun beladiri di taman belakang rumahnya.

Kagami memiliki wajah bulat dengan rambut pendek rapih, beralis tipis, bermata sipit, berhidung pipih, bermulut kecil, dan berdaun telinga lebar. Ia dan Jeth mengenakan pakaian yang sama, yakni baju dan celana panjang longgar warna putih dengan masing-masing sabuk seragam 'beladiri'. Sabuk Kagami adalah sabuk hitam, sementara Jeth sabuk biru.

Jeth memutar tubuhnya, kemudian melancarkan pukulan lurus dengan tangan kanannya yang dilanjutkan dengan tapakan lurus ke depan.

"Jurus putaran angin penghancur bumi!" teriak Kagami lagi sambil memandang Jeth dari jarak beberapa meter.

Jeth melompat dengan satu kaki yaitu kaki kiri, kemudian memutar tubuhnya berkali-kali di udara seraya kaki kanannya melakukan tendangan seperti gangsing yang terus maju ke depan. Setelah itu, ia mendarat di tanah dengan mulus.

"Latihan hari ini selesai!" teriak Kagami. Lalu ia melenggang pergi, diikuti Jeth di belakangnya.

"Ayah, apa hari ini kita jadi pergi ke taman kota?" tanya Jeth sambil terus berjalan menuju pintu mengikuti ayahnya.

Kagami menoleh ke belakang dan tersenyum. "Tentu saja jadi."

"Asyik!!" Jeth pun tersenyum lebar.

Setelah Kagami masuk ke rumah lewat pintu belakang, Jeth pun masuk.

Jeth langsung pergi ke kamarnya dan masuk ke dalam kamar mandi yang ada di kamarnya. Usai mandi dan berganti pakaian, Jeth segera pergi ke luar. Di luar, ayahnya yang sudah rapih tengah memanaskan motor yang secara keseluruhan berwarna biru, kecuali mesin-mesinnya yang berwarna perak, pelek ban putih, dan jok berwarna hitam. Motor itu adalah motor khusus pemberian Profesor Ren Matsuyama. Sekarang ini, Kagami mengenakan kaos biru berbalut jaket hitam bergaris biru yang memanjang dari bagian depan jaket hingga batas kedua siku lengannya, celana jeans panjang hitam, dan sepasang sarung tangan hitam. Kagami yang sudah menaiki motor dan mengenakan helm biru mengomandokan Jeth agar naik ke motor. Setelah mengunci rumah, Jeth pun naik ke jok belakang motor serta memakai helm biru yang diberikan ayahnya. Dan mereka berdua melesat pergi dari rumah itu.

Angin berhembus sangat sejuk pada hari itu. Jeth sangat menikmatinya sambil melihat-lihat pemandangan di sekitarnya.

Akan tetapi, ketika asyik-asyiknya Jeth menikmati udara, tiba-tiba ia dan Kagami terkejut karena mendengar teriakan minta tolong dari seorang wanita. Dan tak lama, kemudian muncul seorang wanita berambut pendek sebahu dengan pakaian serba hijau yang tengah berlari dikejar oleh sesosok robot berwarna hitam corak hijau. Kedua tangan robot itu hanya memiliki empat jari bergaris-garis hijau dan tiga jari kaki pipih berwarna hitam. Di pundak sebelah kanannya menempel baja berbentuk sayap warna hitam. Di bahu sebelah kirinya menepel baja bundar kecil yang mirip dengan perisai warna hijau. Di atas kepalanya yang kecil ada lensa panjang tipis yang sebelah kirinya ditiban kaca bundar merah yang bagian tengahnya berwarna hijau.

Kagami segera memacu kencang motornya dan menabrak robot itu. Robot itu dibuat mundur beberapa langkah.

Wanita yang dikejar robot tersebut menoleh ke belakang sebentar, lalu kembali berlari.

"Jeth, cepat sembunyi!" perintah Kagami.

Jeth mengangguk, lalu turun dari motor, pergi dari tempat itu, lalu bersembunyi di balik salah satu pohon yang ada di sana.

"Apa kau Mechaster?" tanya Kagami pada robot tadi.

"Betul sekali!" jawab robot itu. Suaranya terdengar seperti suara seorang wanita. "Namaku Elzoner."

"Tapi kenapa alat pelacakku tidak menangkap keberadaannya," gumam Kagami.

"Dan siapa kau? Berani benar kau menghentikanku!" kata Elzoner.

"Kau tak perlu tahu siapa aku," balas Kagami. "Makhluk sepertimu harus dimusnahkan!"

"Akhahahahaha... Kau tidak tahu sedang berhadapan dengan siapa? Lebih baik cepat pergi daripada kubuat jadi abu!" balas Elzoner yang kemudian mengepalkan jari tangan kanannya dengan posisi tangan kanan ditekuk.

Elzoner (Created by KiRa)

"Kau lah yang akan jadi abu!" Kagami menyingkap sisi kiri jaketnya, kemudian mengambil Dhroiddrive yang menempel di magnet yang menempel pada jaket tersebut. Setelah itu, ia menempelkan Dhroiddrive di depan pinggangnya dengan posisi permata biru menghadap ke depan dan lubang kotak tipis mengarah ke atas. Lalu ia pun menekan permata biru pada Dhroiddrive.

Sebuah tali baja perak bergaris-garis lurus dan kotak muncul dari kedua sisi Dhroiddrive, membuat kotak sebelah kiri sabuknya bergeser lebih ke kiri. Tali itu melewati bagian dalam jaket Kagami dan menyatu di tengah-tengah belakangnya. Setelahnya, Kagami mengambil selembar kartu putih bergambar 'Dhroid Crest' dari dalam kotak sebelah kiri sabuknya.

"Henshin!!" seru Kagami seraya memasukkan kartu tersebut ke dalam lubang kotak tipis yang ada di atas Dhroiddrive.

Permata Dhroiddrive pun mengeluarkan sinar biru yang memancar hingga 1,5 meter ke depan dan mengeluarkan bayangan hologram seperti tubuh manusia seukuran tubuh Kagami yang berdiri tegak dan secara keseluruhan berwarna biru dengan lekukan-lekukan yang membentuk sesuatu dan tanduk pipih di kepalanya, satu pendek di tengah serta dua panjang di kanan dan kiri. Bayangan biru lalu mundur ke arah Kagami yang sedang berdiri tegak dan melapisi tubuhnya. Begitu semuanya terserap di tubuh Kagami, tubuh laki-laki itu pun berubah menjadi Kamen Rider Dhroider dengan syal biru di lehernya yang melambai-lambai ditiup angin.

"Hoo... Kamen Rider rupanya," ucap Elzoner.

Kagami yang sudah berubah menjadi Kamen Rider Dhroider pun berlari menuju Elzoner. Lalu ia melancarkan pukulan dan juga tendangan. Namun, Elzoner menghindari semua serangan Dhroider dengan mudah.

Ketika melihat celah pada pertahanan Dhroider, Elzoner langsung menendang perut Dhroider dengan keras hingga Dhroider terlempar sejauh 3 meter ke belakang dan jatuh ke tanah.

"Kuat sekali dia," ucap Dhroider sambil berusaha bangun. Setelah berdiri secara sempurna, ia pun berlari lagi ke arah Elzoner dan melancarkan tinjuan ke perut Mechaster itu.

Elzoner cuma mengelak tipis ke samping, membuat tinju tersebut hanya mengenai angin.

"Rrreeeaaa!!!" Dhroider pun marah. Ia melepaskan tendangan berantai dengan kedua kakinya secara bergantian.

Namun, semua serangan itu tidak ada artinya bagi Elzoner. Ia terus menerus menghindarinya dengan sangat tenang.

Sampai pada akhirnya, Elzoner mengepalkan tangan kanannya. Tangan kanan yang langsung diselimuti oleh api tersebut ia hantamkan ke dada Dhroider.

Tak pelak, Dhroider pun terlempar sejauh 5 meter dan kembali ke wujud semula, Kagami Higashi. Darah mengalir cukup deras dari mulutnya.

"Khuh, matilah kau!" ucap Elzoner. Tubuhnya berubah menjadi hologram lalu menghilang.

Jeth keluar dari tempat persembunyiannya dan menghampiri ayahnya yang sudah tak berdaya.

"Ayah, ayah tidak apa-apa?" tanya Jeth.

"J-J-Jeth... Sepertinya ayah s-sudah t-tidak kuat lagi," jawab Kagami.

"Ayah! Ayah pasti kuat ayah! Aku tahu siapa ayah!"

Kagami menggeleng. "Sepertinya, umur ayah s-s-sampai di-di sini saja."

"Ayah! Apa yang ayah bicarakan!? Ayah harus bertahan! Aku akan panggil dokter!"

"Tidak perlu, Jeth. Umur ayah memang. Ukh! S-sampai di-di sini."

Air mata Jeth menetes. "Tidak ayah! Ayah harus bertahan!"

Kagami melepas Dhroiddrive dari pinggangnya dan memberikannya pada Jeth. "Ambil itu! Uhuk! Itu milikmu sekarang."

Jeth mengambil benda itu. "Siapa nama Mechaster tadi?"

"Elzoner," jawab Kagami. Matanya lalu menutup.

"Ayah! Bangun ayah!" Jeth menggoncang-goncangkan tubuh Kagami.

Namun, tubuh Kagami tidak memberikan respon sama sekali. Ketika diperiksa, Kagami sudah tidak bernapas dan denyut jantung serta nadinya berhenti. Kagami telah menghembuskan napas terakhirnya.

"AYAAAAAHHH!!!" teriak Jeth sambil memeluk ayahnya dan menatap langit. Itu adalah hari terakhirnya bersama ayahnya. Sejak saat itu, Jeth bersumpah akan mencari dan membunuh Elzoner dengan kedua tangannya sendiri.

Jeth akhirnya latihan beladiri seorang diri demi menjadi lebih kuat lagi untuk membalaskan dendamnya.

Tahun demi tahun pun berlalu. Di masa remajanya, tempat Jeth biasa bekerja sambilan dari dia baru duduk di Sekolah Dasar sudah tutup. Ia putus asa dan tak tahu harus bekerja di mana lagi. Ijazah pun tak punya. Semenjak ayahnya meninggal ia tak mampu melanjutkan sekolah. Uang hasil ia bekerja hanya cukup untuk makan, bayar iuran listrik, iuran air, dan kebutuhan hidup lainnya. Ia sudah berkeliling mencari pekerjaan baru, namun hasilnya nihil.

Jeth yang tengah putus asa duduk di sebuah warung pinggir jalan. Ia memesan sekaleng es jeruk. Saat ini, ia mengenakan busana seperti yang dulu dikenakan ayahnya. Sesekali, ia melirik pria berbadan besar dan berpakaian serba hitam yang duduk di sebelah kirinya. Orang yang di sekujur tubuhnya memiliki 'tatto' itu tengah fokus dengan handphone bercasing hitamnya. Jeth yang penasaran pun melirik lebih dekat. Rupanya pria itu sedang memainkan sebuah game pertarungan.

"Suka game Armored Kamen juga ya, tuan?" sapa Jeth.

Orang itu berhenti memainkan handphonenya sebentar, lalu menatap Jeth. Bibirnya yang kecil itu tersenyum dan mengangguk. Wajahnya kotak dengan rambut 'punk', matanya sipit, alisnya tipis, hidungnya sedikit mancung, daun telinganya lebar, dan kulitnya cokelat.

"Wah, aku juga suka. Ngomong-ngomong, sudah stage berapa, tuan? Sudah dapat berapa karakter?" tanya Jeth.

"Sudah stage 80. Dan sudah mendapat 20 karakter lebih," jawab pria itu.

Jeth terkagum. "Waw! Hebat!!!"

Pria itu tersenyum. "Siapa namamu?" tanyanya.

Jeth mengulurkan tangannya pada pria itu. "Higashi Jeth. Panggil saja Jeth."

Pria itu menyambutnya, bersalaman dengan Jeth. "Tetsuya Saito. Panggil saja Saito."

"Um!" angguk Jeth.

"Ngomong-ngomong, apa yang kau lakukan disini?"

"Habis mencari pekerjaan. Tapi tidak ada satu pun yang mau menerima orang sepertiku." Jeth tertunduk.

Dahi Saito mengernyit. "Lho, kenapa??"

"Aku ... Tidak punya ijazah sama sekali."

"Hoo... Kalau begitu bagaimana jika kau ikut bekerja denganku?"

Mata Jeth langsung berbinar. "Serius???"

Saito mengangguk.

"Lalu pekerjaannya apa?"

"Anggota yakuza," bisik Saito.

Jeth terkejut. "Ya-yakuza?? Bagaimana ya ..."

"Mau atau tidak? Kebetulan hari ini sedang diadakan turnamen dalam rangka pemilihan ketua baru sebagai penggantiku. Kalau kau berminat, kau bisa ikut."

"K-kau ketua yakuza?"

"Begitulah."

Jeth pun berpikir cukup lama. Yakuza adalah pekerjaan kotor di Jepang yang berisi Orang-orang kuat dan bengis yang suka merampas hak orang lain secara paksa serta menindas demi mendapatkan uang. Jeth merasa bimbang. Di sisi lain, yakuza adalah pekerjaan yang nista. Tapi, di sisi lain pula Jeth sangat membutuhkan uang untuk menyambung hidup. Akhirnya, Jeth pun mengangguk, menyetujui perkataan orang itu.

"Baiklah. Aku berminat. Dan aku juga berminat ikut turnamen yang kau bilang. Siapa tahu dapat hadiah besar. Dan apa ketua yakuza itu memiliki banyak uang daripada anggota yang lain?" tanya Jeth.

"Benar." Angguk Saito. "Jika memenangkan turnamen akan mendapat hadiah besar. Dan ketua yakuza memiliki lebih banyak uang dibanding yang lain. Karena anggota yang setiap anggota lain mendapatkan uang, uangnya harus disetor ke ketua dan pendiri. Pangkat ketua itu hanya sedikit di bawah pendiri."

"Ooh...." Angguk Jeth.

"Baiklah. Sekarang ikut denganku!" ajak Saito sambil berdiri dari bangku.

Jeth pun berdiri dari bangku. Lalu berjalan mengikuti Saito menuju motor 'harley' hitam yang terparkir tak jauh dari sana.

Saito naik ke motor harley tersebut dan mengenakan helm hitam yang tergeletak di atas motor. "Apa kau tidak punya kendaraan?"

"Sedang di bengkel," jawab Jeth.

"Baiklah, ayo naik!" perintah Saito.

Jeth mengangguk lalu naik ke jok belakang motor Saito.

Setelah distarter, motor Saito pun melaju meninggalkan tempat itu.

Saito mengajak Jeth ke sebuah rumah yang ada di tengah hutan yang merupakan markas gerombolan yakuza bernama 'Wind Power'. Di markas itu, tengah berlangsung sebuah duel untuk menentukan siapa yang pantas menjadi ketua baru perkumpulan yakuza tersebut, seperti yang dikatakan Saito. Dan Jeth muncul sebagai penantang baru. Meski penantang baru, Jeth berhasil menang di pertandingan pertamanya. Ia mampu menghabisi lawannya hanya dalam waktu tiga menit.

Waktu pun berlalu. Duel demi duel telah dilewati. Tak disangka Jeth berhasil masuk ke pertandingan final melawan seorang mantan tentara yang beladirinya sangat hebat dan memiliki tubuh dua kali lipat tubuh Jeth. Dan puncaknya, Jeth berhasil memenangkan pertandingan itu. Ia pun diangkat menjadi ketua Wind Power. Dan sampai sekarang, ia bekerja di dunia hitam tersebut. Ia juga sering disewa sebagai tukang pukul sampai pembunuh bayaran oleh berbagai jenis orang hingga para pejabat korup. Itu semua Jeth lakukan demi menghidupi dirinya. Namun, pekerjaan itu membuat Jeth gila pertarungan serta tumbuh menjadi orang yang kejam dan kasar. Ia bertarung untuk bersenang-senang, termasuk melawan para Mechaster sebagai Kamen Rider penerus ayahnya, tanpa melupakan dendamnya pada Mechaster pembunuh ayahnya itu yang sampai sekarang belum ia temukan.

-Flashback selesai-

"Apa Matsuyama Ariel Si Jagoan Anti Bully itu ... Ada hubungan saudara dengan Professor Matsuyama Ren?" Jeth memegangi dagunya. "Hmm ... Tapi banyak orang yang bermarga sama, jadi belum tentu."

Jeth kemudian berdiri, berjalan menuju di mana sebuah sepeda motor biru terparkir. Motor itu adalah motor warisan Kagami. Setelah menaikinya, Jeth memakai helm full face berwarna biru--milik ayahnya dulu--yang ia ambil dari atas badan bagian depan motor, kemudian menstarter motor itu dan pergi meninggalkan pemakaman.
To Be Continued